Fenomena Aphelion Disebut Bikin Batuk Pilek, Ini Penjelasan Profesor IPB

Kristina - detikEdu
Sabtu, 26 Feb 2022 13:50 WIB
5 Makanan Ini Bikin Batuk Makin Parah
Ilustrasi batuk. Foto: Getty Images/iStockphoto/LarisaBlinova
Jakarta -

Beredar informasi bahwa fenomena aphelion disebut menjadi penyebab batuk dan pilek yang banyak terjadi saat ini. Benarkah demikian? Berikut penjelasan ilmiahnya.

Aphelion sendiri merupakan kondisi di mana bumi berada di titik terjauh dari matahari. Posisi ini umumnya berlangsung pada pertengahan tahun.

Lantas, benarkah kondisi tersebut dapat menyebabkan batuk dan pilek? Guru Besar IPB University bidang Fisika Teori, Prof Husin Alatas, memberikan jawaban ilmiah untuk memverifikasi informasi tersebut.

Menurut Prof Husin, setiap tahun posisi aphelion bumi berlangsung pada kisaran awal bulan Juli dan tahun 2022 ini diprakirakan akan jatuh pada tanggal 4 pukul 14.10 WIB. Jarak antara bumi dan matahari mencapai 152.098.455 kilometer. Sementara, perihelion terjadi pada tanggal 4 Januari pukul 13.52 WIB dengan jarak bumi dan matahari mencapai 147.105.052 kilometer.

Dia melanjutkan, apabila dibandingkan dengan rata-rata jarak antara bumi dengan matahari, maka penyimpangan titik aphelion hanya 1.68 persen, demikian juga dengan titik perihelion. Hal ini bersesuaian dengan nilai eksentrisitas orbit bumi yang bernilai 0.01671 atau dengan kata lain orbit bumi pada hakikatnya hampir berupa lingkaran.

Sementara itu, apabila efek yang ditimbulkan oleh kemiringan poros rotasi bumi dibandingkan terhadap bidang orbit sebesar 23 derajat yang menimbulkan perbedaan musim antara bumi bagian utara dan selatan, maka efek dari aphelion dan perihelion praktis relatif sangat kecil terhadap cuaca di bumi. Artinya, kecil kemungkinan gejala batuk dan pilek disebabkan oleh fenomena aphelion.

"Oleh karena itu, cuaca ekstrim yang dapat menimbulkan dampak bagi kesehatan seperti munculnya gejala batuk dan pilek, kecil kemungkinannya disebabkan oleh kedua posisi bumi dari matahari tersebut," kata Prof Husin, dilansir dari laman IPB University, Sabtu (26/2/2022).

Fenomena aphelion hanya berlangsung sangat singkat. Menurut Husin, sangat sulit untuk merasakan efek dari posisi aphelion dan perihelion.

"Secara fisik sulit untuk merasakan efek dari posisi aphelion dan perihelion, mengingat penyimpangan intensitas energi matahari yang sampai ke bumi dibanding dengan rata-rata tahunan hanya berkisar 3.5 persen saja," tambahnya.

Menurut Sekretaris Eksekutif Center for Transdisciplinary and Sustainability Sciences (CTSS) IPB University ini, kondisi cuaca ekstrim yang terjadi belakangan ini tampaknya lebih disebabkan oleh pemanasan global.

Aphelion dan perihelion merupakan dinamika rutin alam yang terkait dengan orbit bumi yang berbentuk eliptik. Oleh karena itu, tidak perlu diposisikan sebagai sebuah fenomena yang berdampak negatif bagi kesehatan yang dapat dimunculkan pada dinamika cuaca.

"Menghindari hoax terkait fenomena alam yang dikaitkan dengan kondisi buruk tertentu perlu dilakukan dengan mengupayakan sikap kritis dan skeptis, dan bersandar pada sains yang benar dan bukan pada pseudo-sains," tutupnya.



Simak Video "Dahsyatnya Kerusakan Akibat Banjir Bandang di Austria Dilihat dari Udara"
[Gambas:Video 20detik]
(kri/pal)

Ranking PTN

Berikut daftar 5 Perguruan Tinggi terbaik Indonesia