ADVERTISEMENT

Hukum Azan Menurut Ulama 4 Mazhab

Kristina - detikEdu
Kamis, 16 Jun 2022 05:00 WIB
Masjid Agung Sang Cipta Rasa memiliki tradisi unik, yakni azan pitu saat salat Jumat. Sesuai namanya, azan pitu dikumandangkan serempak oleh tujuh muazin.
Ilustrasi orang sedang mengumandangkan azan. Foto: Sudirman Wamad
Jakarta -

Azan adalah panggilan untuk menunaikan salat. Ada sedikit perbedaan pendapat di antara ulama mazhab mengenai hukum azan, utamanya dari kalangan Hambaliyah.

Prof Wahbah az-Zuhaili dalam Fiqhul Islam wa Adillatuhu Juz 1 menjelaskan, arti azan menurut istilah syara' adalah gabungan perkataan tertentu yang digunakan untuk mengetahui waktu salat fardhu. Istilah ini juga dapat diartikan sebagai pemberitahuan tentang waktu salat dengan lafaz tertentu.

Muhammad Jawad Mughniyah dalam bukunya Fiqih Lima Mazhab mengatakan, azan telah diperintahkan sejak tahun pertama hijrah Nabi Muhammad SAW ke Madinah.

Sementara itu, pendapat kalangan Sunni menyatakan, persyariatan azan dilakukan sejak Abdullah bin Zahid bermimpi ada orang yang mengajarinya, lalu mimpi tersebut diceritakan kepada Rasulullah SAW dan Rasulullah SAW memastikannya untuk menggunakan.

Dalil yang berkenaan dengan perintah azan salah satunya terdapat dalam hadits riwayat Imam Bukhari dan Muslim. Dari Malik bin al-Huwairits, Rasulullah SAW bersabda:

إِذَا حَضَرَتِ الصَّلاَةُ فَلْيُؤَذِّنْ لَكُمْ أَحَدُكُمْ وَلْيَؤُمَّكُمْ أَكْبَرُكُمْ.

Artinya: "Apabila tiba waktu salat, hendaklah salah seorang dari kalian mengumandangkan azan dan yang lebih tua dari kalian hendaklah menjadi imam."

Hukum Azan Menurut Para Ulama Mazhab

Semua ulama mazhab sepakat bahwa hukum azan adalah sunnah muakkad, kecuali Hambaliyah yang menetapkannya fardhu kifayah. Kesunnahan azan ini untuk semua salat lima waktu, termasuk salat Jumat.

Menurut Hambali, azan hukumnya fardhu kifayah di wilayah desa maupun kota pada setiap salat lima waktu bagi laki-laki yang mukim bukan musafir. Hukum ini berarti apabila ada orang yang telah mengumandangkan azan, maka telah gugur kewajiban yang lain untuk mengumandangkannya.

Mengutip Kitab Shalat Empat Mazhab karya Syeikh Abdurrahman Al-Jaziri, berikut hukum azan selengkapnya menurut Syafi'iyah, Hanafiah, dan Malikiah.

Syafiiyah

Hukum azan adalah sunnah kifayah bagi yang salat berjemaah, tetapi sunnah ain bagi yang salat sendirian jika orang tersebut mendengar azan lain.

Hanafiyah

Hukum azan adalah sunnah muakkad kifayah. Artinya, azan cukup dikumandangkan oleh satu orang untuk suatu komunitas dan berdosa apabila ditinggalkan. Azan ini sunnah dikumandangkan untuk salat lima waktu, baik sedang safar maupun tidak.

Malikiyah

Hukum azan adalah sunnah kifayah bagi orang yang sedang menunggu pelaksanaan salat jemaah. Azan sunnah kifayah dikumandangkan di setiap masjid meskipun jaraknya berdekatan.

Imam an-Nawawi mengatakan dalam Kitab al-Adzkar, orang yang mengumandangkan azan disunnahkan untuk melakukannya dengan tartil dan suara yang keras, sedangkan dalam ikamah disunnahkan dengan idraj (membaca dengan cepat) dan suara lebih pelan daripada azan.

Selain itu, ketika muazin mengumandangkan azan dan ikamah disunnahkan agar berdiri tegak, suci badan, pakaian, serta tempat, di tempat yang tinggi, dan menghadap kiblat.

"Jika muazin mengumandangkan azan dengan membelakangi kiblat, duduk, berbaring, tidak memiliki wudhu, atau sedang junub, maka hukumnya makruh. Kemakruhan ketika junub lebih besar daripada ketika tidak memiliki wudhu dan kemakruhan dalam ikamah lebih besar daripada azan," tambah Imam an-Nawawi.



Simak Video "Kala Gema Azan Berkumandang di JIS"
[Gambas:Video 20detik]
(kri/lus)

ADVERTISEMENT

Ranking PTN

Berikut daftar 5 Perguruan Tinggi terbaik Indonesia