Kenapa Negara Tidak Mencetak Uang Sebanyak-banyaknya agar Bebas Utang?

Trisna Wulandari - detikEdu
Jumat, 31 Des 2021 17:00 WIB
Counting money
Kenapa negara tidak mencetak uang sebanyak-banyaknya saja? Foto: Getty Images/iStockphoto/Yamtono_Sardi
Jakarta -

Utang negara tidak hanya dimiliki negara berkembang seperti Indonesia, namun juga negara maju. Contoh, Amerika Serikat punya utang 28,43 triliun dollar di pengujung 2021, seperti dikutip dari laman resmi pemerintah AS.

Lantas, kenapa negara tidak mencetak uang sebanyak-banyaknya agar bebas utang dan mengangkat kemiskinan warganya?

Kenapa Negara Tidak Mencetak Uang Sebanyak Mungkin

Muncul Utang

Secara teknik, ketika pemerintah mencetak uang, maka dalam neraca pemerintah juga akan muncul 'kewajiban' berupa utang, seperti dikutip dari Rerangka Dasar Akuntansi Berdasarkan Syariah oleh Ihda Arifin Faiz.

Apabila uang yang dicetak tidak ditopang komoditas, maka pertambahan neraca pemerintah di sisi aset dengan bertambahnya uang menjadi ilusi semata. Sebab, faktanya, pemerintah tidak punya apa-apa untuk membayar utang tersebut.

Kondisi ini salah satunya terjadi di Argentina. Negara ini mencetak uang baru dengan nilai 54% dari pendapatannya, lalu naik jadi 86% pada tahun 1985-1990. Alhasil, nilai peso terus melemah dan tidak stabil. Masyarakat akhirnya tidak percaya peso dan mulai pindah ke mata uang dolar AS.

Nilai Uang Tidak Berarti

Jika makin banyak uang yang beredar tidak diikuti dengan makin banyak barang yang ada di pasar, maka harga barang tersebut naik lebih tinggi karena jadi lebih langka dan dicari. Alhasil, nilai uang yang sudah dicetak banyak malah jadi tidak berarti.

Inflasi

Inflasi muncul saat penggunaan uang tidak ditopang komoditas. Contoh, Inggris dan Jerman merasakan inflasi ini saat negaranya tidak ditopang emas sekitar awal 1900-an, namun mencetak uang demi membiayai perang.

Pada 1914, Bank of England menerbitkan uang kertas dengan pertumbuhan 41,2 persen untuk membiayai kebutuhan perang. Alhasil, inflasi naik jadi 13,5 persen.

Kondisi inflasi juga terjadi di Jerman saat masa Perang Dunia I. Kebutuhan dana yang besar untuk perang membuat Jerman meninggalkan emas sebagai mata uang Mark. Alhasil, harga komoditas naik pada 1923.

Harga sepotong roti saat perang di Jerman bahkan mencapai 200 miliar Mark. Ibu-ibu Jerman saat itu menjadikan uang kertas Mark sebagai bahan bakar karena nilainya lebih rendah dari kayu bakar.

Nah, itu dia penyebab kenapa negara tidak mencetak uang sebanyak-banyaknya agar bebas utang. Alih-alih bebas, pencetakan uang yang tidak terkendali justru membuat utang negara bertambah dan harga barang naik di mana-mana.



Simak Video "Polisi Ringkus 12 Tersangka Pengedar Uang Palsu Jaringan Jakarta & Jatim "
[Gambas:Video 20detik]
(twu/lus)

Ranking PTN

Berikut daftar 5 Perguruan Tinggi terbaik Indonesia