Puasa Ramadhan 22 Jam di Islandia, Bisa Korting Waktu Jadi 18 Jam?

Rahma Indina Harbani - detikEdu
Jumat, 04 Feb 2022 08:00 WIB
Ilustrasi Ramadhan atau buka puasa
Ilustrasi puasa Ramadhan, yang pelaksanaannya di Islandia pernah mencapai 22 jam dalam sehari. (Getty Images/iStockphoto/Muratani)
Jakarta -

Adanya kemiringan sumbu rotasi bumi dalam mengitari matahari mengakibatkan durasi lamanya puasa di tiap negara menjadi beragam. Di Islandia, puasa Ramadhan tahun 2018 bahkan sempat mencapai hingga 22 jam.

Kemiringan sumbu rotasi bumi tersebut membuat sejumlah negara menerima cahaya matahari lebih lama dibandingkan negara lainnya. Khususnya, bagi negara-negara yang terletak belahan bumi utara garis khatulistiwa.

Sebagai negara yang jarang terpapar sinar matahari setiap harinya ini, Islandia tentu memberi pengaruh bagi 1.000 muslim lebih di sana. Muslim di Islandia hanya memiliki waktu sekitar 2 jam saja untuk menikmati makan dan minum di malam harinya.

Seperti halnya, Sulaman, salah satu muslim di Islandia yang memulai sahur pada pukul 2 pagi. Kemudian, ia baru mulai berbuka puasa pada pukul 11 malam.

"Saya berpuasa hampir 22 jam karena Islam mengajarkan waktu puasa mulai dari sebelum fajar hingga matahari terbenam," kata Sulaman, dikutip dari video dokumenter BBC dan dilihat detikEdu pada Kamis (3/2/2022).

Lain halnya bagi Mansoor. Seorang imam dari komunitas kecil muslim di Reykjavik, Islandia ini justru memilih untuk mempersingkat waktu puasanya menjadi 18 jam.

Mansoor mengaku, ia bersama muslim lain memilih memperpendek waktu karena jadwal buka puasa di Islandia sendiri dinilai terlalu malam. Selain itu, Mansoor merujuk pada sebuah ayat Al Quran yang menyebut keringanan Allah SWT.

"Saat kami baca salah satu ayat dalam Al Quran tentang puasa, Allah SWT sendiri berfirman bahwa Dia memberikan keringanan untuk hambaNya," kata Mansoor.

Tidak hanya itu, Mansoor bahkan menyoroti fakta di lapangan terkait pelaksanaan puasa penuh waktu atau 22 jam di Islandia. Ia mengungkap, sejumlah muslim bahkan dikabarkan jatuh pingsan karena menjalani puasa hampir seharian.

"Kami juga mendengar contoh kasus tertentu di mana orang-orang (sampai) pingsan karena durasi waktu puasa yang panjang," tutur dia.

Berdasarkan kedua kisah Sulaman dan Mansoor di atas, ternyata muslim di negara dengan durasi puasa terlama memilikinya caranya masing-masing dalam menunaikan ibadah puasa Ramadhan. Perbedaan anutan bagi muslim di Islandia ternyata merupakan fenomena yang tidak dapat terelakkan.

"Perbedaan pendapat tentang waktu buka puasa dan sahur (dapat) terlihat pada jadwal Ramadhan di masjid-masjid, yang terletak di ibu kota Islandia, Reykjavik. Mereka (muslim Islandia) terbelah antara 2 jadwal Ramadhan karena matahari hampir tidak pernah terbenam di bagian Islandia saat musim panas," tulis Daily Sabah.

Menariknya, golongan muslim di Islandia ternyata terbagi ke dalam dua kelompok. Bagi pengikut Masjid El-Nur Reykjavik, mereka menjalankan ibadah puasa Ramadhan selama 18 jam, seperti Mansoor.

Di sisi lain, ada pula kelompok muslim yang mengadopsi jadwal Pusat Kebudayaan Islam Islandia. Kelompok ini cenderung didominasi oleh orang-orang Arab yang berpuasa selama 22 jam. Seperti halnya Sulaman, seorang warga berkebangsaan Pakistan yang tinggal di Islandia.

Dasar penentuan puasa 18 jam oleh kelompok muslim di Islandia

Mengenai permasalahan perbedaan jadwal buka dan sahur Ramadhan di Islandia, salah satu imam di Masjid El-Nur Ismail Malik mengemukakan pendapatnya. Ia menyebut, kelompok muslim di masjidnya menganut isi fatwa dari Dewan Fatwa dan Penelitian Eropa dan Fatwa Ezher.

Berdasarkan isi fatwa tersebut, kata Malik, tidak ada kewajiban bagi seorang muslim di Islandia untuk berpuasa selama 22 jam. Dalam artian, fatwa tersebut mengisyaratkan kebolehan persingkat waktu puasa.

"Di masjid ini, kami mengikuti Dewan Fatwa dan Penelitian Eropa dan ketetapan jadwal Ramadhan pada 45 LU (lintang utara). Selain fatwa dewan, di Eropa juga ada Fatwa Ezher," jelas Malik.

"Fatwa ini (Fatwa Ezher) mengisyaratkan bahwa puasa dapat dipersingkat dan tidak ada kewajiban bagi seseorang untuk berpuasa selama 22 jam. Sebab, puasa selama 22 jam adalah sesuatu yang sulit diterapkan," lanjut dia.

Malik menyebutkan, waktu berbuka bagi kelompok muslim Masjid El-Nur adalah sekitar pukul 9 malam. Dua jam lebih cepat dibandingkan dengan waktu normal puasa Ramadhan di Islandia yang berbuka pada pukul 11 malam.

Sejalan dengan keyakinan kelompok muslim Masjid El-Nur, salah seorang warga muslim Islandia Mercan Koca juga memilih berpuasa selama 18 jam. Ia mengaku puasa selama 22 jam terlalu memberatkan untuknya, terutama bagi kaum pekerja dan orang tua seperti dirinya.

"Beberapa dari mereka (muslim Islandia) berpuasa selama 18 jam, sementara beberapa lebih memilih untuk berpuasa selama 22 jam. Kami (Koca dan keluarga) berpuasa selama 18 jam karena puasa 22 jam itu berat bagi kami," jelas dia.

Lebih lanjut, atase urusan agama Turki di Inggris Mahmud Özdemir turut berpendapat. Menurutnya, bagi sejumlah negara di dunia ini memang ada yang kesulitan dalam menentukan jadwal puasa Ramadhan. Sebab itu, Özdemir menekankan praktik pelaksanaan puasa diserahkan pada keyakinan masing-masing.

"Praktik (pengerjaan puasa Ramadhan) ini diserahkan kepada pilihan umat Islam," tandasnya.



Simak Video "Cara Buka Puasa yang Baik Agar Perut Tak Kaget"
[Gambas:Video 20detik]
(rah/lus)

Ranking PTN

Berikut daftar 5 Perguruan Tinggi terbaik Indonesia