Mutiara Ramadan Nasaruddin Umar: Tawadhu Cepat ke Langit, Angkuh Tak Cium Bau Surga

Rahma Indina Harbani - detikEdu
Rabu, 20 Apr 2022 19:45 WIB
Jakarta -

Ajaran Islam mengenal tawadhu sebagai sikap baik yang perlu ditanamkan pada tiap muslim. Tawadhu sendiri menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) adalah suatu sikap patuh dan taat melaksanakan aturan agama Islam.

Tawadhu juga kerap identik dengan sikap tunduk secara fisik maupun perkataan. Namun, Prof Nasaruddin Umar mengatakan, tawadhu yang sejati adalah sikap hati, pikiran, maupun jiwa yang tunduk kepada Allah SWT.

"Tawadhu yang sejati bukan hanya (terlihat pada) mulut atau anggota badan yang tunduk. Tapi hati, pikiran, dan jiwa, semua tawadhu terhadap Allah SWT," kata Imam besar Masjid Istiqlal tersebut melalui Mutiara Ramadan detikcom yang tayang pada Rabu (20/4/2022).

Dalam artian, sikap tawadhu yang sebenar-benarnya adalah sikap merasa tidak memiliki kekuatan dan kemampuan apapun selain karena kehendak Allah SWT. Perwujudan ungkapan yang selalu disebut umat muslim dalam salat atau potongan ayat surat Al An'am ayat 162,

إِنَّ صَلاتِي وَنُسُكِي وَمَحْيَايَ وَمَمَاتِي لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ

Bacaan latin: Inna sholati wanusuki wamahyaya wamamati lillahi robbil alamin.

Artinya: "Sesungguhnya salatku, ibadahku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan seluruh alam,"

Kemudian, mantan Wakil Menteri Agama (Wamenag) pertama ini menjelaskan keutamaan dari sikap tawadhu. "Orang yang suka tawadhu, cepat mendaki langit (surga). Tapi orang yang menepuk dada atau angkuh, tidak akan pernah mencium bau surga," tutur dia.

Pernyataan Prof Nasaruddin tersebut dilandasi sebuah riwayat hadits yang menyatakan satu kesombongan menjadi penghalang seseorang masuk surga. Rasulullah SAW bersabda,

لَا يَدْخُلُ الْجَنَّةَ مَنْ كَانَ فِي قَلْبِهِ مِثْقَالُ ذَرَّةٍ مِنْ كِبْرٍ

Artinya: "Tidak akan masuk surga seseorang yang di dalam hatinya terdapat kesombongan sebesar biji sawi," (HR Muslim).

Untuk itulah, Prof Nasaruddin juga mengajak umat muslim untuk memanfaatkan momen bulan Ramadan ini sebaik-baiknya. Khususnya dalam mengganti sikap takabbur atau angkuh dan egois menjadi sikap tawadhu sejati.

Di samping itu, sikap tawadhu juga dapat diterapkan untuk menyertai permintaan mohon ampun kepada Allah SWT. Contoh memohon ampunan dengan sikap tawadhu selengkapnya dapat ditonton melalui Mutiara Ramadan Prof Nasaruddin Umar dengan tema Tawadhu DI SINI.

(rah/erd)

Ranking PTN

Berikut daftar 5 Perguruan Tinggi terbaik Indonesia