Soal Elon Musk Hendak Akuisisi Twitter, Begini Pandangan Dosen Unair

Novia Aisyah - detikEdu
Kamis, 19 Mei 2022 13:00 WIB
FILE - Tesla CEO Elon Musk attends the opening of the Tesla factory Berlin Brandenburg in Gruenheide, Germany on March 22, 2022. Musk says his deal to buy Twitter can’t ‘move forward’ unless the company shows public proof that less than 5% of the accounts on the platform are fake or spam. Musk made the comment in a reply to another user on Twitter early Tuesday, May 17, 2022. (Patrick Pleul/Pool Photo via AP, File)
Pendapat dosen Unair soal Elon Musk akan membeli Twitter. Foto: AP/Patrick Pleul
Jakarta -

Rencana Elon Musk yang hendak membeli Twitter dinilai bukan hal yang mengejutkan oleh Dosen Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Airlangga (Unair) Febby Risti Widjayanto. Menurutnya, Elon mungkin menganggap bahwa media sosial populer seperti Twitter sejalan dengan misinya, mengingat dia adalah orang terkaya di dunia dan berasal dari bidang teknik.

Terlebih, sejauh ini Elon Musk dikenal sebagai seorang insinyur yang mampu mewujudkan berbagai idenya, seperti melalui SpaceX, Tesla, atau Neuralink.

"Sebagaimana tiga perusahaan yang ia jalankan, Elon memiliki visi besar untuk mewujudkan solusi bagi masalah-masalah kemanusiaan dan lingkungan. Ia sendiri pula yang mengarsiteki produk teknologi yang dijalankannya," ucap Febby, dikutip dari laman Unair pada (19/5/2022).

Oleh sebab itu, menurut Febby, sikap Elon yang hendak mengakuisisi Twitter ini tidak jauh berbeda dari misi peluncuran produk-produk sebelumnya, yang ditujukan untuk mengatasi masalah sosial sekaligus lingkungan. Namun, kali ini misinya berkaitan dengan kebebasan berpendapat.

Maksud Elon Musk Membeli Twitter Belum Jelas

Walau begitu, dosen Unair tersebut juga mengungkap, maksud pembelian Twitter yang dilakukan oleh Elon Musk ini belum jelas.

"Tidak bisa dipastikan (akuisisi Twitter oleh Elon, Red) apakah betul-betul berkontribusi pada kebebasan berpendapat seperti yang selama ini dia katakan karena arti dari kebebasan berpendapat sendiri memiliki penafsiran yang beragam," kata Febby.

Dia pun menyebutkan, tidak yakin jika apa yang dilakukan oleh Elon ini akan memberikan dampak positif terhadap ekosistem di Twitter.

"Saya tidak yakin karena sejak isu Elon Musk akuisisi Twitter berhembus, sebagian tim yang bekerja di Twitter justru merasa cukup bimbang karena selama ini mereka berusaha sekuat tenaga untuk menjaga sistem moderasi di Twitter," jelasnya.

Febby mengatakan, Twitter pun mempunyai sisi gelapnya sendiri. Utamanya saat momen politik tertentu.

Sisi gelap ini menciptakan ketegangan sosial yang membuat Twitter sebagai arena penuh caci, hoaks, pelecehan, juga kekerasan. Febby turut menambahkan, dampak positif akuisisi bisa dirasakan apabila Twitter menjadi ruang yang sehat untuk dialog publik, sehingga muncul iklim demokrasi.

Walau begitu, dia juga menilai hal semacam itu akan sulit sebab perusahaan teknologi selalu terikat dengan misi pemiliknya. Apalagi, misi ini tidak selalu sejalan dengan demokrasi.

"Elon bisa saja beropini bahwa kebebasan berpendapat absolut itulah prasyarat demokrasi. Namun perlu diperhatikan jika absolutisme dalam kebebasan berpendapat juga bisa menjadi kontraproduktif terhadap demokrasi itu sendiri," ungkap Febby.

Apa yang dimaksud Febby ini adalah, andaikata pentolan Tesla itu nantinya sah sebagai pemegang saham mayoritas Twitter, maka dia akan menguasai teknologi melalui kontrol dan penciptaan algoritmanya.

Dosen mata kuliah Ekonomi Politik dan Politik Digital Unair ini menyebutkan, pemilik saham mayoritas mungkin saja memanfaatkan pengaruhnya dalam mendominasi ruang digital dan membuatnya sebagai tempat untuk menampung segala pendapat, termasuk yang mengandung unsur kekerasan dan kebencian.

"Artinya, moderasi konten bisa saja dihentikan karena kebijakan manajemen baru perusahaan," tegas Febby.

Dia melanjutkan, Elon juga mempunyai rencana bisnis dan komersialisasi yang akan menjadi prioritas, terkait rencana pengenaan tarif bagi para pengguna Twitter, mulai dari lembaga pemerintah serta perusahaan komersial. Maka dari itu, valuasi dari Twitter ini akan melejit.

Febby mengatakan, hal itu adalah sesuatu yang alamiah. Namun, jangan sampai rencana ekspansi bisnis ini memanfaatkan segala sesuatu yang ingin dihindari, seperti monetisasi penistaan, cacian, maupun hoaks demi keuntungan perusahaan.

"Inilah yang ingin kita jaga bersama dan masyarakat sebagai pengguna memiliki pilihan untuk tetap menggunakan teknologi tersebut atau justru meninggalkannya,"

Perlu diketahui, saat ini Elon Musk masih menunda pembelian Twitter. Salah satu alasannya adalah karena dia menyarankan untuk memastikan jumlah akun bot di media sosial tersebut.



Simak Video "Resmi Beli Twitter, Elon Musk Ingin Ciptakan 'Free Speech'"
[Gambas:Video 20detik]
(nah/lus)

Ranking PTN

Berikut daftar 5 Perguruan Tinggi terbaik Indonesia