ADVERTISEMENT

Hukum Potong Kuku dan Rambut Sebelum Idul Adha, Bagaimana Dalilnya?

Rosmha Widiyani, Kristina - detikEdu
Kamis, 30 Jun 2022 07:00 WIB
Nail technician clipping customers nails at the nail salon
Ilustrasi memotong kuku sebelum Idul Adha. Foto: iStock
Jakarta -

Idul Adha adalah merupakan hari besar umat Islam yang dengan banyak keutamaan dan amalan sunnah. Hari raya yang punya ciri khas penyembelihan hewan kurban ini memiliki beberapa aturan penyerta.

Salah satunya adalah hukum potong kuku dan rambut sebelum hari raya yang jatuh tiap 10 Dzulhijjah, atau diperkirakan 9 Juli 2022. Beberapa hadits menjadi dasar aturan ini, berikut contohnya

إذا دخل العشر من ذي الحجة وأراد أحدكم أن يضحي فلا يمس من شعره ولا بشره شيئا حتى يضحي

Artinya: "Apabila engkau telah memasuki sepuluh hari pertama (bulan Zulhijah) sedangkan di antara kalian ingin berkurban maka janganlah dia menyentuh sedikitpun dari rambut dan kulitnya." (HR Muslim).

مَنْ كَانَ لَهُ ذِبْحٌ يَذْبَحُهُ فَإِذَا أُهِلَّ هِلاَلُ ذِى الْحِجَّةِ فَلاَ يَأْخُذَنَّ مِنْ شَعْرِهِ وَلاَ مِنْ أَظْفَارِهِ شَيْئًا حَتَّى يُضَحِّىَ

Artinya: "Siapa saja yang ingin berqurban dan apabila telah memasuki awal Dzulhijah (1 Dzulhijah), maka janganlah ia memotong rambut dan kukunya sampai ia berqurban." (HR Muslim).

Bagaimana hukum potong kuku dan rambul sebelum Idul Adha?

Dikutip dari situs UIN Walisongo dalam eprints berjudul Rekonstruksi Pemaknaan Hadis Tentang Larangan Menggunting Rambut Dan Memotong Kuku Bagi Orang Yang Hendak Kurban, hadits ini sempat menimbulkan pertanyaan. Berikut poin yang menjadi perhatian para ulama:

1. Apakah larangan potong kuku dan rambut ditujukan pada hewan kurban, bukan pada orangnya.

2. Apakah larangan berlaku bagi orang yang hendak kurban dengan qiyas ihram umrah/haji.

3. Apakah larangan ditujukan pada orang dan hewan yang akan menjadi kurban.

Dengan pertimbangan ini, para imam mahdzab menjelaskan hukum potong kuku dan rambut sebelum Idul Adha bagi orang yang ingin berkurban. Berikut penjelasannya

a. Abu Hanifah dan jumhur Hanafiyah: hukumnya boleh, tidak makruh, dan tidak ada masalah apapun.

b. Ulama mahzhab Hambali: hukumnya haram.

c. Imam As-Syafi'iyyah dan sahabat-sahabatnya: hukumnya makruh dan bukan haram.

d. Imam Malik: sang ulama besar ini pernah mengatakan pendapat berbeda tentang aturan ini yaitu makruh, boleh, dan diharamkan pada sembelihan sunnah.

Ulama besar asal Indonesia KH Ali Mustafa Yaqub juga sempat menjelaskan hukum potong kuku dan rambut sebelum Idul Adha. Menurutnya, larangan tersebut ditujukan bagi hewan kurban bukan para muslim.

Pendapat ini tercantum dalam kitab karyanya berjudul At-Turuqus Shahihah fi Fahmis Sunnatin Nabawiyah. KH Ali menggunakan hadits berikut sebagai dasar pendapatnya

ما عمل آدمي من عمل يوم النحر أحب إلى الله من إهراق الدم، إنه ليأتي يوم القيامة بقرونها وأشعارها وأظلافها. وإن الدم ليقع من الله بمكان قبل أن يقع من الأرض فطيبوا بها نفسا

Artinya: Rasulullah SAW mengatakan: "Tidak ada amalan anak Adam yang dicintai Allah pada hari Idul Adha kecuali berqurban. Karena ia akan datang pada hari kiamat bersama tanduk, bulu, dan kukunya. Saking cepatnya, pahala qurban sudah sampai kepada Allah sebelum darah hewan sembelihan jatuh ke tanah. Maka hiasilah diri kalian dengan berqurban (HR Ibnu Majah).

Berdasarkan pertimbangan hadits ini, KH Ali menyimpulkan yang dilarang Nabi SAW bukan memotong rambut dan kuku para muslim yang berkurban. Namun pada hewan yang akan disembelih dengan niat melakukan ibadah kurban Idul Adha.

Alasannya adalah rambut dan kuku hewan kurban akan menjadi saksi di akhirat, terkait ibadah yang dilakukan seorang muslim. Semoga pendapat ini bisa menjawab kekhawatiran para muslim terkait hukum potong rambut dan kuku sebelum Idul Adha.



Simak Video "Bisakah Trauma pada Anak Sembuh?"
[Gambas:Video 20detik]
(kri/row)

ADVERTISEMENT

Ranking PTN

Berikut daftar 5 Perguruan Tinggi terbaik Indonesia