8 Sosok Pahlawan dalam Uang Baru 2022 dan Kisah Singkatnya

Novia Aisyah - detikEdu
Kamis, 18 Agu 2022 16:30 WIB
Uang rupiah baru
Pahlawan dalam uang abru 2022. Foto: Dok. Bank Indonesia
Jakarta -

Pemerintah melalui Bank Indonesia meluncurkan 7 uang baru 2022. Seluruhnya terdiri dari pecahan Rp 100 ribu, Rp 50 ribu, Rp 20 ribu, Rp 10 ribu, Rp 5 ribu, Rp 2 ribu, dan seribu rupiah.

Ketujuh Uang Tahun Emisi (TE) 2022 ini resmi berlaku, dikeluarkan, dan diedarkan bertepatan dengan HUT ke-77 RI. Dalam pecahan uang kertas yang baru ini, ada wajah delapan pahlawan Indonesia.

Kedelapan pahlawan ini adalah Ir. Soekarno dan Drs. Mohammad Hatta, Djuanda Kartawidjaja, GSSJ Ratulangi, Frans Kaisiepo, KH Idham Chalid, Mohammad Hoesni Thamrin, dan Tjut Meutia.

Pahlawan dalam Uang Baru 2022

1. Ir. Soekarno

Detikers tentunya sangat familiar dengan sosok Presiden pertama kita ini. Mengutip dari laman Perpustakaan Nasional RI, Bung Karno lahir di Surabaya pada 6 Juni 1901. Dia merupakan putra Ida Ayu Nyoman Rai dan Raden Soekemi Sosrodihardjo.

Menurut situs Bapekko Surabaya, ayah Soekarno ini dipindahtugaskan dari Singaraja, Bali sebagai pengajar atau guru di Sekolah Rakyat Sulung Surabaya tahun 1900. Dia datang bersama ibunya yang saat itu tengah mengandung Soekarno.

Ir. Soekarno pernah menjadi siswa di HBS (Hoogere Burger School) dan THS (Technische Hoogeschool) yang kini merupakan ITB. Lulusan Teknik Sipil itu memperoleh predikat insinyur pada 25 Mei 1926.

2. Drs. Mohammad Hatta

Bung Hatta adalah pahlawan kelahiran Bukittinggi, 12 Agustus 1902. Dia lahir dari pasangan anak guru agama kenamaan dan anak pedagang sukses, yaitu H. Moh. Jamil dan Siti Saleha.

Dikatakan dalam Biografi Singkat Mohammad Hatta yang ditulis oleh Rohmat, nama asli Bung Hatta adalah Mohammad 'Athar. Namun, karena sehari-hari dipanggil Atta, maka namanya menjadi Moh. Hatta.

Hatta pernah mengenyam pendidikan di Sekolah Rakyat, ELS (Eurepeesche Lagere School), dan MULO (Meer Uitgebreid Lager Onderweijs). Sosok yang memiliki semangat belajar tinggi ini juga pernah studi di Prins Hendrik School (PHS) di Jakarta dan Belanda.

3. Ir. H. Djuanda Kartawidjaja

Pahlawan pasca kemerdekaan Ir. H. Djuanda Kartawidjaja lahir di Tasikmalaya, Jawa Barat pada 14 Januari 1911. Dia adalah anak pertama Raden Kartawidjaja dan Nyi Monat.

Mengutip laman Dishub Kabupaten Wonogiri, Djuanda Kartawidjaja mengawali pendidikan di HIS (Holland Indlandsch School) yang sekaligus tempat ayahnya mengajar. Setamatnya dari sana, dia melanjutkan studi ke ELS dan HBS. Kemudian, sama halnya dengan Bung Karno, Djuanda Kartawidjaja melanjutkan pendidikan tinggi di ITB dan lulus pada 1933.

Sosok ini pernah menjabat sebagai Menteri Perhubungan selama dua periode, yaitu 2 Oktober 1946-4 Agustus 1949 dan 6 September 1950-30 Juli 1953. Dia juga menjadi Perdana Menteri ke-10 menggantikan Ali Sastroamidjojo pada 9 April 1957.

Selama sekitar 2 tahun menjadi Perdana Menteri, Djuanda Kartawidjaja dikenal dengan gagasan Deklarasi Djoenda yang menegaskan wilayah kedaulatan maritim Indonesia, yang kemudian diresmikan menjadi UU Nomor 4/PRP/1960 tentang Perairan Indonesia.

4. Dr. GSSJ Ratulangi

Pahlawan selanjutnya dalam uang baru 2022 adalah Dr. Gerungan Saul Samuel Jacob (GSSJ) Ratulangi. Dia adalah pahlawan dari Minahasa.

Ratulangi merupakan pembaca ulang proklamasi di hadapan warganya. Sosok kelahiran Tondano, Sulawesi Utara 5 November 1890 itu memiliki sebutan "Tuan-Tuan Merdeka", meski pernah diasingkan ke pedalaman Papua.

Mengutip buku Dr. G.S.S.J. Ratulangi: Riwayat Hidup dan Perjuangannya, banyak dari tindakan Ratulangi yang menguntungkan rakyat Minahasa. Dia berhasil menghapus kerja paksa, menyelenggarakan transmigrasi, membangun yayasan dana belajar, dan lainnya.

Ratulangi pernah mengenyam studi di Hoofden School atau Sekolah Raja di Tondano dan Sekolah Teknik Jakarta. Namun, karena merasa bahwa pribumi direndahkan, dia akhirnya belajar di Zurich, Swiss. Pada 1919 Ratulangi lulus dan menjadi orang Indonesia pertama yang memperoleh gelar doktor ilmu eksakta.

5. Frans Kaisiepo

Frans Kaisiepo adalah pahlawan asal Biak, Papua yang lahir pada 10 Oktober 1921. Dalam artikel berjudul "Frans Kaisiepo, Simbol Perjuangan Rakyat Papua dalam Persatuan Bangsa Indonesia" yang dimuat dalam laman DJPb Kemenkeu, dia adalah orang yang pertama kali mengibarkan bendera Merah Putih dan menyanyikan lagu kebangsaan Republik Indonesia di Papua.

Mengutip dari buku Explore Sejarah Indonesia Jilid 2 untuk SMA/MA Kelas XI tulisan Dr. Abdurakhman dan Arif Pradono, Frans Kaisiepo pernah menggagas pemberontakan rakyat Biak terhadap Belanda pada 1948. Dia juga membentuk Partai Politik Irian yang menuntut supaya Nederlands Nieuw Guinea digabungkan kembali dengan Indonesia.

6. Dr. KH Idham Chalid

KH Idham Chalid adakah salah seorang kiai kenamaan Nahdhlatul Ulama (NU). Namun, sebetulnya dia berasal dari Kalimantan Selatan.

Tokoh yang lahir pada 27 Agustus 1922 itu adalah lulusan Pesantren Gontor, Jawa Timur. Dia pernah memperoleh gelar doktor honoris causa dari Universitas Al Azhar.

Menurut buku Napak Tilas Pengabdian Idham Chalid: Tanggung Jawab Politik NU dalam Sejarah, Idham terlibat dengan pergerakan nasional setelah kemerdekaan. Perjuangannya itu dimulai sejak dia menjadi guru di Gontor pada 1940.

7. Mohammad Hoesni Thamrin

Djelaskan dalam laman Museum Indonesia, Mohammad Hoesni Thamrin lahir di Sawah Besar, Jakarta pada 16 Februari 1894. Dia adalah putra Wedana Tabri Thamrin dan Nurhana yang terkenal cerdas.

Hoesni Thamrin dulunya mengenyam pendidikan kolonial sambil belajar mengaji. Sepak terjangnya dalam pergerakan nasional, mendorong kemajuan pribumi, sampai menuntut Indonesia berparlemen menyebabkan kolonial mencari alasan guna menangkapnya.

Jelang akhir hayatnya, dia berstatus tahanan rumah dan dituduh melawan Belanda. Sosok ini wafat pada 11 Januari 1941 dan dikebumikan di pekuburan Karet.

Thamrin kini diabadikan menjadi nama salah satu jalan utama Jakarta dan juga merupakan pusat bisnis.

8. Tjut Meutia

Tjut Meutia adalah pahlawan asal Perlak, Aceh Utara. Dia lahir pada 1870 dan wafat di Alue Kurieng tanggal 24 Oktober 1910.

Tjut Meutia dan suaminya, Teuku Myhammad atau Teuku Cik Tunong sangat berani melawan penjajah. Mengutip buku Biografi Pahlawan Kusuma Bangsa oleh Ria Listina, pada Maret 1905 suaminya ditangkap Belanda dan dihukum matu pada bulan Mei berikutnya.

Pada akhirnya sesuai pesan suaminya, dia menikah dengan Pang Nangru, sahabat suaminya. Mereka bergabung dengan pasukan Teuku Muda Gantoe, tetapi Pang Nangru tewas pada 26 September 1910 di tangan Belanda.

Pada 24 Oktober 1910 Tjut Meutia dikepung Belanda. Namun, dia pada akhirnya tewas dengan luka tembak di kepala dan dada.

Itulah beberapa pahlawan yang ada dalam uang baru 2022.



Simak Video "Serba-serbi Uang Kertas Baru 2022 yang Dikeluarkan Bank Indonesia "
[Gambas:Video 20detik]
(nah/pal)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

Ranking PTN

Berikut daftar 5 Perguruan Tinggi terbaik Indonesia