Gelar Almarhum dan Almarhumah, Apa Penggunaan Katamu Sudah Tepat?

Rahma Indina Harbani - detikEdu
Kamis, 30 Des 2021 14:30 WIB
Kegiatan ziarah di TPU wilayah Jabodetabek ditiadakan sejak Rabu (12/5) hingga 16 Mei mendatang. Kondisi TPU Karet Bivak, Tanah Abang, Jakarta Pusat, sepi dari peziarah.
Ilustrasi kuburan. (Foto: Rifkianto Nugroho)
Jakarta -

Bagi masyarakat Indonesia, gelar almarhum dan almarhumah biasanya disematkan untuk orang yang sudah meninggal. Gelar almarhum untuk jenazah yang berjenis kelamin laki-laki, kemudian gelar almarhumah untuk jenazah perempuan.

Lantas, apa makna di balik gelar ini dan seperti apa penggunaannya yang tepat?

A. Makna Almarhum dan Almarhumah

Melansir dari laman resmi Muhammadiyah, gelar almarhum dan almarhumah bila ditelisik dari asal katanya, keduanya sama-sama berasal dari bahasa Arab. Keduanya berasal dari kata rahimullah yang artinya semoga Allah merahmatinya.

Jadi, secara istilah, gelar almarhum dan almarhumah pada dasarnya bermakna laki-laki dan perempuan yang dirahmati atau dikasihi.

"Almarhum dan almarhumah berasal dari bahasa Arab yang berarti laki-laki dan perempuan yang dirahmati atau dikasih," tulis Muhammadiyah.

Namun, setelah diserap ke dalam bahasa Indonesia, kata almarhum dan almarhumah mengalami perubahan makna.

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), gelar almarhum dan almarhumah mengandung tiga arti di antaranya, 1) yang dirahmati Allah (sebutan kepada orang Islam yang telah meninggal); 2) yang telah meninggal; mendiang, 3) kata untuk menyebut orang yang telah meninggal.

Meskipun demikian, kedua kata tersebut tetap mengandung doa bagi orang yang telah meninggal. Khususnya untuk orang Islam.

B. Penggunaan Gelar Almarhum dan Almarhumah

Berdasarkan penjelasan dari laman Muhammadiyah, penggunaan gelar almarhum dan almarhumah hanya boleh diperkenankan bagi umat muslim. Di luar dari itu, seperti jenazah bagi orang kafir tidak diperkenankan menggunakan gelar ini.

Umat muslim lebih disarankan untuk menggunakan kata mendiang bagi mereka. Hal ini dilandasi dari salah satu firmanNya melalui surat Al Baqarah ayat 161-162 yang berbunyi,

إِنَّ الَّذِينَ كَفَرُوا وَمَاتُوا وَهُمْ كُفَّارٌ أُولَئِكَ عَلَيْهِمْ لَعْنَةُ اللَّهِ وَالْمَلَائِكَةِ وَالنَّاسِ أَجْمَعِينَ (161)
خَالِدِينَ فِيهَا لَا يُخَفَّفُ عَنْهُمُ الْعَذَابُ وَلَا هُمْ يُنْظَرُونَ (162)

Artinya: "Sesungguhnya orang-orang kafir dan mereka mati dalam keadaan kafir, mereka itu mendapat laknat Allah, para malaikat dan manusia seluruhnya. Mereka kekal di dalam laknat itu; tidak akan diringankan siksa dari mereka dan tidak (pula) mereka diberi tangguh."

Selain itu, dijelaskan pula dalam surat Al Baqarah ayat 217,

وَمَنْ يَرْتَدِدْ مِنْكُمْ عَنْ دِينِهِ فَيَمُتْ وَهُوَ كَافِرٌ فَأُولَئِكَ حَبِطَتْ أَعْمَالُهُمْ فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ وَأُولَئِكَ أَصْحَابُ النَّارِ هُمْ فِيهَا خَالِدُونَ

Artinya: "Barangsiapa yang murtad di antara kamu dari agamanya, lalu dia mati dalam kekafiran, maka mereka itulah yang sia-sia amalannya di dunia dan di akhirat, dan mereka itulah penghuni neraka, mereka kekal di dalamnya."

Berdasarkan dalil di atas juga, gelar almarhum dan almarhumah tidak diperkenankan untuk disematkan bagi jenazah mereka yang murtad. Sebab, disebutkan dalam ayat di atas bahwa orang-oran murtad sudah dapat dipastikan akan meninggal dalam keadaan kufur atau kekafiran.

"(Orang murtad) tidak akan mendapat rahmat dari Allah, bahkan mereka itu mendapat laknat atau kutukan dan mendapat siksaan selama-lamanya di neraka," bunyi penjelasan dari situs Muhammadiyah.

Wallahu'alam.



Simak Video "Achmad Yurianto, dari Dokter Militer hingga Jubir Covid-19"
[Gambas:Video 20detik]
(rah/lus)

Ranking PTN

Berikut daftar 5 Perguruan Tinggi terbaik Indonesia