Momen Penangkapan DN Aidit di Solo usai Peristiwa G30S PKI

Devi Setya - detikEdu
Selasa, 27 Sep 2022 14:30 WIB
Zentralbild Ulmer 12.7.1958. V. Parteitag der SED vom 10. bis 16.7.1958 in der Werner-Seelenbinder-Halle, Berlin, 3. Tag: UBz: Eine beeindruckende Solidarittsbekundung des Parteitages fr die konsequent- und erfolgreich fr die volle Gewhrleistung der Unabhngigkeit ihres Landes kmpfenden Kommunisten Indonesien erlebte die Werner-Seelenbinder-Halle whrend der Grussansprache des Generalsekretrs der KP Indonesiens, D. N. Aidit.
Foto: DN Aidit tahun 1958 (Bundesarchiv/Ulmer, Rudi via Wikimedia Commons)
Jakarta -

DN Aidit tak bisa lepas dari peristiwa G30S PKI. Sebagai pemimpin Partai Komunis Indonesia (PKI), DN Aidit ditangkap di Solo, Jawa Tengah.

Pemilik nama lengkap Dipa Nusantara Aidit ini harus mempertanggungjawabkan tragedi yang menewaskan 6 jenderal TNI AD yang kemudian jenazah mereka ditimbun di sumur tua yang berlokasi di Lubang Buaya, Jakarta Timur.

DN Aidit ditangkap di kampung yang terletak tidak jauh dari Stasiun Balapan Solo, tepatnya di Desa Sambeng, Mangkubumen, Banjarsari. Momen penangkapan DN Aidit terjadi pada Senin dini hari, 22 November 1965.

Dirangkum dari data detikcom, DN Aidit ditangkap oleh pasukan tentara yang saat itu juga turut menahan beberapa warga sekitar. Seorang saksi mata bernama Prapto menceritakan kejadian penangkapan pentolan PKI ini.

Prapto yang saat ini berusia 70 tahun merupakan Warga Sambeng RT 02 RW 03, Mangkubumen, Banjarsari. Dia ingat betul saat pasukan tentara mendatangi kampungnya. Sekelompok tentara kemudian membawa warga ke suatu tempat untuk diinterogasi.

DN Aidit ditangkap di rumah warga

Pasukan tentara di bawah komando Kolonel Yasir Hadibroto, Komandan Brigade IV Infanteri, mendapatkan informasi bahwa DN Aidit, bersembunyi di Sambeng. Mereka pun menggeledah rumah yang ditinggali Kasim.

"Semua laki-laki dibawa tentara, dikumpulkan, disuruh jongkok, tangannya di atas kepala. Saya sempat ditodong senapan di dada saya, tapi saya tidak dibawa karena masih 12 tahun saat itu," kata Prapto.

Meskipun tak ikut dibawa karena usianya masih muda, tetapi ayah Prapto menjadi salah satu warga yang diamankan. Selang beberapa hari, ayah Prapto kembali pulang karena terbukti tidak terlibat dalam persembunyian DN Aidit.

Prapto termasuk beruntung karena ayahnya bisa segera pulang. Saat itu banyak warga yang tidak pulang, bahkan ada yang pulang dalam hitungan tahun.

Warga kampung tak ada yang kenal DN Aidit

Meskipun berada di kampung Sambeng, warga tak ada yang mengenal DN Aidit. Bahkan warga pun tak ada yang mengetahui keberadaan maupun waktu kedatangan DN Aidit di rumah salah satu warga.

"Itu kan rumah Bu Harjo, dikontrak Pak Kasim, katanya itu temannya Aidit. Tapi orang sini tidak tahu kapan datangnya," kata Prapto.

Dalam persembunyiannya, DN Aidit dikabarkan berada di dalam lemari. Beberapa sumber mengatakan bahwa DN Aidit sempat dilindungi oleh Kasim, namun setelah dicecar, Kasim akhirnya memberitahu keberadaan DN Aidit.

Solo menjadi basis kekuatan PKI

Tak banyak yang tahu mengapa DN Aidit memilih kota Solo sebagai lokasi persembunyiannya. Namun saat itu diketahui fakta bahwa Solo dikenal sebagai kawasan dengan banyak simpatisan PKI.

Bahkan Wali Kota Solo saat itu, Utomo Ramelan, juga disebut dari PKI. Namun, pada akhir masa PKI, Utomo dan DN Aidit berbeda pendapat mengenai revolusi.

Utomo Ramelan masuk dalam kelompok PKI radikal yang pro terhadap revolusi. Sementara DN Aidit termasuk dalam kelompok moderat yang ingin menyelamatkan PKI yang diambang kebinasaan.

Dalam buku Kudeta 1 Oktober 1965: Sebuah Studi tentang Konspirasi (2005) menuliskan bahwa Aidit menuju ke Semarang, Boyolali, dan Solo pada 2 Oktober 1965. Tak lama setelah peristiwa G30S PKI di Jakarta.

Kini rumah bekas penangkapan DN Aidit telah dibeli oleh warga bernama Andrianto. Bangunan lama yang sudah lapuk kemudian diratakan dengan tanah untuk dibangun rumah yang baru.

Eksekusi mati DN Aidit

Setelah ditangkap di Solo, DN Aidit kemudian dieksekusi mati di Boyolali. Yasir membawa DN Aidit ke Markas Batalyon 444.

Dini hari pada November 1965, DN Aidit ditembak di depan sebuah sumur tua yang berlokasi di belakang Markas Batalyon 444 Boyolali. Jenazahnya diyakini berada di dasar sumur tua.



Simak Video "Lukas Tumiso, Eks Tapol Penyintas Pulau Buru"
[Gambas:Video 20detik]
(dvs/nwy)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

Ranking PTN

Berikut daftar 5 Perguruan Tinggi terbaik Indonesia