Seperti Apa Ya Rasanya Hidup di Zaman Romawi Kuno? Ini Gambarannya

Trisna Wulandari - detikEdu
Minggu, 23 Jan 2022 16:00 WIB
POMPEI, ITALY - APRIL 12:  Tourists visit the Terme del Foro (Forum Bath)  at the archaeological site on April 12, 2014 in Pompei, Italy.  The Italian government has enacted a series of provisions for the strengthening of the private security inside the archaeological site, following the recent theft of part of the fresco of Artemis. In 2013 Pompeii was visited by almost 2.5 million tourists.  (Photo by Giorgio Cosulich/Getty Images)
Tempat pemandian Pompeii di Italia peninggalan Romawi kuno. Begini rasanya hidup di zaman Romawi kuno. Foto: Getty Images/Giorgio Cosulich
Jakarta -

Peradaban Romawi Kuno dibangun orang Roma dan sekitarnya sejak sekitar 3.000 tahun lalu. Salah satu peradaban tertua di dunia ini hidup dari penduduk yang beragam. Roma, kota kosmopolitan saat itu, merupakan tempat bernaung orang Spanyol, Yunani, Afrika Utara, Inggris, Galia, Suriah, dan Yahudi. Seperti apa rasanya hidup di zaman Romawi kuno?

Dikutip dari World History Encyclopedia, kehidupan orang Romawi kuno berbeda-beda berdasarkan status ekonominya. Saat itu, penduduk republik kuno ini terdiri atas kelompok keluarga ningrat (patrician), jelata (plebian), dan budak yang sempat tidak diberi status kewarganegaraan Romawi.

Bagaimana rasanya hidup di zaman Romawi kuno?

Makan berat malam hari

Umumnya, orang Romawi kuno menghabiskan hari dengan rangkaian bangun pagi-kerja-bersantai-makan seperti masyarakat modern. Hanya saja, aktivitas tersebut berbeda-beda bagi orang biasa dan orang kaya. Orang kaya umumnya mandi air panas, makan malam, dan mengecek kegiatan belajar anak-anaknya tiap hari. Para budak bertugas memanaskan air mandi, memasak, dan mengajar anak-anak orang kaya tersebut.

Sementara itu, orang miskin umumnya tidak punya akses ke pendidikan seperti itu. Para orang miskin di zaman Romawi kuno tinggal di rumah petak kumuh dan kadang-kadang hidup dari sumbangan kota. Makanan juga didapat dari jatah gandum bulanan. Untuk minum, warga miskin memperoleh sumber air dari air mancur umum.

Warga kelas menengah juga tidak makan daging kecuali sisa persembahan dewa karena masih dianggap terlalu mahal. Sebagai gantinya, kalangan orang biasa saat itu makan olahan sereal, roti, sayuran, minyak zaitun, dan minum anggur di malam hari. Pagi dan siangnya diisi dengan makan roti.

Kerja sampai siang, main sampai sore

Orang Romawi kuno umumnya aktif di sektor perdagangan, mulai dari makanan sehari-hari hingga bisnis kayu. Orang miskin umumnya melayani orang kaya sebagai bidan, penjahit, dan penata rambut. Sementara itu, budak berprofesi sebagai pekerja kasar, guru, dokter, ahli bedah, dan arsitek.

Orang kaya di zaman Romawi kuno berbisnis hanya di pagi hari. Sementara itu, kalangan menengah bekerja dari terbit fajar sampai siang hari sepanjang 6 jam. Beberapa pedagang terkadang membuka toko lagi di sore hari. Tetapi, orang Romawi umumnya mencari hiburan selepas siang hingga jam makan malam.

Sore hari di peradaban Romawi kuno kerap jadi waktu menggelar kompetisi gladiator, balapan kereta, gulat, hingga teater. Hiburan menonton pertunjukan dan pertandingan ini adalah hiburan bagi semua kalangan masyarakat, bahkan ketika terjadi krisis ekonomi. Keramaian di arena olahraga, amphiteater, dan basilika seperti Circus Maximus, arena olahraga Colosseum, dan Teater Pompeii adalah pemandangan umum sore hari saat itu.

Pemandian umum di mana-mana

Setelah beraktivitas dan menonton pertandingan, orang Romawi kuno biasanya melepas lelah di tempat pemandian sebelum pulang untuk makan malam. Umumnya, tempat pemandian ini gratis di hari libur dan sangat murah di hari biasa. Fasilitas dasarnya mencakup ruang relaksasi, ruang sauna, dan ruang pendinginan. Budak bertugas untuk menjaga panas di berbagai ruangan dan melayani orang kaya.

Pendirian tempat pemandian juga merupakan cara kaisar untuk menjaga popularitas. Sebab, tempat pemandian juga punya peran sebagai tempat bersosialisasi dan berbisnis. Para kaisar dan pebisnis umumnya mendirikan tempat pemandian lengkap dengan gym, pusat kesehatan, kolam renang, dan tempat prostitusi untuk orang kaya.

Pada tahun 33 SM, ada 170 tempat pemandian di Roma. Kelak pada tahun 400 M, ada lebih dari 800 tempat pemandian se-Roma, termasuk pemandian mewah yang didirikan kaisar seperti Baths of Trajan, Caracalla, dan Diocletian.

Libur panjang

Selama masa Kaisar Claudius menjabat (41-54 M), ada 159 hari libur berbisnis di kalender. Perlu diketahui, aktivitas orang Romawi kuno saat itu tidak mengenal hari libur mingguan seperti Sabtu dan Minggu di Indonesia saat ini.

Kaisar Marcus Aurelius kelak menganggap kebijakan tersebut terlalu ekstrem. Karena itu, Marcus Aurelius memutuskan harus ada setidaknya 230 hari bisnis selama satu tahun di masa kepemimpinannya (161-180 M). Berdasarkan kalender Julian, yang satu tahun terdiri dari 365 hari, maka 135 hari libur setiap tahun di masa Kaisar Marcus Aurelius.

Perempuan dan laki-laki di rumah

Orang Romawi kuno menggunakan konsep paterfamilias, yang menetapkan laki-laki sebagai kepala rumah tangga yang berkuasa penuh. Saat itu, kepala rumah tangga bisa menolak anak yang membantahnya, anak perempuan, anak difabel, atau siapa saja yang tidak ia inginkan di keluarga. Ia juga berhak menjual anak sebagai budak.

Di akhir periode republik, penerapan kekuasaan ekstrem patria potestas ini berkurang. Perempuan Romawi kuno kemudian dapat bekerja sebagai pembuat roti, apoteker, dan penjaga toko. Seorang perempuan saat itu juga mulai diperkenankan mengajukan mengajukan perceraian.

Saat itu, perempuan mulai boleh keluar dari area rumah, duduk bersama suaminya saat makan malam, pergi ke pemandian meskipun tidak pada waktu yang sama dengan laki-laki, menghadiri teater, dan mengikuti permainan.

Nah, itu dia sekilas gambaran kehidupan di zaman Romawi kuno. Apakah detikers juga menghabiskan sore hari seperti orang Romawi kuno?



Simak Video "Wujud Toilet Portabel yang Diduga Ada Sejak Zaman Romawi Kuno"
[Gambas:Video 20detik]
(twu/lus)

Ranking PTN

Berikut daftar 5 Perguruan Tinggi terbaik Indonesia