Aksi Lawan Klitih dengan Jogja Gelut Day, Ini Kata Sosiolog Unair

Trisna Wulandari - detikEdu
Jumat, 22 Jul 2022 18:15 WIB
Jogja Gelut Day
Jogja Gelut Day, salah satu aksi lawan klitih yang diinisiasi masyarakat. Foto: Jogja Gelut Day
Jakarta -

Turnamen Jogja Gelut Day digelar vokalis band kenamaan Indonesia, Erix Soekamti bersama komunitas Jogja Mixed Mix Martial Arts (Jogja MMA). Turnamen fight club ini diketahui muncul dari keresahan masyarakat terhadap aksi klitih yang membahayakan keamanan. Di ajang ini, anggota atau eks klitih bisa turut serta dalam turnamen.

Jogja Gelut Day dibuka untuk remaja hingga dewasa. Pertandingan menggunakan aturan MMA dengan full protector, termasuk head guard, MMA gloves, dan shin guard, seperti dikutip dari situs resminya. Juara 1 akan menjadi atlet profesional Jogja MMA untuk kejuaraan tingkat regional, nasional, dan internasional.

Laiknya turnamen profesional, peserta dibagi dalam kategori usia dan kategori berat badan putra dan putri. Di kategori usia, remaja usia 13-16 tahun bisa mendaftar di kategori Cadet, 16-18 tahun di kategori Junior, 18-35 tahun di kategori Senior, dan di atas 35 tahun di kategori Veteran.

Merespons ajang ini, Dosen Sosiologi Universitas Airlangga (Unair) Dr. Tuti Budirahayu Dra. M.Si. menyoroti bahwa Fight Club Jogja atau Jogja Gelut Day diinisiasi kelompok masyarakat yang memiliki kepedulian terhadap fenomena klitih.

Ia menekankan, kelompok sosial tersebut terdiri dari sosok atau figur masyarakat yang berpengaruh dan dapat menggerakkan masyarakat untuk kebaikan dan ketertiban masyarakat.

"Dengan demikian, ide kreatif dan inisiatif Jogja Gelut Day dapat dikatakan sebagai salah satu saluran upaya melakukan kontrol sosial terhadap perilaku yang cenderung menyimpang dari remaja yang memiliki kecenderungan mudah tersulut dan melakukan tindakan tawuran (klitih) yang membahayakan orang lain," kata Tuti, dikutip dari laman Unair, Jumat (22/7/2022).

Lawan Klitih dengan Gelut Day

Tuti menilai, adanya Jogja Gelut Day memungkinkan berkurangnya tindak kekerasan klitih yang dilakukan remaja. Potensi ini bisa terjadi jika ada inisiator dan penggerak fight club yang merangkul remaja klitih untuk ikut serta dalam turnamen tersebut.

Memberi apresiasi dan ruang bagi remaja dalam hal positif bagi Tuti juga turut dapat mengurangi perilaku agresif klitih.

"Dalam teori kontrol sosial, hal tersebut merupakan bagian dari upaya mengajak mereka (klitih) untuk terlibat pada kegiatan positif, dan mendidik untuk memiliki komitmen terhadap apa yang mereka tekuni," kata Tuti.

Tuti mengingatkan, jika remaja diberikan hukuman tanpa memberikan ruang berekspresi dengan persoalan yang dihadapinya, maka fenomena klitih akan terus ada.

Karena itu, menghadapi usia tertentu seperti usia remaja, masyarakat harus memahami persoalan psikologisnya. Secara sosiologi, remaja adalah kelompok masyarakat yang cenderung mempercayai norma yang disosialisasikan kelompoknya sendiri.

"Dalam konteks ini, mereka adalah subkultur yang ada di masyarakat, di mana terkadang jika mereka mengembangkan nilai-nilai dan norma-norma menyimpang, (mereka) akan menjadi subkultur menyimpang," imbuhnya.

Menanggapi selentingan munculnya Jogja Gelut Day akibat kurang efektifnya aparat keamanan, Tuti mengatakan, persoalan menjaga ketertiban sosial merupakan tanggung jawab bersama masyarakat.

"Justru hadirnya Jogja Gelut Day menunjukkan keberfungsian civil society yang berasal dari kelompok sosial yang memiliki kepedulian tertib masyarakat. Jika semua masalah sosial semuanya dibebankan pada aparat keamanan, saya rasa akan menjadi beban berat juga bagi mereka," kata Tuti.



Simak Video "Pengguna Apple Diminta Rajin Update iOS Demi Keamanan"
[Gambas:Video 20detik]
(twu/nwy)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

Ranking PTN

Berikut daftar 5 Perguruan Tinggi terbaik Indonesia