5 Tokoh Pahlawan dari Indonesia Bagian Barat, Tengah, dan Timur

Anisa Rizki - detikEdu
Kamis, 18 Agu 2022 15:30 WIB
Pattimura Pahlawan Nasional dari Tanah Maluku
Foto: Arsip Situs Kemensos via Detikcom/Ilustrasi pahlawan nasional
Jakarta -

Dalam memperjuangkan kemerdekaan, para pahlawan bangsa telah melewati berbagai hal yang tak mudah. Hal itu karena para penjajah memiliki tekad yang kuat untuk menguasai wilayah penjajahannya.

Namun, sederet tokoh pahlawan tetap muncul dan tak gentar untuk memperjuangkan kemerdekaan. Para pahlawan ini datang dari Indonesia bagian barat, tengah, hingga timur.

Siapa saja pahlawan-pahlwan tersebut? berikut ini ulasannya dikutip dari unggahan resmi Instagram Direktorat SMP Kemendikbudristek pada Kamis (18/7/2022).

5 Pahlawan dari Indonesia Bagian Barat, Tengah, dan Timur

1. Cut Nyak Dien

Cut Nyak Dien merupakan salah satu pahlawan nasional yang berasal dari Indonesia bagian barat, tepatnya di Tanah Rencong. Lahir di Lampadang, Kerajaan Aceh, pada tahun 1848, Cut Nyak Dien dikenal sebagai seorang keturunan bangsawan.

Ayahnya adalah Teuku Nanta Muda Seutia, seorang Uleebalang (kepala pemerintahan setingkat kabupaten pada Kesultanan Aceh) wilayah VI Mukim.

Beliau berjuang mempertahankan Aceh dengan melakukan gerilya selama 20 tahun bersama Teuku Umar yang kala itu merupakan suaminya.

Mendampingi sang suami menjelajah hutan hingga pindah dari satu tempat ke tempat lainnya, beliau juga menjadi salah satu motor penggerak yang mengantarkan Teuku Umar pada kariernya sebagai pejuang. Sayangnya, Teuku Umar tewas ditembak Belanda pada tahun 1899.

Semasa hidupnya, Cut Nyak Dien tidak pernah lelah memperjuangkan kemerdekaan dan mempertahankan wilayahnya.

Ia terus mengadakan aksi sampai fisiknya lemah dan tertawan oleh pasukan penjajah. Pada akhir hayatnya, Cut Nyak Dien diasingkan ke Pulau Jawa hingga wafat.

2. Tuanku Imam Bonjol

Pahlawan nasional yang berasal dari Indonesia bagian barat selanjutnya adalah Tuanku Imam Bonjol. Lahir di Pasaman, Sumatera Barat pada tahun 1772, Tuanku Imam Bonjol adalah seorang ulama sekaligus pemimpin masyarakat setempat.

Dikutip dari buku Biografi Pahlawan Kusuma Bangsa yang ditulis oleh Ria Listina, beliau memperoleh beberapa gelar, seperti Tuanku Imam, Malin Basa, hingga Peto Syarif.

Kala itu, perjuangan Imam Bonjol dalam berperang melawan Belanda dikenal dengan nama Perang Padri pada tahun 1803-1837.

Perang Padri merupakan perang antara Kaum Padri (Ulama) dengan Kaum Adat. Saat itu, Kaum Adat menjalin kerja sama dengan pemerintah Hindia-Belanda.

Namun sebagai gantinya, Belanda mendapat hak akses menguasai wilayah pedalaman Minangkabau.

Saking tangguhnya perlawanan pasukan Imam Bonjol, Belanda merasa kesulitan untuk mengalahkannya. Hingga akhirnya Belanda mengajak pasukan Imam Bonjol untuk berdamai, sayangnya perjanjian tersebut justru dilanggar oleh pihak Belanda dengan menyerang Nagari Pandai Sikek.

Kemudian, pada tahun 1833 Kaum Padri dan Kaum Adat memutuskan untuk bersatu dan memukul balik para penjajah. Naasnya, mereka tidak berhasil mengalahkan Belanda.

Tuanku Imam Bonjol akhirnya ditangkap dan dibuang ke Cianjur, Jawa Barat serta dipindahkan ke beberapa tempat hingga wafat pada 8 November 1864.

3. Kapitan Pattimura

Pahlawan dari Indonesia bagian tengah adalah Kapitan Pattimura. Lahir di Saparua Maluku pada 8 Juni 1783, beliau memiliki nama asli Thomas Matulessy.

Kisahnya bermula pada tahun 1816, setelah 18 tahun pemerintahan Inggris di Maluku, Belanda kembali lagi berkuasa.

Pada masa kolonialisme Belanda, rakyat Maluku sangat menderita dan mengalami ragam tekanan, mulai dari kerja rodi hingga penyerahan hasil pertanian.

Kapitan Pattimura dipilih oleh rakyat Saparua untuk memimpin perlawanan. Pada 16 Mei 1817, terjadilah pertempuran dahsyat dan rakyat Saparua di bawah pimpinan Thomas Matulessy berhasil merebut benteng Duurstede.

Beliau wafat pada 16 Desember 1817 karena dihukum gantung setelah ditangkap oleh pasukan Belanda.

4. Sultan Hasanuddin

Memiliki sebutan Ayam Jantan dari Timur, Sultan Hasanuddin adalah tokoh pahlawan asal Makassar. Selain itu, ia merupakan raja ke-16 Kerajaan Gowa.

Sebelum menjadi raja, nama aslinya adalah I Mallombasi Muhammad Bakir Daeng Mattawang Karaeng Bonto Mangape.

Saat itu, Kerajaan Gowa sangat menentang kongsi dagang Belanda atau Vereenigde Oostindische Compagnie (VOC).

Sebagai seorang raja, pahlawan nasional Indonesia bagian tengah itu cukup keras dalam menolak monopoli Belanda, hingga akhirnya para penjajah menggempur Kerajaan Gowa tanpa henti.

Karena tak kuat menahan serangan Belanda, Sultan Hasanuddin dipaksa menandatangani Perjanjian Bongaya pada 18 November 1667. Meski begitu, beliau beserta para pasukannya masih terus melakukan perlawanan pasca perjanjian.

Sayangnya, perjuangan tersebut tidak memperoleh hasil yang maksimal, VOC masih tetap mendominasi wilayah Sulawesi Selatan.

Pada akhir hayatnya, Sultan Hasanuddin tetap bersikukuh dan enggan bekerja sama dengan Belanda sampai beliau wafat pada tanggal 12 Juni 1670.

5. Frans Kaisiepo

Selanjutnya Frans Kaisiepo. Berasal dari Indonesia bagian timur atau Papua, Frans dikenal sebagai tokoh anti-Belanda.

Pada 14 Agustus 1945, beliau bersama rekan-rekannya mengumandangkan lagu kebangsaan Indonesia di Kampung Harapan Jayapura.

Beberapa hari setelah pembacaan proklamasi tepatnya pada 31 Agustus 1945, Frans melaksanakan upacara dengan pengibaran bendera Merah Putih dan menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya.

Usai proklamasi, Frans makin aktif melakukan perlawanan terhadap para penjajah di Irian. Pada tahun 1949, putra Irian sejati ini menolak tawaran Belanda untuk menjadi wakil Belanda di wilayah Nugini, sehingga ia dihukum sebagai tahanan politik pada tahun 1954-1961 di distrik terpencil.

Nah, itulah sejumlah pahlawan nasional yang berasal dari Indonesia bagian barat, tengah, hingga timur. Semoga dapat menambah wawasan detikers ya!



Simak Video "Sosok Rasuna Said, Pahlawan yang Jadi Google Doodle Hari Ini"
[Gambas:Video 20detik]
(faz/faz)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

Ranking PTN

Berikut daftar 5 Perguruan Tinggi terbaik Indonesia