Apa yang Terjadi jika Bom Nuklir Benar-benar Meledak? Begini Menurut Ilmuwan

Novia Aisyah - detikEdu
Sabtu, 12 Mar 2022 16:00 WIB
Peristiwa bom nuklir oleh sekutu saat perang dunia dua di Kota Hiroshima Jepang terjadi pada 6 Agustus 1945.  Masyarakat Jepang setiap pada tanggal tersebut selalu mengenang peristiwa itu dengan mengirimkan doa kepada korban di Hiroshima Peace Memorial Park.
Dampak jika bom nuklir meledak. Foto: Junko Kimura/Getty Images
Jakarta -

Apabila bom nuklir benar-benar meledak, maka efeknya bergantung pada seberapa banyak senjata yang dijatuhkan. Disebutkan dalam Live Science, menurut Federasi Ilmuwan Amerika, Rusia dan Amerika Serikat mempunyai 90 persen senjata nuklir di dunia.

Rusia mempunyai 1.588 senjata dengan jangkauan setidaknya 3.427 mil atau 5.500 kilometer, juga pangkalan pemboman yang menampung pesawat dengan kapasitas menjatuhkan muatan nuklir.

Sementara, Amerika Serikat memiliki 1.644 buah senjata. Kedua negara ini mempunyai nyaris 5.000 bom aktif di antara mereka.

Maka dari itu, perang nuklir dengan skala penuh bisa saja berpotensi menyebabkan kepunahan yang juga diikuti musim dingin nuklir atau yang disebut dengan pendinginan global.

Dampak Ledakan Bom Nuklir

1. Jatuhnya Korban dalam Radius Tertentu

Sebenarnya ada banyak tipe dan ukuran senjata nuklir, akan tetapi versi modern dari mereka berfungsi melalui memicu reaksi fisi. Apa yang dimaksud fisi adalah pemisahan inti atom berat menjadi yang lebih ringan, hal ini merupakan proses pelepasan neutron.

Dampak jika terjadi ledakan fisi ini terkadang disebut pula sebagai bom atom, yang jenis serupanya pernah menghancurkan Hiroshima dan Nagasaki dengan kekuatan antara 15 dan 20 kiloton TNT.

Sementara, banyak senjata modern lebih berbahaya dari bom Hiroshima dan Nagasaki. Menurut laporan bertajuk 'Preventive Defense Project' yang dipublikasikan Harvard Kennedy School, senjata nuklir berkekuatan 10 kiloton bisa menewaskan 50 persen masyarakat yang berlokasi di radius 3,2 kilometer dari detonasi/ledakan darat. Ini setara dengan bom Hiroshima-Nagasaki.

2. Radiasi

Senjata termonuklir modern mampu memuntahkan bahan radioaktif hingga ke stratosfer yang mana merupakan bagian tengah atmosfer, sehingga memungkinkan dampak secara global. Tingkat radioaktif bergantung pada apakah bom nuklir diledakkan dalam sebuah ledakan di udara ataukah di atas tanah. Jika diledakkan di udara, maka dampak secara global akan lebih buruk tetapi efek langsung di titik nol lebih bisa diredam. Namun, jika diledakkan di atas tanah maka akan sebaliknya.

Selain itu, risiko radioaktif justru paling parah adalah 48 jam pasca ledakan. Buku bertajuk 'Nuclear War Survival Skills' di Oak Ridge National Laboratory juga menyebutkan ketiadaan hujan atau salju bisa menyebabkan materi radioaktif turun ke permukaan tanah lebih cepat.

Menurut buku yang sama, pada waktu 48 jam setelah ledakan, area yang terkena 1.000 roentgen (satuan radiasi ionisasi), hanya akan terpapar radiasi 10 roentgen per jam.

Namun, separuh jumlah penduduk yang terpapar total radiasi sekitar 350 roentgen selama beberapa hari, kemungkinan besar akan meninggal akibat keracunan radiasi akut. Orang yang selamat pun tidak bebas dari bahaya, mereka mendapat risiko kanker selama sisa hidupnya.

3. Bencana Lingkungan

Ledakan bom nuklir bisa saja berdampak terhadap iklim. Sebuah analisis yang diterbitkan dalam 'The Bulletin of the Atomic Scientist' menerangkan, satu atau dua ledakan nuklir memang tidak memiliki efek global. Namun, ledakan 100 bom dengan ukuran yang sama seperti yang dijatuhkan di Hiroshima akan menurunkan suhu Bumi di bawah zaman es circa 1300-1800.

Sebagai gambaran, jika bom nuklir terjadi pada era modern ini, maka bisa terjadi perubahan iklim yang drastis dan tiba-tiba. Sewaktu zaman es kecil, suhu Bumi turun 2 derajat celsius. Pendinginan semacam itu bisa berdampak ke sektor tani dan suplai makanan di era kiwari.

Saksikan juga: Kulineran Asik Dilayani Robot Futuristik

[Gambas:Video 20detik]



(nah/nwy)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

Ranking PTN

Berikut daftar 5 Perguruan Tinggi terbaik Indonesia