Tata Cara Penyembelihan Hewan Kurban saat Wabah PMK dari Pakar IPB

Trisna Wulandari - detikEdu
Jumat, 17 Jun 2022 17:00 WIB
Penjualan hewan kurban mulai bergeliat menjelang Idul Adha. Hewan-hewan kurban itu dijual dengan harga yang bervariasi, mulai dari Rp 11 jutaan.
Tata cara penyembelihan hewan kurban di masa wabah PMK. Foto: Rengga Sancaya/detikcom
Jakarta -

Wabah Penyakit Mulut dan Kuku (PMK) masih menjangkiti hewan ternak di berbagai wilayah Indonesia, termasuk hewan kurban. Bagaimana tata cara penyembelihan hewan kurban Idul Adha yang aman bagi peternak, penjual hewan kurban, dan warga

Pakar Juru Sembelih Halal IPB University drh. Supratikno mengatakan, tata cara penyembelihan hewan sehat maupun terjangkit tengah wabah PMK yaitu harus disembelih dengan bersikap ihsan. Ia menjelaskan, hewan harus ditenangkan dan disegerakan penyembelihannya. Berbuat ihsan terhadap hewan kurban di masa wabah PMK menurut Pratikno juga penting untuk manusia yang mengonsumsi.

"Ketika hewan disembelih dengan keadaan tidak stres, maka sumber untuk terbentuknya asam laktat akan cukup sehingga mampu menurunkan pH di bawah enam. pH rendah ini menyebabkan virus PMK akan terinaktivasi," kata Pratikno dalam Podcast #66 Dr B The Vet Show "Berkurban di Tengah Wabah PMK", dikutip Jumat (17/6/2022).

Dosen IPB University dari Sekolah Kedokteran Hewan dan Biomedis (SKHB) ini menerangkan, petugas kurban masih memiliki waktu sekitar satu bulan untuk mempersiapkan kurban di luar Rumah Pemotongan Hewan (RPH). Di masa ini, petugas kurban harus memerhatikan tiga kunci utama dalam penyembelihan, yaitu lingkungan dan desain tempat penyembelihan yang tepat, kompetensi petugas, dan peralatan yang sesuai, di samping menunjang prinsip kesejahteraan hewan.


Dr. drh. Denny Widaya Lukman, dosen IPB University dari Sekolah Kedokteran Hewan dan Biomedis (SKHB) mengingatkan, hukum berkurban dengan hewan yang terkena PMK sudah dikeluarkan dalam Fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI) Nomor 32 tahun 2022. Hewan dengan gejala ringan masih dianggap sah sebagai hewan kurban.

Ia menerangkan, cara membedakan hewan tidak layak kurban dengan yang layak adalah dari pincang atau tidaknya seekor hewan. Bila sudah mengalami pincang, maka hewan tersebut sudah menunjukkan gejala berat sehingga tidak layak dijadikan sebagai hewan kurban.

"Namun demikian, saya sangat menghimbau untuk mengutamakan memotong hewan yang sehat karena jauh lebih baik dan jauh lebih sempurna dan yakin tidak akan menulari hewan yang sehat," kata Denny.

Tata Cara Penyembelihan Hewan Kurban di Masa Wabah PMK

1. Pilih hewan kurban berdasarkan Fatwa MUI No. 32 Tahun 2022

Pemilihan hewan kurban di tengah wabah PMK wajib berdasarkan Fatwa Majelis Ulama Indonesia Nomor 32 Tahun 2022. Di masa wabah PMK, MUI mengategorikan hewan kurban terjangkit PMK dalam kelompok kasus ringan, sedang, dan berat.

Kategori kasus wabah PMK pada hewan kurban dilihat berdasarkan kondisi fisik hewan saat hendak disembelih. Bila masih terlihat sehat, maka masih memenuhi syarat sebagai hewan kurban. Asalkan tidak terlalu mempengaruhi jumlah daging dan memenuhi syarat tidak cacat, tidak kurus, dan cukup umur.

Sementara itu, hewan yang terkena PMK dan sembuh setelah diobati dalam rentang waktu yang dibolehkan maka masih sah sebagai hewan kurban. Namun Pratikno menekankan, manajemen stres hewan adalah yang terpenting karena dapat mempengaruhi kualitas daging.

2. Tempatkan hewan kurban di penampungan terpisah

Denny menyarankan agar domba, kambing, dan sapi harus ditempatkan secara terpisah karena sapi lebih sensitif terhadap virus PMK. Kandang isolasi juga harus tersedia bila ada hewan yang dicurigai terjangkit PMK.

Ia mengingatkan, tempat penampungan hewan kurban di luar Rumah Potong Hewan (RPH) harus dilaporkan ke dinas setempat.

3. Pisahkan hewan yang sakit

Hewan yang sakit atau dicurigai sakit wajib dipisahkan dan dilaporkan ke Petugas Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan (PKH). Panitia hewan kurban juga harus segera memiliki kontak petugas dinas PKH menjelang Idul Adha. Upaya ini bertujuan untuk mempercepat mendapat bantuan dokter hewan atau mantri jika mendapati ada kasus yang diduga PMK.

4. Sembelih di Rumah Pemotongan Hewan (RPH)

Denny mengatakan, kegiatan pemotongan hewan kurban sangat diimbau untuk dikerjakan di Rumah Pemotongan Hewan (RPH). Meskipun jumlah RPH tidak mencukupi untuk kebutuhan Idul Adha saat ini, tetapi pengawasan penyembelihan setidaknya perlu didampingi oleh dokter dan mantri hewan.

"Pemotongan hewan kurban di luar RPH diijinkan, walau persyaratannya lebih ketat di masa PMK. Masyarakat diharapkan bersabar menerima kondisi ini dengan segala persyaratan yang ketat agar tidak terjadi penyebarluasan virus," katanya.

5. Dahulukan penyembelihan hewan yang sehat

Penyembelihan hewan perlu mendahulukan hewan yang sehat. Lokasinya juga harus terpisah dengan hewan sakit atau disucihamakan terlebih dahulu sebelum disembelih.

"Dikarenakan daging menjadi sumber perkembangbiakan kuman, maka pengolahannya harus dilakukan secara higienis. Mengingat kontribusi manusia menjadi sumber pencemar sangat tinggi," kata Denny.

6. Sediakan air bersih dan pisahkan jeroan

Pastikan air bersih tersedia dan mencukupi untuk membersihkan peralatan dan tubuh petugas penyembelihan. Petugas juga harus memisahkan jeroan merah dan jeroan hijau di kantong berbeda. Jumlah petugas yang menangani rangkaian kurban juga harus diperhitungkan agar tidak terjadi penumpukan hewan setelah disembelih.

7. Rebus 30 menit sebelum diedarkan

Tulang hewan kurban harus dipisahkan dari daging. Bagian tulang, kepala, kaki, buntut dan jeroan juga harus direbus dulu dalam air mendidih minimal 30 menit sebelum diedarkan.

8. Diterima mustahik kurang dari 5 jam setelah dipotong

Denny menyarankan, sebaiknya daging segera diedarkan dan diterima oleh mustahik kurang dari lima jam setelah dipotong.

9. Potong hewan kurban sakit gejala ringan di bawah pengawasan dinas

Denny menegaskan, pemotongan hewan kurban yang sakit dengan gejala ringan harus dilakukan di bawah pengawasan petugas dinas. Di samping dipotong di tempat terpisah, penyembelihan hewan terjangkit PMK juga sebaiknya dilakukan petugas yang mengenakan setidaknya alat pelindung diri (APD).

Penanganan limbah hewan kurban Idul Adha terjangkit PMK juga harus sesuai persyaratan dan tidak mencemari lingkungan umum. Tindakan ini penting untuk mencegah penularan ke hewan sehat.

"Panitia kurban harus berhati-hati sumber virus pada hewan yang terinfeksi. Penerapan kebersihan dan kesehatan orang dan lingkungan menjadi kunci utamanya. Sanitasi ini penting, terutama bagi petugas yang menangani hewan dan daging," kata Denny.



Simak Video "Pedagang Bandel Tetap Jualan Walau Pasar Hewan Ditutup Akibat Penyakit"
[Gambas:Video 20detik]
(twu/pal)

Ranking PTN

Berikut daftar 5 Perguruan Tinggi terbaik Indonesia