Tanggal Merah 28 Februari 2022 Adalah Peristiwa Isra Miraj, Ini Kisahnya

Rahma Indina Harbani - detikEdu
Selasa, 22 Feb 2022 14:30 WIB
Perjalanan Isra Miraj Nabi Muhammad SAW
Ilustrasi peristiwa Isra Mi'raj, yang peringatannya dimulai 28 Februari 2022 sebagai hari libur nasional. (Mindra Purnomo/detikcom)
Jakarta -

Tanggal merah 2022 yang terdekat di bulan Februari adalah peristiwa Isra Miraj Nabi Muhammad SAW. Peristiwa ini diperingati setiap tanggal 27 Rajab menurut sistem penanggalan Hijriah atau 28 Februari 2022 sesuai dengan hasil konversi Hijriah ke Masehi.

Hasil konversi tersebut dilakukan oleh Majelis Tarjih dan Tajdid PP Muhammadiyah melalui kalender digital yang dirilis dengan judul Kalender Islam Global 1443 H. Keputusan konversi kalender ini didasarkan dari Kriteria Kongres Turki yang digelar pada 2016 lalu.

Di Indonesia, pemerintah telah menetapkan peringatan Isra Miraj 2022 sebagai hari libur nasional. Sebagaimana termaktub dalam Surat Keputusan Bersama (SKB) 3 Menteri Nomor 963 Tahun 2021, Nomor 3 Tahun 2021, Nomor 4 Tahun 2021 tentang Hari Libur Nasional dan Cuti Bersama Tahun 2022.

Sebetulnya, apa yang dimaksud dengan peristiwa Isra Mi'raj ini?

A. Kisah peristiwa Isra Miraj

Isra Mi'raj sendiri termasuk dalam salah satu hari besar keagamaan Islam untuk memperingati perjalanan malam yang dilakukan oleh Rasulullah SAW. Perjalanan ini membawa perintah salat lima waktu yang hingga kini dijadikan sebagai pedoman bagi umat muslim.

Pakar astronomis Prof Thomas Djamaluddin menyebut dalam Pengajian Cangkrukan ITB 81, Isra Mi'raj sebagai mukjizat Nabi Muhammad SAW. Sebab, mustahil untuk dilakukan oleh manusia pada masa sekarang.

Secara bahasa, perjalanan Isra Miraj sendiri menjelaskan dua bentuk perjalanan yang dilakukan Rasulullah SAW. Kata Isra menjelaskan perjalanan yang menembus ruang sehingga Rasulullah bisa menempuh jarak Masjidil Haram di Makkah dan Masjidil Aqsa di Palestina dalam waktu singkat.

Di sisi lain, perjalanan Mi'raj adalah perjalanan dari Masjidil Aqsa menuju Sidratul Muntaha, tempat diterimanya perintah salat. Saat perjalanan Mi'raj ini, Rasulullah SAW didampingi oleh Malaikat Jibril untuk menghadap Allah SWT.

Bukti Rasulullah SAW melakukan perjalanan Isra Mi'raj diabadikan dalam sejumlah ayat Al Quran maupun hadits. Sebagaimana disinggung dalam surat Al Isra' ayat 1,

سُبْحَانَ الَّذِي أَسْرَىٰ بِعَبْدِهِ لَيْلًا مِنَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ إِلَى الْمَسْجِدِ الْأَقْصَى الَّذِي بَارَكْنَا حَوْلَهُ لِنُرِيَهُ مِنْ آيَاتِنَا ۚ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ

Artinya: "Maha Suci (Allah), yang telah memperjalankan hamba-Nya (Muhammad) pada malam hari dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia Maha Mendengar, Maha Melihat."

Dalam ayat lain pada surat An Najm ayat 10-18, diceritakan pula bahwa Rasulullah SAW melakukan perjalanan malam Isra Mi'raj ditemani oleh Malaikat Jibril.

(10) فَأَوْحَىٰ إِلَىٰ عَبْدِهِ مَا أَوْحَىٰ
(11) مَا كَذَبَ الْفُؤَادُ مَا رَأَىٰ
(12) أَفَتُمَارُونَهُ عَلَىٰ مَا يَرَىٰ
(13) وَلَقَدْ رَآهُ نَزْلَةً أُخْرَىٰ
(14) عِنْدَ سِدْرَةِ الْمُنْتَهَىٰ
(15) عِنْدَهَا جَنَّةُ الْمَأْوَىٰ
(16) إِذْ يَغْشَى السِّدْرَةَ مَا يَغْشَىٰ
(17) مَا زَاغَ الْبَصَرُ وَمَا طَغَىٰ
(18) لَقَدْ رَأَىٰ مِنْ آيَاتِ رَبِّهِ الْكُبْرَىٰ

Artinya: "Lalu disampaikannya wahyu kepada hamba-Nya (Muhammad) apa yang telah diwahyukan Allah. Hatinya tidak mendustakan apa yang telah dilihatnya. Maka apakah kamu (musyrikin Mekah) hendak membantahnya tentang apa yang dilihatnya itu?"

Dan sungguh, dia (Muhammad) telah melihatnya (dalam rupanya yang asli) pada waktu yang lain, (yaitu) di Sidratul Muntaha, di dekatnya ada surga tempat tinggal, (Muhammad melihat Jibril) ketika Sidratul muntaha diliputi oleh sesuatu yang meliputinya, penglihatannya (Muhammad) tidak menyimpang dari yang dilihatnya itu dan tidak (pula) melampauinya. Sungguh, dia telah melihat sebagian tanda-tanda (kebesaran) Tuhannya yang paling besar."

B. Kisah Miraj saat perintah salat turun

Mengutip Buku Teks Pendidikan Agama Islam pada Perguruan Tinggi Umum karya Furqon Syarief Hidayatullah, dalam perjalanan Mi'raj untuk menerima wahyu salat, Nabi Muhammad yang ditemani Malaikat Jibril mengendarai buraq untuk menghadap Allah SWT.

Buraq tersebut berdasarkan keterangan hadits adalah sejenis hewan berwarna putih yang memiliki sayap di kedua pahanya. Ukuran tubuhnya diketahui lebih besar daripada keledai, namun lebih kecil dari bighal atau kuda.

Perjalanan tersebut harus dilalui Rasulullah dengan melewati langit yang terdiri dari tujuh lapis. Di tiap lapisan langit inilah, Malaikat Jibril memperkenalkan Rasulullah SAW pada para nabi yang mendiami tiap lapisannya.

Setelah menghadap Allah SWT dan menerima perintah salat 50 waktu, Rasulullah SAW kemudian turun kembali dan sampai ke langit keenam bertemu dengan Nabi Musa AS. Pada momen inilah Nabi Musa menyarankan keringanan jumlah salat kepada beliau.

Hingga sampai saat ini, pensyariatan salat yang berlaku bagi umat muslim adalah salat 5 waktu dalam sehari. Cerita ini termaktub dalam hadits yang berbunyi sebagai berikut,

هِيَ خَمْسٌ، وَهِيَ خَمْسُونَ، لاَ يُبَدَّلُ القَوْلُ لَدَيَّ". قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: "فَرَجَعْتُ إِلَى مُوسَى، فَقَالَ: رَاجِعْ رَبَّكَ. فَقُلْتُ: اسْتَحْيَيْتُ مِنْ رَبِّي

Artinya: "Lima waktu itu setara dengan lima puluh waktu. Tak akan lagi berubah keputusanKu." Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, "Aku kembali bertemu dengan Musa. Ia menyarankan, 'Kembalilah menemui Rabbmu'. Kujawab, 'Aku malu pada Rabbku'." (HR Bukhari)

Kisah di atas dapat menjadi bukti mengapa Isra Miraj menjadi salah satu hari besar keagamaan Islam. Hingga pada 28 Februari 2022, terpilih menjadi tanggal merah di bulan Februari 2022 untuk memperingatinya.



Simak Video "Polisi India Tembak Mati 2 Pedemo soal Pelecehan Nabi Muhammad"
[Gambas:Video 20detik]
(rah/row)

Ranking PTN

Berikut daftar 5 Perguruan Tinggi terbaik Indonesia