ADVERTISEMENT

Pulau Rubiah Jadi Lokasi Pusat Karantina Haji Pertama di Indonesia, Ini Kisahnya

Devi Setya - detikEdu
Selasa, 14 Jun 2022 14:45 WIB
Situs Sejarah Karantina Haji di Pulau Rubiah Sabang
Bangunan yang dahulu menjadi pusat karantina haji Foto: (Agus Setyadi/detikcom)
Jakarta -

Banyak sejarah terukir di pulau paling ujung Barat Indonesia, Sabang. Di sini bahkan terdapat pusat karantina haji pertama di Indonesia. Namun saat ini hanya menjadi bangunan kosong, saksi bisu bahwa dahulu ada ribuan jamaah haji yang tinggal di sini.

Dilansir dari situs resmi Kementerian Agama (Kemenag) (13/6) gedung yang pernah menjadi pusat karantina haji ini terletak di tengah pulau Rubiah, Sabang. Lokasinya sekitar 150 meter dari dermaga pulau Rubiah yang juga terkenal sebagai surga snorkling bagi wisatawan.

Di area seluas 10 hektare ini awalnya berdiri beberapa gedung berukuran besar. Namun saat ini hanya tersisa dua bangunan saja. Semuanya lapuk dan hancur dimakan usia.

Dua bangunan yang tersisa ini pun tampak sudah tidak terawat. Masyarakat masa kini tak banyak yang tahu bahwa di area ini dahulu menjadi tempat berkumpulnya para muslim yang hendak berangkat ke tanah suci untuk menjalankan ibadah haji.

Dibangun pada masa kolonial

Sebelum Indonesia merdeka, sudah banyak umat muslim yang menjalankan ibadah haji. Di masa Hindia Belanda, jemaah haji yang akan berangkat dan pulang dari Makkah akan menetap dulu di pusat karantina selama lebih kurang 1 bulan.

Terdapat dua pusat lokasi karantina haji di masa itu, yaitu Pulau Rubiah di Aceh dan Pulau Onrust di Kepulauan Seribu, Jakarta. Bangunan di pusat karantina haji ini didirikan oleh pemerintah kolonial Belanda.

Pendiri Sabang Heritage Society (SHS), Albina Ar Rahman menjelaskan, pemerintah kolonial Belanda mendirikan pusat karantina haji untuk kepentingan ekonomi dan politik. Gedung karantina haji dibangun untuk menarik simpati masyarakat Aceh.

Ia menuturkan, Belanda tidak mau ambil pusing, seluruh jamaah haji yang baru pulang diwajibkan karantina hingga ditetapkan statusnya terbebas dari wabah penyakit.

Menjadi pusat karantina termewah

Pulau Rubiah menjadi pusat karantina bagi jamaah haji Aceh dan daerah lainnya di Sumatera. Sementara jamaah haji di pulau Jawa akan dikarantina di Pulau Onrust, Jakarta.

Pusat karantina haji Pulau Rubiah, Sabang, Aceh merupakan tempat karantina haji pertama di Indonesia dan termewah pada masanya. Bangunan ini sudah ada sejak tahun 1920.

Sayangnya kini pusat karantina haji ini hanya tinggal kenangan. Tim dari Kemenag yang mengunjungi lokasi ini pada 2019 lalu menemukan gedung tersebut sudah tidak terawat dan telah ditumbuhi ilalang di sekitarnya.

Teuku Yahya yang merupakan salah satu keturunan pemilik sebagian tanah di pulau Rubiah menceritakan, awalnya bangunan karantina haji yang dibangun pada zaman kolonial itu menyediakan berbagai fasilitas lengkap seperti penginapan, rumah sakit, laundri, kamar mandi dan listrik.

Saat itu, kata Yahya, gedung karantina haji juga merupakan tempat transit bagi jamaah haji yang akan berangkat ke tanah suci melalui jalur laut. Para jamaah terlebih dulu menginap di pulau Rubiah, baru nantinya akan diantar dengan kapal menuju kapal yang besar.

Jemaah haji akan singgah 1-2 bulan di pusat karantina

Sebelum berangkat ke tanah suci, para jamaah haji akan lebih dulu singgah di pusat karantina. Di sini ada berbagai kegiatan yang akan diikuti mulai dari manasik haji hingga pemeriksaan kesehatan.

"Proses pemberangkatan jemaah haji, setelah masuk karantina lebih kurang 1- 2 bulan sebelum keberangkatan dan kegiatan yang dilakukan dalam masa-masa karantina antara lain, manasik haji dan pemeriksaan kesehatan," jelas Yahya.

Demikian juga saat pulang dari tanah suci, jamaah haji juga akan lebih dulu menetap sekitar 40 hari di pusat karantina haji di Pulau Rubiah Sabang.

"Dulu belum ada vaksin seperti sekarang. Jadi orang yang pulang antar negara itu (dianggap) bawa pulang penyakit. Jadi harus dikarantina dan itu wajib," kata Albina.

Hanya jamaah yang lolos masa karantina yang bisa pulang ke rumah masing-masing. Artinya jamaah haji ini dinyatakan sehat dan bisa kembali ke daerah asalnya.

Berubah menjadi barak tentara Jepang

Pusat karantina haji ini kemudian berhenti beroperasi karena berubah fungsi menjadi barak tentara Jepang. Kedatangan Jepang di Indonesia juga menjadikan karantina haji di Aceh akhirnya terhenti.

Baru kemudian pada tahun 1944, Belanda kembali dan terjadi pertempuran dengan tentara Jepang sehingga beberapa bangunan pusat karantina haji hancur dihantam peluru Belanda.

"Jadi tidak semua bangunan itu hancur karena usia. Tapi dibom karena Belanda tahu Jepang bersembunyi dalam bangunan yang mereka dirikan," ujarnya.

Sejak saat itu, pulau Rubiah tidak lagi menjadi pusat karantina haji. Namun kota Sabang masih menjadi jalur pemberangkatan jamaah haji ke tanah suci hingga tahun 70-an melalui kampung haji.

Saat ini jamaah yang hendak berangkat haji akan menetap di Asrama Haji yang disediakan oleh pemerintah. Asrama haji ini berada di banyak tempat sehingga jamaah haji bisa dengan nyaman menunggu waktu keberangkatan ke tanah suci.

Nah Detikers itulah sejarah pulau Rubiah sebagai pusat karantina haji pertama di Indonesia. Semoga bisa menambah pengetahuan dan juga wawasan ya!



Simak Video "Mengintip Indahnya Bawah Laut Pulau Rubiah, Aceh"
[Gambas:Video 20detik]
(dvs/lus)

Ranking PTN

Berikut daftar 5 Perguruan Tinggi terbaik Indonesia