Fenomena Aphelion Disebut Bawa Suhu Dingin, Ini Penjelasannya?

lus - detikEdu
Jumat, 16 Jul 2021 08:30 WIB
Petugas dari Dinas Pertamanan DKI Jakarta menyusun bunga matahari di Kawasan Bundaran HI, Jakarta, Jumat (18/6/2021). Pemasangan bunga matahari itu diketahui untuk mempercantik Ibu Kota jelang hari jadi.
Foto: Rifkianto Nugroho
Jakarta - Fenomena Aphelion ramai dibahas karena dikaitkan menjadi penyebab suhu dingin di sejumlah wilayah di Indonesia. Ini penjelasan BMKG dan Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (Lapan).

Fenomena Aphelion yang terjadi pada Selasa (06/07) kemarin terjadi pada pukul 05.27 WIB. Fenomena ini adalah peristiwa astronomi ketika Bumi beredar di titik paling jauh dari matahari.

Jarak terdekat bumi ke matahari yang terjadi pada 02 Januari 2021 adalah 147.093.163 kilometer (km). Dan pada tanggal 06 Juli 2021 bumi berada sejauh 152.100.527 km dari matahari.

Menurut Kepala Lapan Thomas Djamaluddin, Orbit bumi tidak sepenuhnya lingkaran sempurna tapi bentuk elips. Jadi jarak terdekat dengan matahari disebutnya perihelion yang terjadi setiap Januari dan jarak terjauhnya dari matahari yang disebut aphelion yang terjadi setiap bulan Juli.

"Jadi itu kejadian rutin setiap tahun. Bumi berada pada jarak terdekatnya (dengan matahari) pada bulan Januari dan terjauh pada bulan Juli," jelas Thomas yang dikutip dalam detikNews beberapa waktu lalu.

Sama dengan penjelasan Thomas, dalam situs Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN), peneliti lembaga Andi Pangerang menyebutkan bahwa fenomena ini bisa terjadi karena orbit Bumi yang tidak berbentuk lingkaran sempurna tapi elips dengan kelonjongan 1/60.

Hal ini dapat terjadi karena tidak ada panas dari permukaan Bumi diserap dari cahaya matahari dan dilepaskan di malam hari kemudian dipantulkan kembali oleh awan ke permukaan Bumi. Andi mengatakan bahwa secara umum fenomena aphelion ini tidak berdampak signifikan pada Bumi. Dia juga menjelaskan bahwa suhu dingin di pagi hari beberapa waktu belakangan akan berlangsung hingga bulan Agustus. Akan tetapi, hal ini umum terjadi di musim kemarau karena tutupan awan yang sedikit.

Menurut LAPAN, cuaca dingin yang muncul belakangan dikarenakan tutupan awan yang sedikit sehingga tidak ada panas dari permukaan Bumi (yang diserap dari cahaya Matahari dan dilepaskan pada malam hari) yang dipantulkan kembali ke permukaan Bumi oleh awan.

Posisi bumi yang berada pada titik terjauh dari juga tak mempengaruhi panas yang diterima bumi. Pasalnya panas dari matahari terdistribusi ke seluruh bumi, dengan distribusi paling signifikan mempengaruhi disebabkan oleh pola angin.

Saat posisi matahari di Utara, maka tekanan udara di belahan Utara lebih rendah dibanding belahan Selatan yang mengalami musim dingin.

Oleh karenanya, angin bertiup dari arah Selatan menuju Utara dan saat ini angin yang bertiup itu dari arah Australia yang sedang mengalami musim dingin. Dampak yang ditimbulkan adalah penurunan suhu, khususnya di Pulau Jawa, Bali, dan Nusa Tenggara yang terletak di Selatan khatulistiwa.

Itulah penjelasan mengenai fenomena Aphelion yang terjadi pada bulan Juli. Semoga bisa menambah informasi para siswa ya.





Simak Video "Fakta-fakta Fenomena Aphelion: Matahari Terlihat Lebih Kecil Hari Ini"
[Gambas:Video 20detik]
(lus/erd)

Ranking PTN

Berikut daftar 5 Perguruan Tinggi terbaik Indonesia