Tragedi Kanjuruhan, Pakar UM Surabaya: Gas Air Mata Langgar Kode Etik FIFA

Tragedi Kanjuruhan, Pakar UM Surabaya: Gas Air Mata Langgar Kode Etik FIFA

Anisa Rizki - detikEdu
Senin, 03 Okt 2022 09:00 WIB
Police officers and soldiers stand amid tear gas smoke after clashes between fans during a soccer match at Kanjuruhan Stadium in Malang, East Java, Indonesia, Saturday, Oct. 1, 2022. Panic following police actions left over 100 dead, mostly trampled to death, police said Sunday. (AP Photo/Yudha Prabowo)
Foto: AP/Yudha Prabowo/kerusuhan di kanjuruhan
Jakarta -

Kerusuhan usai pertandingan Arema FC vs Persebaya di Stadion Kanjuruhan, Malang pada Sabtu (1/10/22) menelan 130 korban jiwa tewas berdasarkan data sementara per Minggu (2/10) pagi.

Kekalahan tim Arema FC dari Persebaya memicu supporter turun ke lapangan usai pertandingan. Demi mengamankan para pemain, pihak keamanan menembakkan gas air mata untuk membubarkan massa yang turun ke lapangan.

Sayangnya, gas air mata tersebut justru membuat supporter mengalami sesak napas hingga jatuh pingsan ketika berebut untuk keluar dari Stadion Kanjuruhan.

Kandungan Bahan Kimia pada Gas Air Mata

Penggunaan gas air mata dalam kericuhan di Kanjuruhan Malang turut menuai respon dari Dede Nasrullah selaku dosen Fakultas Ilmu Kesehatan (FIK) Universitas Muhammadiyah (UM) Surabaya turut memberikan respons.

Menurutnya gas air mata mengandung sejumlah bahan kimia, salah satunya adalah chloroacetophenone (CN) dan chlorobenzylidenemalononitrile (CS).

"Paparan bahan kimia tersebut secara langsung dapat menyebabkan iritasi pada mata, sistem pernapasan, dan kulit," ujar Dede dikutip dari laman resmi UM Surabaya pada Minggu (2/10/2022).

Ia mengatakan, senyawa CS biasanya diformulasikan dengan beberapa bahan kimia, terutama pelarut metil isobutil keton (MIBK) yang digunakan sebagai pembawa.

Senyawa CS ini berhubungan dengan reseptor syaraf yang dapat menyebabkan rasa nyeri. Kemudian, ketika gas air mata terpapar di kulit terutama pada bagian wajah dan mata akan menimbulkan rasa perih dan pedih.

"Selain itu gas air mata dapat juga menimbulkan rasa gatal pada kulit, panas, dan penglihatan kabur. Gejala lainnya yaitu terkait dengan pernapasan dapat dialami, seperti sulit bernapas, batuk, mual dan muntah," jelas Dede.

Langkah Penanganan Ketika Terkena Gas Air Mata

Adapun Dede juga menjelaskan ada beberapa langkah penanganan yang bisa dilakukan saat seseorang terkena gas air mata, yaitu:

1. Ketika terkena gas air mata seseorang bisa menyiram dengan air bersih yang mengalir karena air ini dapat menurunkan konsentrasi senyawa CS dalam formulasi.

2. Tutup dengan rapat hidung, mata dan mulut bisa dengan menggunakan masker untuk meminimalisir terhirupnya gas tersebut.

3. Langsung mengganti pakaian yang telah terkontaminasi dan jangan sampai terkena atau menyentuh anggota tubuh.

4. Segera menjauh dari area yang terpapar gas air mata.

5. Carilah pertolongan medis jika masih ada efek akibat gas air mata setelah 20 menit atau mengalami sesak napas.

Gas Air Mata Langgar Kode Etik Keamanan FIFA

Dede menekankan bahwa pengamanan dengan menggunakan gas air mata tersebut adalah pelanggaran kode etik keamanan FIFA.

Terlebih, dampak dari gas air mata dengan kondisi stadion yang sangat penuh mengakibatkan sesak napas dan suasana yang tidak kondusif. Seharusnya pihak berwajib dapat melakukan tindakan pengamanan yang lainnya.

"Semoga dengan kejadian ini dapat menjadi pelajaran bagi kita semua sehingga sepak bola di Indonesia menjadi lebih baik lagi dan tidak ada kejadian serupa karena pada hakikatnya nyawa harus lebih dipentingkan dari segala galanya," tukas dosen UM Surabaya itu.



Simak Video "Detik-detik Kerusuhan di Stadion Kanjuruhan Malang, 127 Orang Tewas"
[Gambas:Video 20detik]
(faz/faz)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

Ranking PTN

Berikut daftar 5 Perguruan Tinggi terbaik Indonesia