Viral Kerangkeng di Rumah Bupati Langkat, Begini Sejarah Perbudakan di Dunia

Kristina - detikEdu
Kamis, 27 Jan 2022 12:55 WIB
Ilustrasi perbudakan di dunia.
Ilustrasi perbudakan. Foto: John Raphael Smith/Courtesy of the Rijksmuseum, Amsterdam
Jakarta -

Belakangan ini ramai dugaan perbudakan yang dilakukan oleh Bupati Langkat, Terbit Rencana Perangin Angin. Saat ini polisi sedang mendalami kasus tersebut.

Diberitakan detikNews, dugaan perbudakan ini bermula dari laporan yang diterima Migrant CARE terkait adanya penemuan kerangkeng manusia di rumah Terbit Rencana. Kerangkeng tersebut digunakan untuk menampung para buruh yang dipekerjakan di kebun kelapa sawit.

Terlepas dari itu, aktivitas perbudakan sendiri diketahui sudah ada sejak ribuan tahun yang lalu. Untuk lebih jelasnya, simak sejarah perbudakan di dunia berikut ini.

Sejarah Perbudakan di Dunia

Perbudakan merupakan kondisi di mana seorang manusia dimiliki oleh manusia lainnya. Secara hukum, seorang budak dianggap sebagai properti atau barang. Mereka juga kehilangan sebagian besar haknya sebagai manusia bebas pada umumnya.

Dilansir dari Ensiklopedia Britannica, budak diperoleh dari banyak cara. Mayoritas yang sering dilakukan adalah penangkapan dalam perang sebagai bentuk insentif bagi para pejuang dan salah satu cara untuk menyingkirkan musuh.

Selain itu, budak juga dapat diperoleh dengan cara penculikan dalam ekspedisi perampokan budak atau pembajakan. Beberapa orang juga diperbudak sebagai hukuman atas kejahatan atau utang. Sementara yang lain dijual sebagai budak oleh orang tua atau kerabat mereka untuk alasan tertentu.

Aktivitas perbudakan sendiri diketahui sudah berlangsung sejak 3500 SM di Mesopotamia, salah satu peradaban paling kuno di dunia. Bangsa Sumeria, Babilonia, dan Asyur semuanya memiliki budak untuk dipekerjakan di istana, irigasi/pertanian, dan kuil, menurut Facts and Details.

Di wilayah Asia, perbudakan diketahui telah ada sejak dinasti Shang (abad ke-18-12 SM) di Tiongkok. Aktivitas tersebut telah dipelajari secara menyeluruh di China Han kuno (206 SM-25 M). Diprakirakan sebanyak 5 persen dari populasi wilayah tersebut diperbudak.

Perbudakan terus menjadi ciri masyarakat Tiongkok hingga abad ke-20. Mayoritas pada periode tersebut budak dihasilkan dengan cara yang sama seperti di tempat lain, termasuk penangkapan dalam perang, perampokan budak, dan penjualan debitur yang tidak mampu membayar.

Selain Tiongkok, Korea memiliki populasi budak yang sangat besar, mulai dari sepertiga hingga setengah dari seluruh populasi selama sebagian besar milenium antara periode Silla dan pertengahan abad ke-18. Sebagian besar budak Korea merupakan orang pribumi.

Perbudakan juga ada di India kuno, yang tercatat dalam Hukum Sansekerta Manu abad ke-1 SM. Lembaga tersebut sedikit terdokumentasi sampai kolonial Inggris pada abad ke-19 menjadikannya sebagai objek studi karena keinginan mereka untuk menghapusnya.

Perbudakan juga dipraktikkan secara luas di wilayah lain di Asia. Seperempat sampai sepertiga penduduk di beberapa daerah di Thailand dan Burma (Myanmar) masing-masing adalah budak pada abad ke-17 hingga ke-19 dan pada akhir abad ke-19 dan awal abad ke-20.

Masyarakat lain di Filipina, Nepal, Malaya (sekarang Malaysia), Indonesia, dan Jepang diketahui melakukan perbudakan dari zaman kuno hingga zaman sekarang. Hal yang sama juga terjadi di antara berbagai bangsa yang mendiami wilayah Asia Tengah, orang Mongol, Kalmyk, Kazakh, dan banyak orang Turki, yang sebagian besar masuk Islam.

Simak Video 'Isi 'Brankas' Bupati Langkat: Usai Kerangkeng, Kini 7 Hewan Langka':

[Gambas:Video 20detik]



(kri/nwy)

Ranking PTN

Berikut daftar 5 Perguruan Tinggi terbaik Indonesia