Pakar BRIN Beri Penjelasan Terkait Temuan Bahan Bakar Air

Pakar BRIN Beri Penjelasan Terkait Temuan Bahan Bakar Air

Devi Setya - detikEdu
Sabtu, 20 Agu 2022 07:00 WIB
Nikuba, alat pengonversi air menjadi bahan bakar
Ilustrasi air yang menjadi bahan bakar Foto: Ony Syahroni/detikJabar
Jakarta -

Beberapa waktu lalu, ada seseorang yang mengklaim bisa mengubah air menjadi bahan bakar. Hal ini kemudian mendapat perhatian dari pakar Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) yang mengatakan bahwa temuan ini sebenarnya tidak efisien.

Dilansir dari laman resmi BRIN, disebutkan bahwa temuan bahan bakar berbasis air ini sudah dilakukan ujicoba pada kendaraan bermotor dan berhasil. Namun sang penemu mengaku belum melakukan pengujian secara scientific.

Peneliti Laboratorium Motor Bakar, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Arifin Nur memberi penjelasan terkait temuan air menjadi bahan bakar. Arifin menyebut air memang bisa diubah menjadi bahan bakar namun untuk saat ini penggunaannya terbilang belum efisien.

"Itu memang benar, air bisa dipisahkan menjadi hidrogen dan oksigen, tapi bila dilihat dari efisiensinya itu tidak masuk," kata Arifin.

Untuk bisa menjadi bahan bakar, air perlu melalui proses pemisahan molekul air menjadi hidrogen dan oksigen. Proses ini memakan energi yang sangat besar sehingga tidak sebanding dengan energi yang dihasilkan.

Arifin menjelaskan untuk memisahkan unsur air yang merupakan unsur paling stabil di dunia, itu membutuhkan energi yang sangat besar. Penelitian terkait air menjadi bahan bakar seperti ini sebenarnya sudah kerap dilakukan oleh banyak peneliti, termasuk peneliti dari Indonesia.

Air menjadi bahan bakar pernah dilirik PT. PLN

Temuan air yang diubah menjadi bahan bakar ini bukanlah inovasi baru. Bahkan PT. PLN pernah melakukan pengujian ini. Arifin pun pernah digandeng untuk masuk sebagai tim peneliti.

Sekitar tahun 2012 ada pihak yang mengaku menghasilkan temuan mengubah air menjadi bahan bakar. Temuan ini disambut baik oleh PT. PLN dengan target dapat melakukan efisiensi bahan bakar hingga 5 persen.

"Setelah dilakukan pengujian ternyata hasilnya tidak seperti yang diklaim oleh penemu," jelas Arifin.

Arifin menjelaskan, secara prinsip berhasil memisahkan molekul air dan menjadi bahan bakar. Namun untuk memisahkan molekul air menjadi hidrogen dan oksigen dibutuhkan energi yang besar. Jumlah energi yang dihasilkan bahan bakar berbasis air masih lebih sedikit dibandingkan energi yang digunakan untuk proses pemisahan.

"Energi listrik yang digunakan untuk elektrolisis air menjadi hidrogen dan oksigen itu lebih besar dibandingkan dengan energi yang dikeluarkan oleh motor dinamo yang digerakkan turbin," ungkapnya.

Pemilik inovasi disarankan melakukan uji coba

Temuan soal air yang diubah menjadi bahan bakar ini sempat viral dan menuai perhatian. Namun sayangnya sang inovator belum melakukan pengujian secara menyeluruh sehingga hasil temuannya tidak bisa dimanfaatkan dengan maksimal.

Terkait temuan seperti ini, Arifin menganjurkan kepada siapa saja yang menghasilkan sebuah temuan hendaknya dilakukan pengujian terlebih dahulu di laboratorium agar hasil temuan tersebut dapat dibuktikan secara ilmiah. Di Indonesia sudah banyak fasilitas penyedia pengujian berupa laboratorium untuk skala kecil.

Hal ini bisa dimanfaatkan oleh para penemu perorangan. Selain lebih efisien, pengujian di laboratorium skala kecil ini juga tidak memerlukan biaya yang besar.

"Untuk kasus ini bisa dilakukan pengujian di bengkel-bengkel motor dahulu kemudian dilanjutkan pengujian ke laboratorium yang berstandar agar mendapatkan jaminan yang benar," beber Arifin.



Simak Video "2 Serangan Ukraina di Donetsk Picu Kebakaran di Stasiun Bahan Bakar"
[Gambas:Video 20detik]
(dvs/lus)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

Ranking PTN

Berikut daftar 5 Perguruan Tinggi terbaik Indonesia