5 Akhir Pandemi Sepanjang Sejarah, Ada yang Lahirkan Karantina dan Vaksin

5 Akhir Pandemi Sepanjang Sejarah, Ada yang Lahirkan Karantina dan Vaksin

twu - detikEdu
Senin, 26 Sep 2022 11:15 WIB
Dokter dan para ilmuwan pada era pandemi Black Death dipercaya memakai kostum yang mirip burung aneh. Mereka juga dijuluki sebagai malaikat maut.
Ilustasi wabah Black Death. Foto: Wikipedia
Jakarta -

WHO menegaskan bahwa pandemi COVID-19 belum selesai. Kendati sebelumnya WHO menyatakan bahwa akhir pandemi mulai terlihat, perjalanan menuju akhir pandemi masih panjang.

"Kita telah menghabiskan dua setengah tahun di terowongan yang panjang dan gelap, dan kita baru saja mulai melihat cahaya di ujung terowongan itu," kata Direktur Jenderal WHO Tedros Adhanom Ghebreyesus, dikutip dari detikHealth, Senin (26/9/2022).

"Masih jauh, dan terowongannya masih gelap, dengan banyak rintangan yang bisa membuat kita tersandung jika kita tidak berhati-hati," imbuh Tedros.

Sebelumnya, sejumlah akhir pandemi dalam sejarah memicu lahirnya inisiatif medis dan perkembangan kesehatan masyarakat yang mampu menghentikan penyebaran penyakit. Dilansir dari History, berikut di antaranya:

Akhir Pandemi dari Masa ke Masa

1. Wabah Justinian

Bakteri Yersinia pestis, sebelumnya Pasteurella pestis, adalah bakteri yang bertanggung jawab atas Wabah Justinian, salah satu dari tiga pandemi paling mematikan dalam sejarah.

Wabah Justinian menyebar di Konstantinopel, Ibu Kota Kekaisaran Bizantium, pada tahun 541. Bakteri wabah ini menunggangi kutu dari tikus hitam pemakan biji-bijian di kapal-kapal asal Mesir yang dibawa melalui Laut Mediterania.

Wabah ini menghancurkan Konstantinopel, menyebar ke ke penduduk Eropa, Asia, Afrika Utara, dan Arab, dengan sekitar 30 juta - 50 juta korban jiwa.

Dosen Sejarah DePaul University Thomas Mockaitis meuturkan, orang di masa itu belum memiliki pemahaman dalam mengatasi wabah. Karena itu, orang-orang yang sehat hanya menghindari orang sakit.

"Mengenai bagaimana wabah itu berakhir, diduga bahwa mayoritas orang di pandemi bertahan hidup dengan tumbuhnya kekebalan," kata Mockaitis.

2. Black Death

Pandemi kembali menyebar di Eropa dalam nama Black Death pada 1347. Wabah Black Death mengakibatkan sekitar 25 juta korban jiwa, sementara sejumlah sejarawan memperkirakan korban jiwa mencapai 200 juta orang.

Di pandemi ini, orang-orang belum benar-benar mengerti bagaimana penyebarannya terjadi. Namun, penduduk mulai paham atas pengaruh jarak seseorang yang berpotensi menularkan penyakit dengan si sehat.

Karena itu, pemerintah di kota pelabuhan Ragusa yang dikelola Venesia memutuskan untuk mengisolasi pelaut-pelaut yang baru menepi sampai terbukti tidak sakit atau terjangkit wabah.

Isolasi tersebut semula berbentuk menetap di kapal selama 30 hari. Aturan ini dikenal di hukum Venesia sebagai trentino. Seiring waktu, kewajiban isolasi ditingkatkan menjadi 40 hari, atau quarantino. Inilah asal-usul kata karantina di pandemi.

Bentuk karantina ini, kata Mockaitis, kelak terbukti punya dampak pada berkurangnya penyebaran wabah.

3. The Great Plague of London

London mengalami wabah hampir setiap 10 tahun sekali setelah wabah Black Death dari tahun 1348 sampai 1665. Tiap epidemi wabah baru membuat 20 persen laki-laki, perempuan, dan anak-anak di London meninggal.

Di tengah terjadinya wabah, Inggris mewajibkan hukum isolasi yang sakit dan pemisahannya dengan penduduk yang sehat pada tahun 1500-an. Rumah orang yang terjangkit wabah ditandai dengan gantungan jerami di tiang luar rumah.

Sementara itu, jika punya anggota keluarga yang terinfeksi, seseorang harus membawa tiang putih saat bepergian ke tempat umum. Adapun kucing dan anjing saat itu disingkirkan karena dianggap membawa penyakit.

Wabah Besar tahun 1665 dinilai sebagai wabah terakhir yang terparah saat itu, dengan korban jiwa 100.000 warga London dalam 7 bulan. Karena itu, semua hiburan publik dilarang dan para korban dikurung di rumah untuk mencegah penyebaran penyakit.

4. Wabah Cacar

Butuh hampir sekitar 2 abad untuk mengatasi wabah smallpox atau cacar pada tahun 1980 kelak. Wabah cacar semula berkembang di Eropa, Asia, dan Arab. Tiga dari sepuluh pasien cacar meninggal, sementara pasien yang sembuh memiliki bekas luka cacar di tubuhnya.

Namun, wabah cacar lalu menyebar ke penduduk asli Meksiko dan Amerika Serikat modern yang belum memiliki kekebalan tubuh alami atas penyakit ini di abad ke-15. Sekitar 90-595 persen penduduk asli meninggal di Amerika, sementara 11 juta penduduk Meksiko tersisa 1 juta penduduk saja.

Di akhir abad ke-18, wabah cacar menjadi epidemi virus pertama yang diakhiri dengan keberadaan vaksin. Dokter Inggris Edward Jenner menemukan bahwa pemerah sapi yang terinfeksi virus cacar yang lebih ringan (cacar sapi) tampak kebal pada wabah cacar.

Jenner lalu menginokulasi anak tukang kebunnya yang berusia 8 tahun dengan cacar sapi, lalu mengeksposnya ke virus cacar, tetapi tidak muncul dampak buruk. Dari praktik ilegal pada anak manusia ini, vaksin cacar dikembangkan.

5. Kolera

Wabah kolera menyebar di Inggris pada abad ke-19 dengan puluhan ribu korban jiwa. Kolera yang membunuh korbannya dalam beberapa hari setelah gejala pertamaa saat itu diduga muncul karena udara kotor 'miasma'. Namun, dokter Inggris John Snow menduga bahwa penyakit misterius tersebut mengintai dari air minum di London.

John Snow menyelidiki catatan rumah sakit dan laporan kamar jenazah. Ia pun membuat bagan geografis kematian akibat kolera dalam 10 hari terakhir. Dari situ, ia mendapat sekitar 500 infeksi mematikan muncul dari pompa air Broad Street, sumur kota yang umum digunakan untuk air minum.

Snow pun menyimpulkan bahwa ada kemungkinkan kontaminasi dari pompa air di Broad Street. Ia mencoba meyakinkan pejabat setempat agar membuka gagang pompa sumur agar penduduk tidak bisa memakainya. Dengan demikian, angka pandemi pun berangsur surut.

Dari upaya Snow, muncul upaya global untuk meningkatkan sanitasi perkotaan dan melindungi sumber air minum dari kontaminasi. Namun, kolera masih menjadi pembunuh di negara-negara yang pengolahan limbahnya belum baik dan akses ke air minum bersih yang masih buruk.



Simak Video "WHO: Wabah Cacar Monyet Masih Dapat Dibendung"
[Gambas:Video 20detik]
(twu/twu)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

Ranking PTN

Berikut daftar 5 Perguruan Tinggi terbaik Indonesia