5 Fakta DN Aidit, Sosok Religius yang Dieksekusi usai Tragedi G30S PKI

5 Fakta DN Aidit, Sosok Religius yang Dieksekusi usai Tragedi G30S PKI

Devi Setya - detikEdu
Kamis, 29 Sep 2022 11:00 WIB
Zentralbild Ulmer 12.7.1958. V. Parteitag der SED vom 10. bis 16.7.1958 in der Werner-Seelenbinder-Halle, Berlin, 3. Tag: UBz: Eine beeindruckende Solidarittsbekundung des Parteitages fr die konsequent- und erfolgreich fr die volle Gewhrleistung der Unabhngigkeit ihres Landes kmpfenden Kommunisten Indonesien erlebte die Werner-Seelenbinder-Halle whrend der Grussansprache des Generalsekretrs der KP Indonesiens, D. N. Aidit.
Foto: DN Aidit tahun 1958 (Bundesarchiv/Ulmer, Rudi via Wikimedia Commons)
Jakarta -

DN Aidit yang memiliki nama lengkap Dipa Nusantara Aidit merupakan sosok yang tidak bisa lepas dari peristiwa G30S PKI. Ia dianggap sebagai orang yang paling bertanggung jawab atas tewasnya 7 Pahlawan Revolusi. Bagaimana sosok DN Aidit?

DN Aidit adalah pemimpin Partai Komunis Indonesia (PKI) terakhir. Di bawah kendali DN Aidit, PKI menjelma menjadi salah satu kekuatan politik besar. Pada Pemilu 1955, PKI menempati posisi keempat setelah PNI, Masyumi, dan NU dengan meraih 16,4 persen suara.

Sosok DN Aidit juga membawa PKI menjadi partai yang memiliki banyak pengikut. Pada tahun 1960-an, PKI mengklaim punya anggota lebih dari 3 juta. Jumlah anggota partai ini membuatnya menjadi partai komunis terbesar ketiga di dunia setelah RRC dan Uni Soviet pada masa itu.

Kesuksesan DN Aidit membawa PKI menjadi partai besar kemudian runtuh seketika setelah terjadi G30S PKI, peristiwa yang menjadi salah satu sejarah kelam bangsa Indonesia.

Fakta DN Aidit

1. Memiliki Nama Asli Ahmad Aidit

Dikutip dalam buku Politik Dipa Nusantara, Satriono Priyo Utomo menceritakan jalan hidup Dipa Nusantara Aidit atau DN Aidit. Dikisahkan bahwa sebelumnya, nama DN Aidit adalah Ahmad Aidit, Ahmad yang berarti Muhammad.

Nama Dipa Nusantara Aidit dipilihnya karena mengikuti nama idolanya, yaitu Pangeran Diponegoro. Ia mengubah namanya pada tanggal 30 Juli 1932.

2. Dikenal sebagai Muazin Kampung

Pria kelahiran Belitung, 30 Juli 1923 ini lahir dan besar di lingkungan keluarga muslim yang taat. DN Aidit yang akrab disapa 'Amat' saat masih kecil ini dikenal sebagai muazin di kampungnya, Desa Pangkal Lalang.

"Semasa kecil, ia diajar mengaji oleh pamannya, Abdurrahim hingga akhirnya, ia menjadi muazin di kampungnya," ujar Satriono saat melakukan bedah buku berjudul Politik Dipa Nusantara.

3. Berkontribusi terhadap Kemerdekaan RI

Sebelum Indonesia merdeka, DN Aidit memiliki kontribusi terhadap upaya kemerdekaan. Ia disebut berasal dari keluarga berkecukupan, tetapi banyak bersentuhan dengan kaum buruh.

DN Aidit juga tergabung dalam gerakan perlawanan terhadap kolonialisme di angkatan muda. Satriono menerangkan, DN Aidit adalah salah seorang yang berjasa atas terlaksananya kemerdekaan melalui gerakan pemudanya. Ada bantuan signifikan darinya sewaktu Soekarno hendak berpidato di Lapangan Ikada pada 19 September 1945 untuk menyebar berita kemerdekaan kepada rakyat.

4. Sosok yang Militan

Dalam buku 100 Tokoh yang Mengubah Indonesia karya Floriberta Aning S, disebutkan bahwa DN Aidit dikenal sebagai sosok militan.

Karier DN Aidit di PKI mulai tersorot pada akhir 1950-an karena sukses menyingkirkan tokoh-tokoh komunis tua dari partai. Aidit dan kelompoknya juga berhasil mengubah kiblat PKI dari Rusia ke RRC.

Aidit membangun PKI secara militan. Ia menggunakan pendekatan akar rumput, yaitu dengan membentuk organisasi mantel dan menempatkan kader-kadernya dalam berbagai organisasi profesi, bahkan di tubuh militer.

DN Aidit juga terbilang sukses dalam mendekati Presiden Sukarno.

DN Aidit sempat menjabat sebagai Menteri Koordinator dan Wakil Ketua MPRS. Ia pun pandai melakukan negosiasi dan melobi orang-orang. Hal ini terbukti dari keberhasilannya melobi Sukarno agar mengangkat orang-orang PKI di jajaran pemerintahan.

5. Dieksekusi usai Tragedi G30S PKI

Peristiwa G30S PKI membuat DN Aidit diburu secara besar-besaran. Pasukan tentara di bawah komando Kolonel Yasir Hadibroto, Komandan Brigade IV Infanteri, mendapatkan informasi bahwa DN Aidit, bersembunyi di Sambeng pada 22 November 1965.

Setelah ditangkap di Solo, DN Aidit kemudian dieksekusi mati di Boyolali. Yasir membawa DN Aidit ke Markas Batalyon 444.

DN Aidit kemudian ditembak di depan sebuah sumur tua yang berlokasi di belakang Markas Batalyon 444 Boyolali. Jenazah DN Aidit diyakini berada di dasar sumur tua.



Simak Video "Lukas Tumiso, Eks Tapol Penyintas Pulau Buru"
[Gambas:Video 20detik]
(dvs/twu)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

Ranking PTN

Berikut daftar 5 Perguruan Tinggi terbaik Indonesia