Kisah Nabi Musa Menghadapi Firaun dan Sosok Pendampingnya

Kisah Nabi Musa Menghadapi Firaun dan Sosok Pendampingnya

Rahma Harbani - detikEdu
Rabu, 24 Agu 2022 06:00 WIB
Biblical and religion vector illustration series, Moses held out his staff and the Red Sea was parted by God
Ilustrasi Nabi Musa AS. Ini kisahnya saat menghadapi Firaun. (Getty Images/iStockphoto/rudall30)
Jakarta -

Doa Nabi Musa AS dikenal muslim sebagai doa untuk memohon kemudahan dalam mengerjakan urusan. Doa ini termaktub dalam surah Taha ayat 25-28 yang berbunyi sebagai berikut.

رَبِّ ٱشْرَحْ لِى صَدْرِى وَيَسِّرْ لِىٓ أَمْرِى وَٱحْلُلْ عُقْدَةً مِّن لِّسَانِى يَفْقَهُوا۟ قَوْلِى

Bacaan latin: Rabbisyraḥ lī ṣadrī wa yassir lī amrī waḥlul 'uqdatam mil lisānī yafqahụ qaulī

Artinya: "Ya Rab-ku, lapangkanlah dadaku, dan ringankanlah segala urusanku, dan lepaskanlah kekakuan dari lidahku, agar mereka mengerti perkataanku."

Doa Nabi Musa AS dalam ayat tersebut kemudian dikabulkan Allah SWT yang dinyatakan dalam firmanNya pada surah Thaha ayat 36.

قَالَ قَدْ اُوْتِيْتَ سُؤْلَكَ يٰمُوْسٰى

Artinya: "(Allah) berfirman, "Sungguh, telah diperkenankan permintaanmu, wahai Musa."

Bukan tanpa alasan, doa tersebut dipanjatkan oleh Nabi Musa AS kepada Allah SWT saat dirinya harus menghadapi Firaun dalam menjalankan dakwahnya.

Mengutip Tafsir Qashashi Jilid II: Nabi Yusuf AS dan Nabi Musa AS oleh Syofyan Hadi, mulanya saat itu Allah SWT mengutus Nabi Musa AS agar Firaun kembali kepada jalan yang benar.

Sebab, diketahui, Firaun sudah mengklaim dirinya sebagai Tuhan. Beberapa kisah juga menyebutkan bahwa penguasa Mesir tersebut memperlakukan rakyatnya dengan kejam dan tanpa belas kasihan.

Setelah mendapat perintah dari Allah SWT untuk membimbing Firaun, Nabi Musa AS kemudian memohon agar diberi pendamping dalam menghadapi Firaun. Sosok yang diminta Nabi Musa sebagai pendampingnya untuk bernegosiasi adalah saudaranya sendiri yakni, Nabi Harun AS.

Sejumlah ahli tafsir berpendapat, Nabi Musa AS kurang fasih dalam berbicara. Kisah ini terabadikan dalam surah Qashash ayat 33-35.

(33) قَالَ رَبِّ اِنِّيْ قَتَلْتُ مِنْهُمْ نَفْسًا فَاَخَافُ اَنْ يَّقْتُلُوْنِ
(34) وَاَخِيْ هٰرُوْنُ هُوَ اَفْصَحُ مِنِّيْ لِسَانًا فَاَرْسِلْهُ مَعِيَ رِدْءًا يُّصَدِّقُنِيْٓ ۖاِنِّيْٓ اَخَافُ اَنْ يُّكَذِّبُوْنِ
(35) قَالَ سَنَشُدُّ عَضُدَكَ بِاَخِيْكَ وَنَجْعَلُ لَكُمَا سُلْطٰنًا فَلَا يَصِلُوْنَ اِلَيْكُمَا ۛبِاٰيٰتِنَا ۛ اَنْتُمَا وَمَنِ اتَّبَعَكُمَا الْغٰلِبُوْ

Artinya: (Musa) berkata, "Ya Tuhanku, sesungguhnya aku telah membunuh seseorang dari mereka sehingga aku takut mereka akan membunuhku. Adapun saudaraku Harun, dia lebih fasih lidahnya daripadaku. Maka, utuslah dia bersamaku sebagai pembantuku untuk membenarkan (perkataan)-ku. Sesungguhnya aku takut mereka akan mendustakanku." Dia (Allah) berfirman, "Kami akan menguatkanmu dengan saudaramu dan Kami akan berikan kepadamu berdua hujah (mukjizat). Maka, mereka tidak akan dapat mencapaimu. (Berangkatlah kamu berdua) dengan membawa mukjizat Kami. Kamu berdua dan orang yang mengikutimu adalah para pemenang."

Tafsir Qashashi Jilid II menyebutkan, Nabi Musa diharapkan dapat sukses berdiplomasi dengan ditemani oleh Nabi Harun. Ditambah lagi, Nabi Musa cenderung emosional sehingga ia takut penolakan dari Firaun justru akan mendatangkan keburukan darinya.

Kekhawatiran Nabi Musa ini terbadikan dalam surah Asy Syu'ara' ayat 10-14.

(10) وَاِذْ نَادٰى رَبُّكَ مُوْسٰٓى اَنِ ائْتِ الْقَوْمَ الظّٰلِمِيْنَ
(11) قَوْمَ فِرْعَوْنَ ۗ اَلَا يَتَّقُوْنَ
(12) قَالَ رَبِّ اِنِّيْٓ اَخَافُ اَنْ يُّكَذِّبُوْنِ
(13) وَيَضِيْقُ صَدْرِيْ وَلَا يَنْطَلِقُ لِسَانِيْ فَاَرْسِلْ اِلٰى هٰرُوْنَ
(14) وَلَهُمْ عَلَيَّ ذَنْۢبٌ فَاَخَافُ اَنْ يَّقْتُلُوْنِ

Artinya: (Ingatlah) ketika Tuhanmu menyeru Musa (dengan firman-Nya), "Datangilah kaum yang zalim itu. (Yaitu) kaum Fir'aun. Mengapa mereka tidak bertakwa?" Dia (Musa) berkata, "Wahai Tuhanku, sesungguhnya aku takut mereka akan mendustakanku. Dadaku terasa sempit dan lidahku kelu. Maka, utuslah Harun (bersamaku). Aku berdosa terhadap mereka. Maka, aku takut mereka akan membunuhku.

Kisah inilah yang kemudian melatarbelakangi dipanjatkannya doa Nabi Musa yang kini dikenal sebagai doa memohon kemudahan urusan. Dalam redaksi doa tersebut juga terdapat permintaan Nabi Musa AS agar dijauhkan dari kekakuan lidahnya.



Simak Video "Habib Ja'far, Keturunan Nabi Generasi ke-38"
[Gambas:Video 20detik]
(rah/nwy)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

Ranking PTN

Berikut daftar 5 Perguruan Tinggi terbaik Indonesia