ADVERTISEMENT

Perbedaan Puasa Arafah dan Tarwiyah Jelang Idul Adha, Apa Saja?

Kristina - detikEdu
Rabu, 29 Jun 2022 06:00 WIB
Senior Muslim woman preparing food
Ilustrasi puasa Arafah dan Tarwiyah di bulan Zulhijah menjelang Idul Adha. Foto: iStock
Jakarta -

Puasa Arafah dan Tarwiyah adalah dua jenis puasa sunnah yang dikerjakan dua hari sebelum Idul Adha. Perbedaan keduanya terletak pada waktu pelaksanaan hingga kesunahannya.

Dalam buku Panduan Muslim Kaffah Sehari-hari dari Kandungan hingga Kematian karya Muh. Hambali dijelaskan, puasa Arafah dan Tarwiyah dianjurkan bagi orang-orang yang tidak melaksanakan ibadah haji.

Puasa ini dikerjakan dalam waktu yang berurutan. Puasa Tarwiyah dikerjakan pada 8 Zulhijah, sedangkan puasa Arafah dikerjakan pada 9 Zulhijah. Puasa yang dikerjakan pada 9 Zulhijah ini bertepatan dengan berkumpulnya jemaah haji di Padang Arafah.

Adapun, terkait dengan nama puasa Tarwiyah seperti dijelaskan Ustadz Ali Amrin al-Qurawy dalam Koleksi Doa & Dzikir Sepanjang Masa, Ibnu Qudamah menjelaskan bahwa dinamakan hari Tarwiyah karena para jamaah haji membawa bekal air pada hari itu yang disiapkan untuk hari Arafah.

Ada juga yang mengatakan bahwa dinamakan hari Tarwiyah karena pada malam 8 Dzulhijjah Nabi Ibrahim AS bermimpi menyembelih anaknya. Di pagi harinya, Nabi Ibrahim AS berbicara dengan dirinya sendiri, apakah mimpi kosong atau wahyu dari Allah SWT.

Perbedaan Puasa Arafah dan Tarwiyah Ditinjau dari Derajat Hadits

Ada beberapa hadits yang menerangkan tentang pelaksanaan dua jenis puasa sunnah di bulan haram ini. Baik hadits shahih, lemah, maupun palsu.

Berdasarkan sejumlah hadits yang ada, puasa Arafah merupakan puasa yang paling utama untuk diamalkan. Puasa ini dapat menghapus dosa selama dua tahun. Hal ini termaktub dalam hadits riwayat Muslim sebagaimana dijelaskan Imam an-Nawawi dalam Kitab Riyadhush Shalihin.

Dari Abu Qatadah RA berkata, "Rasulullah SAW pernah ditanya mengenai puasa Arafah, maka beliau menjawab, 'Puasa tersebut dapat menghapus dosa setahun yang lalu dan setahun yang akan datang."

Berbeda dengan puasa Arafah yang memiliki dalil kuat, dalil mengenai puasa Tarwiyah cenderung lemah. Sejumlah hadits tentang puasa Tarwiyah memiliki derajat dhaif (lemah) dan maudhu' (palsu). Belum ditemukan hadits shahih mengenai pelaksanaan puasa Tarwiyah ini.

Salah satu hadits puasa Tarwiyah ini diriwayatkan oleh Ali Al-Muairi, At-Thibbi, Abu Sholeh, dan Ibnu Abbas. "Barangsiapa berpuasa 10 hari, maka untuk setiap harinya seperti puasa sebulan. Dan, untuk puasa pada hari Tarwiyah seperti puasa setahun, sedangkan untuk puasa hari Arafah seperti puasa dua tahun."

H.M Anshary dalam bukunya Fiqih Kontroversi Jilid 2 menjelaskan, terdapat perbedaan di kalangan ulama dalam menyikapi hadits tersebut. Pertama, ada ulama yang memperbolehkan mengamalkan hadits dhaif apabila bertujuan untuk memperoleh keutamaan (fadhail 'amal), asalkan bukan dalam bidang aqidah dan hukum.

Pendapat kedua, boleh mengamalkan hadits dhaif karena pada dasarnya dilakukan sebagai kehati-hatian dalam rangka mendapatkan fadhilah puasa Arafah 9 Zulhijah. Ketiga, hadits dhaif tidak dapat digunakan sebagai hujjah dalam bidang ibadah, sebab mengandung keraguan tentang kebenarannya.

Menurut Muhammad Ajib Lc dalam bukunya Keutamaan 10 Hari Pertama Bulan Zulhijah, meskipun tidak ada syariat mengenai puasa Tarwiyah, sebenarnya puasa tersebut sudah termasuk dalam puasa sunnah delapan hari sebelum Arafah.

Syaikh Sulaiman Ahmad Yahya Al-Faifi dalam bukunya Ringkasan Fikih Sunnah Sayyid Sabiq menjelaskan, Rasulullah SAW selalu mengerjakan puasa di sepuluh hari bulan Zulhijah. Dalam sebuah hadits yang berasal dari Hafshah RA, dia berkata:

"Empat hal yang tidak pernah ditinggalkan oleh Rasulullah SAW yaitu: puasa Asyura (10 Muharram), puasa 10 hari bulan Zulhijah, puasa 3 hari setiap bulan, dan sholat 2 rakaat sebelum sholat fajar (subuh)," (HR. Ahmad dan An-Nasa'i).

Dalam hadits yang berasal dari Ibnu Umar RA turut dijelaskan, sepuluh hari pertama bulan Zulhijah ini adalah hari yang paling agung di sisi Allah dan dicintai amal perbuatan di hari tersebut. Nabi SAW bersabda,

مَا مِنْ أَيَّامٍ أَعْظَمُ عِنْدَ اللَّهِ وَلَا أَحَبُّ إِلَيْهِ الْعَمَلُ فِيهِنَّ مِنْ هَذِهِ الْأَيَّامِ الْعَشْرِ

Artinya: "Tidak ada hari-hari yang lebih agung di sisi Allah dan amal shalih di dalamnya lebih dicintai oleh-Nya daripada hari yang sepuluh (sepuluh hari pertama dari Zulhijah)," (HR. Ahmad, dishahihkan Syaikh Ahmad Syakir).



Simak Video "Keutamaan Puasa Tarwiyah dan Arafah Jelang Idul Adha"
[Gambas:Video 20detik]
(kri/lus)

ADVERTISEMENT

Ranking PTN

Berikut daftar 5 Perguruan Tinggi terbaik Indonesia