Ini Jenazah Muslim yang Tidak Wajib Dimandikan, Siapa Saja?

Rahma Harbani - detikEdu
Sabtu, 23 Jul 2022 06:00 WIB
Sejak meningkatnya kasus Omicron, jumlah jenazah yang dimakamkan di TPU Rorortan, Jakarta, terus naik. Petugas TPU harus menandu jenazah di jalan yang becek.
Proses kepengurusan jenazah pasien COVID-19, salah satu golongan jenazah yang tidak wajib dimandikan. (Rengga Sencaya/detikcom)
Jakarta -

Tiap muslim dikenakan hukum fardhu kifayah dalam mengurus jenazah, termasuk memandikannya. Meski demikian, ada beberapa kondisi yang menyebabkan jenazah tidak wajib dirawat atau dimandikan seperti jenazah muslim lainnya.

Kewajiban bersifat fardhu kifayah tersebut artinya kewajiban yang akan gugur jika sudah dilakukan orang lain. Namun, pahala bagi mereka yang menghadiri kepengurusan jenazah pernah disinggung dalam keterangan hadits Rasulullah SAW berikut.

مَنْ شَهِدَ الْجَنَازَةَ حَتَّى يُصَلِّىَ عَلَيْهَا فَلَهُ قِيرَاطٌ ، وَمَنْ شَهِدَ حَتَّى تُدْفَنَ كَانَ لَهُ قِيرَاطَانِ . قِيلَ وَمَا الْقِيرَاطَانِ قَالَ مِثْلُ الْجَبَلَيْنِ الْعَظِيمَيْنِ

Artinya: "Barangsiapa yang menghadiri prosesi jenazah sampai ia menyolatkannya, maka baginya satu qiroth. Lalu barangsiapa yang menghadiri prosesi jenazah hingga dimakamkan, maka baginya dua qiroth." Ada yang bertanya, "Apa yang dimaksud dua qiroth?" Rasulullah SAW menjawab, "Dua qiroth itu semisal dua gunung yang besar." (HR Bukhari).

Rasulullah SAW dalam haditsnya juga menerangkan sejumlah kelompok jenazah yang tidak boleh dimandikan. Tidak seperti jenazah muslim lainnya, jenazah kelompok berikut dapat langsung dikebumikan.

Jenazah yang Tidak Wajib Dirawat atau Dimandikan

1. Orang yang Meninggal Syahid karena Berjihad

Menurut Syaikh Sulaiman Ahmad Yahya Al-Faifi dalam Ringkasan Fikih Sunnah Sayyid Sabiq, muslim yang meninggal dalam keadaan syahid di tangan orang kafir ketika berperang di jalan Allah SWT maka jenazahnya tidak wajib dimandikan. Sekalipun jenazah syahid tersebut dalam keadaan junub sesuai dengan sabda Rasulullah SAW:


لَا تُغَسِّلُوهُمْ، فَإِنَّ كُلَّ جُرْحٍ - أَوْ كُلَّ دَمٍ - يَفُوحُ مِسْكًا يَوْمَ الْقِيَامَةِ

Artinya: "Jangan kalian memandikan mereka (orang yang mati syahid dalam jihad) karena setiap luka dan setiap darah akan mengeluarkan minyak beraroma kasturi di hari kiamat. (HR Ahmad).

Rasulullah SAW sendiri mencontohkannya melalui pemakaman jenazah para syuhada Uhud. Meski jenazah mereka dalam kondisi berdarah, Rasulullah SAW menganjurkan untuk tidak dimandikan maupun disalati.

Meski demikian, jenazah yang syahid tetap harus dikafani dengan kafan layak dari pakaian yang dikenakan. Pakaiannya dapat ditambah dengan pakaian lain bila dirasa kurang, begitu pun sebaliknya bila berlebih.

2. Calon jabang bayi yang keluar sebelum waktunya

Calon jabang bayi yang keluar sebelum waktunya atau keguguran termasuk dalam jenazah yang tidak wajib dirawat atau dimandikan seperti jenazah muslim lainnya. Dalil tentang masalah ini adalah riwayat Jabir RA yang mengutip sabda Rasulullah SAW:

الطِّفْلُ لاَ يُصَلَّى عَلَيْهِ وَلاَ يَرِثُ وَلاَ يُورَثُ حَتَّى يَسْتَهِلَّ

"Bayi (yang meninggal pada saat dilahirkan) tidak disalatkan, tidak dapat mewarisi, dan tidak dapat diwarisi sampai ia menangis (menjerit pada saat persalinan)," (HR Tirmidzi).

Meski demikian, ada perbedaan pendapat mengenai batasan-batasannya dari kalangan imam besar mahzab. Menurut Mahzab Syafi'i dan Hanafi, calon jabang bayi tidak perlu dimandikan bila jenazah dilahirkan tidak dalam keadaan bernyawa dan bentuk tubuh jenazah tersebut masih belum sempurna layaknya manusia normal.

"Jenazahnya (calon jabang bayi) tidak perlu dimandikan seperti pemandian jenazah pada umumnya, melainkan cukup dengan mengguyurkan air dan dilipat dengan kain," tulis Syaikh Abdurrahman Al-Juzairi dalam Fikih Empat Madzhab Jilid 2.

Sementara Mazhab Hanafi menambahkan ketentuan usia kandungan sebelum empat bulan sebagai ketentuan jenazah yang tidak wajib dimandikan. Mahzab Maliki juga menyebut syarat lain seperti tidak ada tanda-tanda kehidupan seperti menangis dan menyusu pada jenazah.

Kondisi tersebut kini bertambah satu, yaitu pada pasien yang meninggal akibat COVID-19 berdasarkan pertimbangan ahli. Ketentuan ini tertuang dalam atwa MUI Nomor 18 Tahun 2020 tentang Pedoman Pengurusan Jenazah (Tajhiz Al-Jana'iz) Muslim yang Terinfeksi COVID-19.

Jenazah bisa langsung ditayamumkan dengan mengusap wajah dan kedua tangan jenazah (minimal sampai pergelangan) dengan debu oleh petugas ber-APD. Namun, jenazah juga bisa langsung dikubur dengan pertimbangan darurat.

"Jika menurut pendapat ahli yang terpercaya bahwa memandikan atau menayamumkan tidak mungkin dilakukan, maka berdasarkan ketentuan dlarurat syar'iyyah, jenazah tidak dimandikan atau ditayamumkan," bunyi salah satu poin dari Fatwa MUI tersebut.

Setelahnya, jenazah langsung dikafani dengan kain yang menutup seluruh tubuh. Kemudian, jenazah yang tidak wajib dimandikan seperti jenazah muslim lainnya tersebut dimasukkan dalam kantong yang tidak tembus air untuk mencegah penyebaran virus dan menjaga keselamatan petugas.



Simak Video "Warga Berebut Nasi Berkat Buka Luwur Sunan Kudus"
[Gambas:Video 20detik]
(rah/kri)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

Ranking PTN

Berikut daftar 5 Perguruan Tinggi terbaik Indonesia