7 September Diperingati Hari Udara Bersih Internasional, Kurangi Polusi Udara

7 September Diperingati Hari Udara Bersih Internasional, Kurangi Polusi Udara

Devi Setya - detikEdu
Rabu, 07 Sep 2022 10:30 WIB
Polusi udara di Tangsel
ilustrasi kualitas udara di kota Jakarta Foto: Alethea Pricila/detikHealth
Jakarta -

Tanggal 7 September adalah International Day of Clean Air for Blue Skies atau Hari Udara Bersih Internasional untuk Langit Biru. Hari ini menjadi peringatan agar masyarakat dunia lebih peduli dengan kebersihan udara dan mengurangi polusi.

Polusi udara menjadi salah satu masalah global yang hingga saat ini belum berhasil diatasi. Padahal udara yang bersih adalah salah satu faktor yang menentukan kesehatan.

Dilansir dari National Today (7/9), Hari Udara Bersih ini menjadi peringatan bahwa polusi udara adalah satu-satunya ancaman lingkungan paling serius bagi kesehatan manusia. Polusi udara juga menjadi salah satu penyebab utama kematian dan berbagai penyakit. Meskipun demikian, hal ini sebenarnya dapat dicegah.

Semua kalangan bisa terkena dampak dari polusi udara, termasuk orang-orang yang rentan seperti anak-anak ataupun orang tua. Rusaknya udara bersih juga menjadi dampak buruk untuk kerusakan lingkungan.

Tujuan diperingati Hari Udara Bersih adalah untuk menyerukan dan menyatukan upaya menjaga kebersihan udara. Karena sejatinya, udara bersih adalah hak semua orang.

Sejarah Hari Udara Bersih Internasional

Dilansir dari unenvironment.org, Majelis Umum Hak Asasi Manusia PBB memberikan mandat kepada UN Environment Programme (UNEP) untuk mengkaji kewajiban HAM yang berhubungan dengan lingkungan yang sehat, aman, dan berkelanjutan. Dalam hal ini, UNEP bekerja sama dengan David R. Boyd, pelapor khusus untuk HAM dan Lingkungan.

Kemudian Majelis Umum PBB mengadopsi resolusi Hari Udara Bersih Internasional untuk langit biru pada 19 Desember 2019. Badan Kesehatan Dunia (WHO) bekerja sama dengan BreatheLife untuk mengadakan peringatan Hari Udara Bersih Internasional yang diperingati pada 7 September 2020. Peringatan ini sekaligus menjadi peringatan pertama Hari Udara Bersih Internasional.

Hari ini menjadi momentum untuk menggerakkan aksi melawan polusi udara dan perubahan iklim global. Hari Udara Bersih Internasional juga menjadi salah satu upaya untuk mempromosikan pentingnya udara bersih bagi kesehatan, efisiensi, ekonomi, dan lingkungan.

Tujuan Hari Udara Bersih Internasional

Dilansir dari laman resmi Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Probolinggo, ada banyak cara yang bisa dilakukan untuk meningkatkan kesadaran masyarakat akan dampak pencemaran udara. Berbagai upaya juga dapat dilakukan untuk meningkatkan kualitas udara bersih.

Tujuan dari peringatan Hari Udara Bersih Internasional tidak lain adalah untuk menyadarkan masyarakat global tentang pentingnya kualitas udara yang baik. Hal ini bisa dilakukan dengan berbagai upaya yang dimulai dari diri sendiri.

Pencemaran udara disebabkan oleh berbagai sumber seperti industri dan produksi energi, transportasi, aktivitas rumah tangga, kegiatan pertanian serta pengolahan limbah. Ada beberapa hal sederhana yang dapat dilakukan untuk mengurangi pencemaran udara, diantaranya adalah:

1. Penggunaan kendaraan yang ramah lingkungan

Transportasi adalah satu penyebab utama polusi udara di perkotaan. Kurangi penggunaan kendaraan bermotor, gunakan moda transportasi umum, atau pergi bersama dalam satu kendaraan (car pooling) dengan tetap memperhatikan protokol kesehatan untuk mengurangi risiko terpapar COVID-19.

Bersepeda atau berjalan kaki juga dapat menjadi alternatif apabila bepergian dalam jarak dekat. Dengan mengurangi penggunaan kendaraan bermotor, Detikers bisa ambil bagian untuk memperbaiki kualitas udara.

2. Penghematan Energi

Penggunaan peralatan yang memerlukan listrik, secara tidak langsung memberikan dampak pada kualitas udara. Menurut Indonesia Third National Communication tahun 2017, sektor ketenagalistrikan merupakan penyumbang emisi Gas Rumah Kaca terbesar.

Gunakan listrik seperlunya, matikan lampu dan peralatan elektronik bila tidak digunakan.

3. Penanaman pohon atau tanaman peneduh

Menanam tanaman merupakan cara paling baik untuk mengurangi polusi udara karena tanaman bisa menyerap udara kotor dan memproduksi oksigen yang dibutuhkan oleh manusia. Tanaman juga bisa membuat udara menjadi lebih sejuk dan nyaman.

4. Tidak membakar sampah

Berdasarkan data Statistik Lingkungan Hidup Indonesia Tahun 2018, sebanyak 66,8% rumah tangga masih membakar sampah. Pembakaran sampah merupakan sumber polusi yang dapat menyebabkan penyakit pernafasan dan menghasilkan gas rumah kaca.

Stop bakar sampah, mulailah kelola sampah dengan 3R (Reduce, Reuse, Recycle). Dengan cara ini, produksi sampah akhir juga akan berkurang.



Simak Video "Polusi Udara India 4 Kali Lebih Buruk dari Jakarta, Sekolah Diliburkan"
[Gambas:Video 20detik]
(dvs/lus)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

Ranking PTN

Berikut daftar 5 Perguruan Tinggi terbaik Indonesia