Tentang Sayuti Melik dan Perannya dalam Proklamasi Kemerdekaan

Hanindita Basmatulhana - detikEdu
Kamis, 23 Jun 2022 15:45 WIB
Petugas mengambil dokumen naskah kosep teks proklamasi di Gedung Arsip Nasional Republik Indonesia (ANRI), Jakarta, Minggu (16/8/2020). Dalam rangka memperingati HUT ke-75 Kemerdekaan RI, naskah konsep teks proklamasi tulisan Bung Karno yang disimpan di ANRI akan turut dihadirkan pada upacara peringatan detik-detik proklamasi kemerdekaan RI di Istana Merdeka pada 17 Agustus 2020. ANTARA FOTO/Galih Pradipta/foc.
Ilustrasi teks proklamasi/Foto: ANTARA FOTO/GALIH PRADIPTA
Jakarta -

Sayuti Melik atau bernama lengkap Mohammad Ibnu Sayuti, lahir pada 22 November 1908 di Sleman, Yogyakarta. Melik artinya kecil dan nama itu dipakai sebagai samaran untuk dicantumkan di berbagai tulisannya.

Sayuti aktif dalam gerakan politik dan jurnalistik. Salah satunya adalah Persatuan Perjuangan yang didirikan oleh Tan Malaka.

Dia merupakan tokoh kemerdekaan yang mengetik dan mengoreksi teks proklamasi yang ditulis langsung oleh Presiden Soekarno.

Awal Mula Kedekatan Sayuti Melik dengan Soekarno

Sayuti Melik, salah seorang yang memiliki hubungan dekat dengan Presiden Soekarno.

Perkenalannya dengan Bung Karno dimulai saat ia berada di penjara.

Suatu saat, Sayuti membuat karangan berjudul 'Kemerdekaan dan Kebudayaan' yang akan dikirimkan ke panitia sayembara. Tulisan tersebut diketik oleh teman satu penjara yakni, Sugiono, melalui kepala penjara. Tak disangka-sangka, tulisan tersebut mendapat peringkat satu, tetapi hadiah tidak jatuh ke tangannya dan temannya tetapi ke kepala penjara.

Namun kemudian, 'permainan' yang dilakukan oleh kepala penjara tersebut diketahui oleh Soekarno. Berkat usaha Bung Karno, Sayuti bebas dari penjara, tetapi tidak dengan Sugiono.

Dengan keterampilannya dalam menulis, ia kemudian memanfaatkan bakat tersebut untuk mendekati Soekarno. Dan akhirnya ia benar-benar menjadi orang kepercayaan Soekarno.

Mengetik Teks Proklamasi

Sayuti mengubah teks proklamasi kemerdekaan Bangsa Indonesia, 17 Agustus 1945, ke dalam bentuk ketikan dan mengoreksinya.

Ada tiga bagian yang dikoreksi oleh Sayuti ketika diubah ke dalam bentuk ketikan, yaitu 'Hal-2' menjadi 'Hal-hal', 'tempoh' menjadi 'tempo', dan 'wakil-2 bangsa Indonesia' menjadi 'Atas Nama Bangsa Indonesia'.

Hasil tulisan Sayuti kemudian dibubuhi dengan tanda tangan Bung Karno dan Bung Hatta, yang kini telah resmi menjadi Teks Proklamasi Bangsa Indonesia. Sementara tulisan asli presiden Soekarno menjadi sebuah draft dari Teks Proklamasi.

Sayuti menjelaskan bahwa setelah hasil tulis tangan Soekarno disalin dan diubah menjadi ketikan, draft tersebut ditinggalkan begitu saja dan hilang entah ke mana.

Namun ia tidak mengkhawatirkannya, berhubung Teks Proklamasi yang resmi sudah ada dan sudah dibubuhi tanda tangan presiden dan wakilnya. Tulisan tersebut juga tidak sama seperti tulisan yang resmi karena terdapat beberapa perubahan di dalamnya, seperti ditulis dalam buku Komunikasi Ekaprasetia Pancakarsa.



Simak Video "Pedagang Pohon Pinang di Medan Kebanjiran Pesanan Jelang 17 Agustus"
[Gambas:Video 20detik]
(nwy/nwy)

Ranking PTN

Berikut daftar 5 Perguruan Tinggi terbaik Indonesia