Mengapa Tikus Sering Dijadikan Hewan Percobaan? Ini Penjelasan Dosen ITB

Novia Aisyah - detikEdu
Minggu, 03 Apr 2022 07:00 WIB
ITB kampus Cirebon
Penyebab tikus sering digunakan dalam percobaan. Foto: Sudirman Wamad
Jakarta -

Tikus kerap digunakan sebagai hewan percobaan, selain kelinci atau monyet. Menurut dosen Kimia, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Institut Teknologi Bandung (ITB), Fifi Fitriyah Masduki menjelaskan, hal itu karena terdapat kemiripan antara manusia dan tikus dalam segi anatomi.

"Tikus memiliki banyak fungsi anatomi yang mirip dengan yang dimiliki manusia. Selain mirip secara anatomi, genom tikus dan manusia juga seringkali mirip," ujar Fifi dalam kuliah umum program studi Kimia di UIN Sunan Gunung Djati (19/03/2022) seperti dikutip dari situs berita ITB.

Dia mengatakan, sepanjang sejarah tikus begitu kerap terlibat dalam penelitian di berbagai kampus di dunia sebagai animal model. Ada banyak pemenang Nobel yang juga melibatkan hewan pengerat tersebut dalam penelitiannya.

Fifi menyebutkan saat ini banyak perusahaan yang menyediakan budidaya tikus transgenik. Masyarakat juga dapat mengakses informasi di internet, tentang tikus transgenik dalam berbagai riset penyakit terhadap manusia, di mana salah satunya adalah malaria.

"Spesies parasit yang paling banyak menginfeksi manusia melalui penyakit malaria adalah vivax dan falciparum. Bahaya dari spesies falciparum ini merupakan kecepatannya untuk berkembang biak dan menyebar ke berbagai organ tubuh manusia seperti otak melalui peredaran darah," ucap Fifi dalam acara yang memperkenalkan biokimia medis dan aplikasinya itu.

Menurut Fifi, dampak paling mematikan dari penyebaran parasit falciparum ini adalah menyebabkan seseorang sampai koma.

Kemudian, spesies vivax sendiri dapat menginfeksi sel darah merah yang masih dalam tahap perkembangan, yang disebut sebagai retikulosit.

Dosen Kimia ITB tersebut mengatakan, hipotesis-hipotesis tentang identifikasi parasit dalam penyakit malaria bisa dikonfirmasi dengan penelitian memanfaatkan mouse model atau model tikus.

Dari riset tersebut muncullah dua target obat baru untuk penyakit malaria, yakni SUB1 dan DPAP3. Kedua obat ini signifikan untuk parasit falciparum.

Model tikus NMRI digunakan dalam pengujian SUB1 dan SPAP3. Riset tersebut juga didukung dengan Genome Database Plasmodium.



Simak Video "Wagub Pastikan 8 Warga DKI Kena Virus dari Tikus Hoax!"
[Gambas:Video 20detik]
(nah/faz)

Ranking PTN

Berikut daftar 5 Perguruan Tinggi terbaik Indonesia