Belajar dari Pakar

Menikmati Matematika dan Secangkir Kopi

Rachmat Hidayat - detikEdu
Kamis, 29 Sep 2022 07:30 WIB
Rachmat Hidayat
Rachmat Hidayat
Rachmat Hidayat adalah grand mentor di Ngajimatematika. Seorang guru matematika yang sekarang diamanahi menjadi kepala sekolah di SMP AL FURQAN MQ TEBUIRENG. Pemerhati pendidikan matematika di Indonesia
Kopi dan usus
Foto: Getty Images/Menikmati Matematika dan Secangkir Kopi
Jakarta -

Saya selalu ingat bagaimana perasaan saya ketika mencicipi kopi untuk pertama kalinya. Pahit. Orang macam apa yang mau minum minuman dengan warna hitam pekat dan rasa pahit yang mencekat. Tapi anehnya saya malah tidak merasa kapok. Di waktu lain entah mengapa pahit yang semula saya rasakan sedikit berkurang. Ada sedikit rasa gurih ditambah sedikit rasa manis yang diam-diam bersembunyi. Ternyata benar bahwa rasa dalam secangkir kopi tak pernah ingkar janji.

Perasaan yang sama muncul saat saya pertama kali dengan serius belajar matematika. Orang macam apa yang mau bersusah payah mengerjakan soal yang bahkan tidak mereka butuhkan dalam hidupnya. Kalau toh dibutuhkan, sudah ada kalkulator atau komputer, mengapa orang-orang ini merepotkan diri sendiri untuk menyelesaikan soal yang seringkali mereka buat sendiri. Tapi anehnya, sama seperti pengalaman mencicipi kopi, ada sedikit perasaan berbeda ketika saya berhasil mengerjakan satu soal. Ada kepuasan dan kebanggaan ketika usaha saya ternyata tidak sia-sia. Sebagaimana kopi, kebenaran matematika juga tak pernah ingkar janji.

Semakin saya belajar matematika saya paham ternyata ada cukup banyak kesamaan antara mengerjakan matematika dan menikmati secangkir kopi. Saya akan coba jelaskan sesederhana mungkin. Semoga dengan itu, anda juga dapat menikmati matematika sebagaimana anda menikmati kopi anda.

Nikmati Perlahan

Semua penikmat kopi pasti paham, bahwa kopi harus dinikmati perlahan. Mengapa? Pertama, kopi sering kali disajikan dalam kondisi panas. Tidak mungkin menenggak kopi panas secara langsung. Kedua, kopi itu pahit. Itu fakta. Oleh karenanya bila kita menenggaknya secara langsung maka rasa pahit itu akan berkumpul menjadi satu dan menjadi getir di lidah dan tenggorokan.

Lain halnya jika kopi diminum perlahan-lahan. Panas kopi akan berangsur turun. Kehangatannya akan perlahan meresap menjadi kehangatan di tubuh kita. Dengan mencicipinya secara perlahan pahit kopi juga lebih dapat ditolerir. Kita memberikan waktu pada lidah kita untuk beradaptasi. Ia akan perlahan menemukan rasa manis, asam, gurih, dan banyak sensasi rasa lainnya yang terselip di balik pahitnya.

Begitu pula menikmati matematika. Tak ada satupun orang yang terlahir dengan otak yang berisi sekumpulan rumus atau persamaan matematika. Tak ada orang yang mampu belajar aljabar dalam satu hari. Sekalipun Euler atau Gauss tetap butuh waktu untuk belajar matematika. Sebab pengetahuan dalam matematika terkait satu dengan yang lainnya. Misal sebelum belajar aljabar, seseorang harus belajar bilangan.

Mempelajari matematika itu harus perlahan. Dimulai dari apa yang mudah, yang bisa kita lihat bentuk konkretnya. Itu sebabnya kita belajar menghitung menggunakan jari kita. Tidak langsung menggunakan angka-angka. Kita belajar mengukur panjang sebelum belajar tentang luas. Setiap tahapannya harus dilalui dengan perlahan. Pastikan ada cukup waktu bagi otak kita untuk menyerap semua pengetahuan atau keterampilan matematika yang sudah kita pelajari. Terburu-buru hanya akan menjadikan konsep matematika saling tumpang tindih dan rapuh.

Klik halaman berikutnya

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

Ranking PTN

Berikut daftar 5 Perguruan Tinggi terbaik Indonesia