Apakah Manusia Bisa Berpikir Tanpa Berkata-kata? Ini Penjelasan Studi

Fahri Zulfikar - detikEdu
Selasa, 28 Jun 2022 07:00 WIB
ilustrasi otak
Foto: thinkstock/Apakah Manusia Bisa Berpikir Tanpa Berkata-kata? Ini Penjelasan Studi
Jakarta -

Bahasa menjadi salah satu cara bagi manusia dalam mengekspresikan pikiran yang ada di kepala. Ilmuwan percaya bahwa kemampuan bahasa ini telah menjadi perbedaan yang jelas antara manusia dan makhluk lain. Tapi apakah manusia bisa berpikir tanpa kata-kata atau bahasa?

Seorang psikolog di University of Nevada, Las Vegas, Russell Hurlburt, melakukan penelitian untuk mempelajari bagaimana orang merumuskan pikiran. Termasuk mempelajari hubungan antara pikiran dan bahasa.

"Beberapa orang tidak memiliki monolog batin, yang berarti mereka tidak berbicara kepada diri mereka sendiri di kepala mereka," ungkapnya dikutip dari Live Science.

Selain studi Hurlburt, penelitian lain juga menunjukkan bahwa orang tidak menggunakan wilayah bahasa di otak mereka saat mengerjakan soal logika tanpa kata.

Bukti baru ini telah mendorong para peneliti untuk mempertimbangkan kembali asumsi lama ilmuwan tentang bagaimana manusia berpikir dan apa peran bahasa dalam proses tersebut.

Pada tahun 2008, Hurlburt dan rekannya menciptakan istilah "pemikiran tanpa simbol" di jurnal Consciousness and Cognition. Pemikiran tanpa simbol adalah jenis proses kognitif yang terjadi tanpa penggunaan kata-kata.

"Mempelajari bahasa dan kognisi terkenal sulit, sebagian karena sangat sulit untuk dijelaskan. Orang-orang menggunakan kata-kata yang sama untuk menggambarkan pengalaman batin yang sangat berbeda," kata Hurlburt.

"Kebanyakan orang tidak tahu bahwa mereka terlibat dalam pemikiran yang tidak disimbolkan, bahkan orang yang sering terlibat di dalamnya," imbuhnya.

Dan karena orang-orang begitu terperangkap dalam pikiran sendiri dan tidak dapat secara langsung mengakses pikiran orang lain, maka hal ini dapat menimbulkan asumsi bahwa proses berpikir yang berlangsung di dalam kepala sendiri bersifat universal.

Namun, beberapa laboratorium, seperti Fedorenko, sedang mengembangkan cara yang lebih baik untuk mengamati dan mengukur hubungan antara bahasa dan pikiran.

Teknologi modern seperti pencitraan resonansi magnetik fungsional (fMRI) dan mikroskop memberi para peneliti gambaran yang cukup bagus tentang bagian mana dari otak manusia yang sesuai dengan fungsi yang berbeda.

Misalnya, para ilmuwan sekarang tahu bahwa otak kecil mengontrol keseimbangan dan postur, sedangkan lobus oksipital menangani sebagian besar pemrosesan visual.

Dalam lobus yang lebih luas ini, ahli saraf telah mampu memperkirakan dan memetakan wilayah fungsional yang lebih spesifik yang terkait dengan hal-hal seperti memori jangka panjang, penalaran spasial, dan ucapan.

Penelitian Fedorenko memperhitungkan peta otak terkait dengan pemrosesan bahasa yang harus aktif setiap kali seseorang menggunakan logika untuk memecahkan masalah.

Hasilnya, peneliti menemukan bahwa daerah otak peserta yang terkait dengan bahasa tidak aktif saat mereka memecahkan masalah. Dengan kata lain, mereka beralasan tanpa kata-kata.

Penelitian seperti Fedorenko, Hurlburt dan lain-lain ini menunjukkan bahwa bahasa tidak penting untuk kognisi manusia. Temuan ini menjadi hal penting untuk memahami kondisi neurologis tertentu, seperti afasia.

"Anda dapat menghilangkan sistem bahasa, dan banyak alasan dapat berjalan dengan baik. Namun, itu tidak berarti bahwa bahasa akan mempersulit," tutur Fedorenko.



Simak Video "4 Teknologi yang Mencoba "Melawan" Kuasa Tuhan "
[Gambas:Video 20detik]
(faz/lus)

Ranking PTN

Berikut daftar 5 Perguruan Tinggi terbaik Indonesia