Benarkah Tes IQ Bisa Mengukur Kecerdasan dengan Tepat? Ini Faktanya

Fahri Zulfikar - detikEdu
Senin, 27 Des 2021 14:50 WIB
Five years old boy drawing at the psychotherapy session.
Foto: Getty Images/mmpile/Ilustrasi Tes IQ
Jakarta -

Tes IQ merupakan sebuah asesmen atau penilaian yang mengikuti serangkaian kemampuan kognitif dan memberikan skor yang mempresentasikan kemampuan dan potensi intelektual seseorang.


Tes IQ yang pertama kali dikembangkan oleh psikolog asal Prancis Alfred Binet adalah alat ukur kecerdasan yang paling banyak digunakan di dunia.


Angka IQ 100 menunjukkan bahwa kecerdasan berada di tingkat rata-rata, kemudian dengan angka di atas 130 dianggap jenius, sementara mereka yang berada di bawah angka 70 dinilai memiliki gangguan kecerdasan.


Diakui atau tidak, tes IQ masih dianggap sebagai ukuran kecerdasan seseorang. Hal ini tentu wajar saja mengingat apa saja yang berkaitan dengan IQ masih menjadi perhatian utama bagi banyak orang.


Namun, di sisi yang lain, ternyata ada beberapa fakta tentang tes IQ yang bisa mengubah pandangan tentang nilai kecerdasan. Berikut rangkumannya dikutip dari laman sekolah BPK Penabur.


1. Tes IQ Hanya Menguji Bidang Tertentu


Menurut Dr Tony Florio, seorang psikolog klinis dan pengajar senior di Universitas New South Wales di Sydney, tes IQ yang ada sekarang ini hanya menguji kecerdasan di bidang tertentu saja.


"Teori saya mengatakan bukan bahwa angka tes IQ sekarang menurun, namun tes IQ tidak beradaptasi dengan bagaimana otak kita bekerja sekarang ini." kata Florio.


Menurut Florio, tes IQ yang ada sekarang hanya menguji kecerdasan di bidang tertentu saja, sehingga sebenarnya kegunaannya terbatas.


Dalam penelitiannya mengenai kegunaan tes IQ, ia mengatakan bahwa yang diuji dalam tes adalah penguasaan bahasa, pengetahuan umum dan pemecahan masalah. Namun menurutnya, tes tersebut tidak menguji mengenai motivasi, kepribadian dan kreativitas.


2. Tes IQ Pertama Kali Dilakukan untuk Mendeteksi Keterbelakangan Mental


Tes IQ yang satu ini sering kali digunakan untuk mendeteksi kecerdasan dan kesuksesan karier seseorang. Padahal tes ini semula digunakan untuk mendeteksi adanya keterbelakangan mental. Dulu, skor tes IQ di bawah 70 dianggap sebagai keterbelakangan mental.


3. Tes IQ Mulanya Diperoleh dengan Formula Tertentu


Seratus tahun yang lalu, tes IQ dihitung dengan cara membagi usia mental seseorang dengan umur sebenarnya. Hasilnya kemudian dikalikan 100 untuk mendapatkan skor akhir yang sebenarnya. Tentu saja hal ini kurang akurat bagi mereka yang telah memasuki usia dewasa.


Saat ini, perhitungan skor diperoleh dengan cara membandingkan kemampuan seseorang dengan kemampuan kelompok usia yang sama, yang lagi-lagi, belum tentu akurat.


4. Tes IQ Bias Budaya dan Etnis


Sensitivitas pengukuran terhadap budaya dan etnis seseorang menjadi salah satu kritik yang sering ditunjukkan dalam tes IQ. Terutama ketika menyangkut budaya timur dan barat.


Alasannya, tes ini belum mempertimbangkan tingkat kognitif, kemampuan komunikasi serta nilai-nilai yang dianut oleh etnis dan budaya setempat.


5. IQ Dipengaruhi oleh Lingkungan


Faktor lingkungan, seperti nutrisi, kondisi sosial ekonomi, stres, dukungan dan perilaku sosial sangat mempengaruhi skor IQ. Para peneliti juga menemukan bahwa kualitas pendidikan seseorang sangat berpengaruh terhadap tinggi rendah skor yang diperoleh seseorang.


Fakta tentang IQ ini juga didukung oleh sebuah studi yang menyebutkan bahwa, skor tes IQ seseorang bisa saja meningkat seiring meningkatnya usia sosial. Ini terjadi karena dengan adanya pertambahan usia, seseorang tentunya akan bertambah wawasan dan pendidikannya.


6. Menganggur Bisa Menurunkan IQ


IQ bukanlah nilai konstan, bisa naik dan turun. Ketika seseorang berhenti menggunakan otaknya untuk berpikir kreatif, akan ada kemungkinan skornya juga akan menurun. Hal ini dipengaruhi oleh kegiatan yang menurun sehingga tidak ada aktivitas yang mengasah kemampuan berpikirnya.


7. Balita yang Terpapar Junk Food Berpotensi Memiliki IQ Lebih Rendah


Banyak peneliti memberikan kesimpulan bahwa anak-anak yang mulai mengenal junk food atau makanan cepat saji pada usia kurang dari 2 tahun, akan mengalami penurunan skor kecerdasan begitu mereka memasuki usia 8 tahun.

Hal itu karena sebaiknya anak-anak mengonsumsi makanan tinggi vitamin dan mineral, agar memberikan hasil yang lebih baik pada pertumbuhannya.


Nah, itulah fakta-fakta tentang tes IQ. Secara persentase, skor IQ memang penting, namun bukan yang paling penting. Sebab masih ada kecerdasan visual, emosi, auditori, juga atensi yang juga perlu seseorang miliki agar bisa memanfaatkan IQ-nya dengan maksimal.



Simak Video "Jangan 'Jebak' Anak ke Psikolog"
[Gambas:Video 20detik]
(faz/nwy)

Ranking PTN

Berikut daftar 5 Perguruan Tinggi terbaik Indonesia