Aksi Remaja Hadang Truk Demi Konten, Apa Kata Pakar Psikologi Unair?

Novia Aisyah - detikEdu
Kamis, 16 Jun 2022 19:00 WIB
Ratusan remaja diamankan di HI usai menghadang truk di Jaktim
Ilustrasi remaja hadang truk. Foto: Ratusan remaja diamankan di HI usai menghadang truk di Jaktim. (Adhyasta Dirgantara/detikcom)
Jakarta -

Dosen Fakultas Psikolog Unair, Wiwin Hendriani, turut berpendapat soal fenomena remaja hadang truk demi konten beberapa waktu lalu. Dia menilai, ada sejumlah motif di balik perbuatan tersebut.

Wiwin mengatakan, aksi semacam ini adalah bagian dari permasalahan perilaku remaja. Perbuatan demikian menurutnya adalah dampak proses belajar yang tidak tepat dalam menanggapi tren media sosial.

Ketua Ikatan Psikologi Perkembangan Indonesia (IPPI) ini menyampaikan, remaja masih berada dalam fase perkembangan dan belum matang secara penuh. Oleh sebab itu, mereka masih berproses dalam mengenali dan membentuk identitas diri.

"Hal ini bermuara pada sikap dan perilaku remaja yang labil, mudah terbawa pengaruh sekitar, mudah terstimulasi oleh hal-hal yang menarik baginya, dan banyak didorong oleh kebutuhan memperoleh pengakuan orang lain," paparnya (15/6/2022) dikutip dari laman berita kampus.

Peran Orang Tua, Keluarga, dan Lingkungan

Dosen Psikologi Unair tersebut menyebutkan dua hal untuk mengatasi aksi remaja hadang truk demi konten. Orang tua dan keluarga perlu fokus dalam mendampingi para remaja

Wiwin mengungkapkan, pada banyak kasus anak dan remaja dengan permasalahan perilaku, alasan yang kerap ditemukan adalah relasi orang tua dan anak yang tidak baik.

"Pada banyak kasus dari anak dan remaja yang memunculkan problem perilaku, sering ditemukan data, (yang diakibatkan, Red) kurang baiknya relasi anak dengan orangtua," terang Wiwin.

Dia melanjutkan, tak jarang persoalan perilaku remaja muncul karena konflik atau ketidaknyamanan dalam keluarga itu sendiri. Sehingga, mereka mengalihkan konflik dengan mencari kesenangan atau pengakuan di tempat lain.

Wiwin menegaskan, mendampingi perkembangan remaja tidak dapat disamakan dengan mengasuh anak-anak. Hal ini tak lain karena setiap tahap mempunyai karakteristik khas dan kebutuhannya sendiri-sendiri. Orang tua perlu melakukan berbagai penyesuaian.

"Pendampingan yang mendukung perkembangan kemampuan berpikir remaja perlu dilakukan dengan memperbanyak ruang dialog dan diskusi, dengan meluaskan pula topik pembicaraan yang dapat memberikan stimulasi lebih dan memperkaya pengetahuan remaja dengan berbagai macam wawasan," tambahnya.

Wiwin turut mengutip Teori Ekologi dari Bronfenbrenner. Menurutnya, sekolah dengan adanya guru dan teman sebaya adalah bagian dari mikrosistem tumbuh kembang individu. Mikrosistem tersebut perlu dioptimalkan peran-peran positifnya dalam tumbuh kembang remaja.



Simak Video "ABG di Tangerang Tewas Tertabrak saat Setop Truk"
[Gambas:Video 20detik]
(nah/lus)

Ranking PTN

Berikut daftar 5 Perguruan Tinggi terbaik Indonesia