Jejak Kota Kuno Çatalhöyük: Bukti Menetapnya Manusia Nomaden

Trisna Wulandari - detikEdu
Sabtu, 25 Des 2021 13:45 WIB
Kenampakan pemukiman Çatalhöyük.
Kenampakan pemukiman kota kuno Çatalhöyük, Turki. Manusia saat itu masuk dari atap. Foto: Wikimedia Commons/Omar Hoftun
Jakarta -

Kota kuno Çatalhöyük (dibaca: cha-tel hu-yek) adalah kota yang dibangun sekitar 9.000 tahun lalu di zaman batu Neolitikum. Situs warisan budaya UNESCO di Turki ini merupakan gabungan sejumlah desa yang membentuk peradaban urban. Apakah kamu tahu, kota kuno Çatalhöyük merupakan bukti sejarah revolusi manusia nomaden jadi menetap?

Sisa rumah-rumah di kota kuno Çatalhöyük terbuat dari bata lumpur. Sekitar 10.000 manusia zaman batu saat itu mengembangkan kesenian, agama, budaya, dan beradaptasi dengan hidup menetap dan lebih santai ketimbang berburu, seperti dikutip dari laman Go Turkiye.

Kota kuno Çatalhöyük bertahan lebih dari 2.000 tahun sebagai kota dengan berbagai bentuk. Bagaimana bisa manusia nomaden membangun pemukiman dan perkotaan yang bertahan sebegitu lama? Begini ceritanya.

Kota Kuno Çatalhöyük dari Zaman Batu

Aliran Sungai dan Tanah Pertanian

Matahari tenggalam di gundukan bukit timur Çatalhöyük.Matahari tenggalam di gundukan bukit timur Çatalhöyük. Foto: Catalhoyuk Research Project/Jason Quinlan

Çatalhöyük dalam bahasa Turki berarti 'bukit bercabang'. Sebuah sungai pernah mengalir di antara dua bukit tempat berdirinya kota kuno ini. Peneliti memperkirakan, sungai yang kelak mengering membuat Çatalhöyük ditinggalkan manusia sekitar tahun 5600 SM.

Pemukiman di Çatalhöyük dibangun di area tanah liat aluvial. Dengan demikian, manusia saat itu bisa bertani. Kondisi tanah dan keberadaan sungai di Çatalhöyük menjadikan manusia di sana menghentikan kehidupan nomaden yang sudah berjalan 40.000 tahun.

Manusia saat itu mulai membangun rumah untuk tinggal, sembari merawat area pertanian dan ternaknya, seperti dikutip dari World History Encyclopaedia. Namun, beberapa peneliti menduga pemukiman kuno tersebut dibentuk karena pemanasan global sekitar 11.000 SM. Kondisi ini mendukung munculnya daerah dengan suhu yang lebih memungkinkan ditinggali manusia dan hewan ternak, serta ditumbuhi tanaman pertanian.

Rumah yang Berdempetan

Patung dewi yang ditemukan di berbagai rumah, pemakaman, dan tempat pemujaan di Catalhoyuk.Patung dewi yang ditemukan di berbagai rumah, pemakaman, dan tempat pemujaan di Catalhoyuk. Foto: Wikimedia Commons/Omar Hoftun

Kota yang mulai primer digunakan sekitar tahun 7500-5700 SM ini dihuni 5000-7000 orang, tertinggi sekitar 10.000 orang. Rumah dari bata lumpur ini dibangun amat berdekatan satu sama lain serupa sarang lebah dengan lubang di langit langit sebagai pintu dengan tangga.

Tidak ada jalan setapak atau gang yang menghubungkan rumah yang satu dengan lainnya. Sebaliknya, orang berjalan di sepanjang atap di antara rumah-rumah. Jadi, rumah berfungsi sebagai jalan praktis dan ventilasi di bagian yang terbuka.

Sampah yang Jauh dari Pemukiman

Kamar-kamar di rumah kota kuno Çatalhöyük sangat bersih. Tumpukan sampah ditemukan jauh dari reruntuhan pemukiman Çatalhöyük.

Pemukiman Egaliter

Cermin dari batu obsidian di Çatalhöyük.Cermin dari batu obsidian di Çatalhöyük. Foto: Catalhoyuk Research Project/Jason Quinlan

Masyarakat kota kuno ini juga tampak sangat egaliter karena tidak ada rumah yang memiliki tanda kebangsawanan. Tetangga di pemukiman Çatalhöyük diduga peneliti berdagang satu sama lain, menikah satu sama lain, bermusuhan, dan makan bersama laiknya masyarakat modern.

Dari analisis pada tulang yang terkubur, laki-laki dan perempuan di Çatalhöyük punya pola makan dan tugas sehari-hari yang sama. Para warga laki-laki berbagi tugas ritual, berkarya seni, bertani, berburu, memasak, membuat perkakas, dan membuat kain.

Potongan tekstil tertua di dunia, cermin tertua dari batu obsidian, mata panah, dan alat pemotong langka peninggalan perempuan dan laki-laki Çatalhöyük ditemukan di situs bekas pemukimannya.

Kesenian dan Agama

Mural perburuan di Catalhoyuk.Mural perburuan di Catalhoyuk. Foto: Catalhoyuk Research Project/Jason Quinlan

Dinding rumah di Çatalhöyük dipenuhi dengan gambar pemandangan, adegan berburu, adegan menari, gambar bintang, burung, rusa, dan lain-lain. Kepala berbagai hewan, terutama sapi, dipasang di dinding. Adapun temuan lukisan desa di Çatalhöyük menjadi peta tertua di dunia yang diketahui.

Sejumlah patung yang ditemukan arkeolog di situs Çatalhöyük juga bisa jadi mencerminkan agama lokal yang berkembang. Patung dewi yang sedang duduk menghiasi banyak tempat di rumah-rumah Çatalhöyük, tempat pemakaman, dan tempat pemujaan.

Jika kamu kelak berkunjung ke Çatalhöyük, ada sekitar 14 hektar ruang terbuka termasuk museum dan kantor pariwisata yang bisa kamu jelajahi, lengkap dengan artefak dan miniatur kota.

Kendati beberapa gundukan tempat galian penelitian arkeologi ditutup untuk publik, kamu bisa menelusuri sejarah kota kuno Çatalhöyük dan bersantai di kafe dekat sana sambil liburan. Tertarik liburan ke situs kota kuno Çatalhöyük di Turki, detikers?



Simak Video "Melihat Isi Situs Arkeologi di Guatemala"
[Gambas:Video 20detik]
(twu/lus)

Ranking PTN

Berikut daftar 5 Perguruan Tinggi terbaik Indonesia