Ragam Senjata Tradisional Bali, Ada Belakas hingga Nenggala

Rafi Aufa Mawardi - detikEdu
Kamis, 07 Jul 2022 08:30 WIB
A man points keris, traditional daggers, to his chest during the ritual of Melasti in Bali, Indonesia, Thursday, March 11, 2021. The ritual, which is performed ahead of the Balinese Hindus Day of Silence, is held to purify the universe from bad influences, bad deeds and bad thoughts. (AP Photo/Firdia Lisnawati)
Senjata tradisional keris dipergunakan dalam upacara Melasti di Bali (Foto: AP/Firdia Lisnawati)
Jakarta -

Siapa nih yang berlibur ke pulau Bali? Yap, pulau Bali memang sangat terkenal akan pantai yang sangat indah dan objek wisata yang beragam. Akan tetapi, pulau Bali juga kaya akan budaya yang berkembang dari generasi ke generasi hingga saat ini.

Salah satu budaya yang cukup terkenal adalah senjata tradisional Bali. Dalam buku Senjata Tradisional Daerah Bali (1993), dijelaskan begitu rinci dan detail terkait dengan senjata tradisional dari daerah Bali.

Menurut buku tersebut, di dalam proses pembuatan senjata menurut kegunaannya, ada senjata yang dipakai sebagai pelengkap upacara di pura. Kemudian ada senjata yang digunakan untuk hiasan ataupun koleksi.

Masyarakat Bali juga meyakini ada senjata sebagai penjaga diri, terutama senjata pusaka yang dianggap bertuah/berkekuatan gaib.

Menurut kepercayaan masyarakat Bali proses pembuatan senjata tradisional di Bali menggunakan duasa atau hari baik. Terutama untuk senjata yang dipakai sebagai pelengkap upacara di pura yang tergolong kelengkapan upacara Dewa Yadnya maupun untuk kelengkapan upacara Manusia Yadnya.

Misalnya dalam upacara penobatan raja, upacara perkawinan, upacara potong gigi dan sebagainya.

Ragam Senjata Tradisional Bali

1. Keris dan Tombak

Keris dan tombak adalah senjata tradisional Bali yang utama. Kedua senjata ini paling sering digunakan sebagai pelengkap upacara di pura.

Selain dipergunakan pada waktu upacara di pura, keris juga dapat dipakai pada upacara perkawinan, upacara potong gigi dan upacara penobatan atau pengesahan seorang raja.

Senjata-senjata ini pada zaman dahulu dipergunakan untuk berperang/menyerang, maka dibuat dari besi baja ataupun besi yang lainnya melalui proses tertentu yang kekuatannya hampir sama dengan besi baja.

Dalam proses pembuatannya, keris dan tombak dibedakan menjadi dua, yaitu proses pembuatan mata keris atau tombak dan proses pembuatan tangkai atau hulu.

Membuat senjata keris dan tombak ini memiliki ritual yang sifatnya sakral. Terutama jika ditujukan untuk senjata pusaka. Hari baik pembuatan keris atau tombak adalah hari somo, Buda, dan Saniscara Genirawana. Di samping itu juga didasarkan pada kalender Bali yaitu pada hari atau pertemuan antara Sad Wara dengan Asta Wara atau Aryang ketemu (bertemu) dengan Brahma.

Pembuatannya pun disertai sesajen Prasodan Daksina, ituk-ituk, segehan barak selem lengkap dengan bunga-bunga berbagai warna. Empu pembuat keris atau tombak juga harus berpantang hingga senjata selesai dibuat.

Setelah selesai, senjata masih harus melalui proses dengan upacara pasupati dengan sesajen Pra Sodan daksina gede, suci asoroh, canang pesucian, tebasan endongan, ayam biing, tebasan darma wiku, dan lain sebagainya.

Perbedaan tata cara pembuatan keris dan tombak pusaka dengan keris pasaran terletak pada tidak terdapatnya upacara/sesajen khusus maupun pantangan yang harus dipenuhi oleh si pembuat.

Perlu juga diketahui bahwa banyak variasi bentuk keris dan tombak dibuat oleh pengrajin besi seperti misalnya dibuat tombak atau keris lurus seperti daun alang-alang, keris berlekuk/luk tiga, luk lima, luk tujuh, luk sembilan, maupun luk sebelas dan pada umumnya luk tersebut dibuat ganjil.

Di samping dikenal model tombak seperti tersebut, juga dibuat model tombak Dewata Nawa Sanga antara lain. Cakra, Tri Sula, Angkus, Padma, Gada, Bajra, moksala, Naga Pasa dan Dupa.

2. Belakas

Proses pembuatan senjata tradisional Bali belakas memiliki kesamaan dengan pembuatan senjata keris dan tombak. Di mana dibedakan menjadi dua yaitu proses pembuatan senjata bersifat sakral (belakas pengentas) atau belakas pasaran.

Belakas pengentas digunakan sebagai alat upacara keagamaan di Bali seperti ngaben. Bentuk senjata ini mirip seperti golok lurus dan gagangnya berbentuk silindris serta sedikit mengecil di kedua ujungnya.

3. Arit dan Madik

Senjata tradisional Bali berikutnya adalah arit dan madik. Di mana senjata ini memiliki bahan dasar seperti besi dan kayu yang berasal dari tumbuhan nangka atau buni.

Arit di Bali menyerupai bentuk clurit dari daerah Madura, tetapi senjata arit memiliki bentuk bengkokan lebih landai.

Bentuk senjata madik dibuat lebih tebal dan lebih lebar dibandingkan dengan senjata arit. Sedangkan pada bagian ujungnya dibentuk tidak seruncing ujung arit, serta bengkokannya lebih landai dan bagian bawahnya dibentuk lurus sehingga menyerupai tanda tanya.

4. Pengutik dan Taji

Sama halnya dengan arit dan madik, senjata pengutik dan taji juga berbahan dasar besi dan juga kayu. Pengutik dan taji ini merupakan senjata yang terbuat dari besi dan kayu serta berbentuk seperti jalu ayam.

Di mana sering kali senjata ini digunakan pada sebuah permainan tradisional (Tajen). Caranya, yaitu dengan dikaitkan pada kaki ayam sebagai senjata untuk ayam itu ketika diadu (sabung).

5. Nenggala

Senjata nenggala terbuat dari besi baja dan juga kayu pradah atau kayu nangka. Senjata ini akan dilihat memiliki mata senjata dua buah yang biasanya dipergunakan untuk berperang dengan menombak atau membacok lawan dari segala arah.

6. Pentong dan Toyak

Berbahan dasar kayu, kedua senjata tradisional Bali ini dipergunakan untuk menangkis serangan lawan dan bisa dipergunakan untuk memukul ataupun menyodok lawan.

Perbedaan keduanya hanya terletak pada ukurannya, yaitu tongkat/toyak lebih panjang. Ukuran panjangnya berkisar antara l00-150 Cm, serta bentuknya bulat panjang garis penampangnya berkisar antara 5-6 Cm.


7. Senjata Cabang

Senjata cabang memiliki ujung runcing berjejer tiga, yang satu ujungnya panjang terletak di tengah dan yang keduanya lagi ujungnya pendek yang mengapit ujung bagian tengah.


8. Senjata Tulup

Senjata model ini pada zaman dahulu dipergunakan untuk berperang dan sebagai pelurunya adalah taji. Sementara saat ini senjata tersebut dipergunakan dalam kaitannya upacara keagamaan metruna nyoman atau Menginjak Dewasa di Desa Tenganan

9. Ebeg, Tamiang, Ende

Ketiganya masuk dalam kategori senjata tradisional Bali untuk membela diri atau menangkis serangan lawan.

Ebeg memiliki bentuk segi empat panjang terbuat dari kulit sapi atau kerbau.

Tamiang terbuat dari tumbuhan ata yang telah dianyam sehingga bentuknya bundar. Pada saat sekarang senjata jenis ini dipergunakan dalam rangka upacara keagamaan di Desa Tenganan, yang dikenal dengan nama perang pandan.

Adapun Ende adalah jenis senjata yang bentuknya mirip dengan senjata Tamiang, hanya saja perbedaannya terletak dari segi bahan. Bahan yang dipergunakan untuk senjata Ende adalah kulit sapi/kerbau yang telah dikeringkan.

Nah, selain senjata tradisional Bali yang disebutkan di atas, masih ada beberapa jenis senjata lain untuk digunakan sebagai alat berburu di antaranya sungga, sateb, blantih, jaring, jeet/jerat, sigsig, skapel, dan tulup.



Simak Video "Melihat Prosesi Jamasan Pusaka Tombak Kyai Wijaya Mukti di Yogyakarta"
[Gambas:Video 20detik]
(pal/pal)

Ranking PTN

Berikut daftar 5 Perguruan Tinggi terbaik Indonesia