8 Cara Mengatasi Klitih dari Ahli, Nggak Melulu Masuk Penjara

Trisna Wulandari - detikEdu
Rabu, 29 Des 2021 17:13 WIB
Pameran tentang klitih bertajuk The Museum of Lost Space digelar untuk menunjukkan bukti-bukti klitih sejak 1990-an hingga sekarang.
Pameran tentang klitih bertajuk The Museum of Lost Space digelar untuk menunjukkan bukti-bukti klitih sejak 1990-an hingga sekarang. Begini cara mengatasi klitih menurut para ahli. Foto: PIUS ERLANGGA
Jakarta -

Aksi klitih ramai dibahas di media sosial setelah diduga kembali terjadi di Yogyakarta di pengujung 2021. Kapolres Sleman AKBP Wachyu Tri Budi mengaku akan segera menyelidiki kasus tersebut.

Wahyu mengatakan, untuk mencegah kejahatan jalanan klitih, kegiatan pembinaan di masyarakat akan ditingkatkan bersama kegiatan intelijen.

"Kami akan tetap menyelidiki. Termasuk kami meningkatkan kegiatan yang sifatnya preventif meliputi patroli. Patroli akan kami tingkatkan lagi," kata Wahyu, Selasa (28/12/2021).

Sosiolog kriminalitas dari Universitas Gadjah Mada (UGM) Suprapto mengatakan, ada masalah yang mengkhawatirkan di balik aksi klitih remaja. Karena itu, mengatasi klitih juga perlu peran keluarga dan warga, di samping polisi dan pemerintah.

"Penanganan perilaku klitih jangan dibebankan hanya pada pemerintah atau kepolisian. Tiap anggota masyarakat harus merasa bertanggung jawab untuk itu," kata Suprapto dalam laman kampus UGM.

Lantas, bagaimana cara mengatasi klitih?

Cara mengatasi klitih

A. Keluarga dan sekolah sebagai tempat nyaman

Salah satu penyebab klitih yaitu rasa keterikatan dengan sekolah dan keluarga yang rendah. Untuk itu, lembaga sosial dasar seperti keluarga dan sekolah perlu turut berpartisipasi mencegah perilaku klitih.

Suprapto mengatakan, caranya yaitu dengan memenuhi fungsi sosialisasi budaya, nilai, dan norma, serta memberi perlindungan bagi pelajar. Ia menjelaskan, keluarga dan sekolah yang mampu berfungsi penuh akan mendukung siswa untuk mengkomunikasikannya pada orang tua dan pihak sekolah saat mendapatkan perlakuan tidak nyaman dari pihak lain.

"Keluarga adalah benteng yang kuat dan awal. Kalau anak sudah mendapat masukan norma dan nilai, saya kira dia tidak akan mudah untuk melakukan tindakan-tindakan yang menyakiti orang lain," kata Suprapto.

B. Perhatikan pergaulan siswa dan kegiatannya

Ia menambahkan, orang tua juga perlu memperhatikan pergaulan anak-anaknya saat beranjak dewasa. Sebab, seorang anak yang tidak dibekali dengan pengertian yang benar akan sangat mudah mengikuti perilaku orang yang ia kagumi atau kelompoknya.

Suprapto menekankan, orang tua juga perlu memperhatikan keberadaan dan aktivitas anak agar tidak terlibat dalam kegiatan negatif.

"Kalau keluarga mencermati bahwa anak-anaknya tidak ada di rumah pada jam-jam tertentu, pantaulah, dan diajak pulang," tuturnya.

C. Ekskul sekolah penting

Suprapto mengatakan, lembaga pendidikan juga memegang peranan yang tidak kalah penting dalam mengatasi klitih. Kegiatan ekstrakurikuler di sekolah, salah satunya, bisa memberikan alternatif kegiatan positif untuk mengisi waktu luang para siswa.

Ia mengingatkan, kegiatan sepulang sekolah sebaiknya tetap dilaksanakan sepenuhnya di sekolah. Dengan begitu, siswa tidak lantas menghabiskan waktu di luar rumah selepas jam sekolah dengan alasan ekskul.

D. Pokja sekolah

Suprapto menambahkan, kelompok kerja (pokja) di sekolah untuk menangani perilaku klitih juga diperlukan. Keberadaan pokja penanganan klitih ini, sambungnya, dapat menjadi tempat siswa meminta perlindungan dan melaporkan kasus klitih yang diketahuinya.

"Jika keluarga tidak mampu melakukannya, maka pokja bisa membantu. Sebab, selalu alasannya balas dendam karena anggota dilukai. Maka, mari laporkan saja dan diselesaikan secara hukum sehingga lingkaran setan itu bisa diputus," tegasnya.

E. Patroli polisi dan razia senjata

Pemerhati kriminologi Aroma Elmina Martha mengatakan, razia senjata tajam dan kehadiran aparat kepolisian atau police hazard perlu dilakukan di lokasi yang berisiko jadi tempat tindak pidana, baik malam maupun siang hari.

"Karena biasanya menggunakan senjata tajam, maka razia senjata tajam diperlukan. Maka razia ini bisa ditingkatkan frekuensinya," kata dosen Fakultas Hukum Universitas Islam Indonesia (UII) Yogyakarta dalam laman kampus UII.

F. Melibatkan pelajar di kegiatan warga

Aroma menekankan, penting untuk memutus mata rantai pelajar dengan kelompok klitih yang memberikannya rasa ikatan yang kuat.

"Selama komunitas itu mengikat, maka akan tetap terus berjalan sampai kapanpun. Jika bisa, kelompok yang cenderung negatif tersebut dilibatkan dalam komunitas yang positif, sehingga terus menerus dilibatkan pada hal-hal positif," tuturnya.

""Bentuknya keterlibatan, misal dalam kegiatan kampung seperti dalam hari besar agama itu semua dilibatkan. Setiap minggu bisa mengadakan kegiatan sesuai dengan hobinya, seperti main bola. Jadi kampung (masyarakat) itu bisa dalam upaya pencegahan, bukan menindak secara represif," kata Aroma.

G. Tidak melulu masuk penjara

Aroma menambahkan reward dan punishment bagi pelajar dapat dilakukan tanpa harus selalu berurusan dengan penjara.

"Namun bisa diganti dengan kerja sosial. Jadi jangan punishment untuk membatasi gerak anak," kata Aroma.

"Karena kita cenderung menyerang, mindset untuk memidana. Padahal lebih baik mencegah daripada memidana," imbuhnya.

H. Fasilitas pemerintah

Sebagai bagian penanganan klitih, sambungnya, pemerintah bisa berperan sebagai fasilitator atau pembangunan sistem. Ia mencontohkan, dinas sosial bisa menganggarkan dana untuk menyediakan desain sistem dalam mencegah tindak pidana klitih.

"Jadi kalau sistemnya sudah dibangun dengan baik oleh Pemkot (Pemerintah Kota), insya Allah berjalan dengan positif," katanya.

Aroma menekankan, sebagai negara hukum, tindakan main hakim bagi klitih seperti apapun tidak dibenarkan. Untuk itu, warga bisa menjalankan fungsi dalam ranah pencegahan seperti pelibatan pelajar di kegiatan sosial dan kemasyarakatan. Tetap berhati-hati dan saling jaga ya, detikers.



Simak Video "Citra Wisata Yogyakarta Tercoreng Aksi Klitih"
[Gambas:Video 20detik]
(twu/pal)

Ranking PTN

Berikut daftar 5 Perguruan Tinggi terbaik Indonesia