7 Hewan yang Terpapar COVID-19, Macan sampai Kuda Nil

Trisna Wulandari - detikEdu
Senin, 13 Des 2021 08:00 WIB
Boji, seekor anjing liar menarik perhatian warga di Turki. Anjing liar ini punya hobi jalan-jalan naik transportasi umum mulai bus, feri hingga kereta metro.
Hewan peliharaan seperti anjing juga dapat terjangkit COVID-19. Foto: Getty Images/Chris McGrath
Jakarta -

Di pengujung 2021, para peneliti turut mengupayakan vaksin COVID-19 bagi hewan peliharaan, hewan peternakan, hingga hewan di kebun binatang. Vaksin eksperimental ini diharapkan bisa melindungi hewan, terutama mamalia, dari COVID-19.

Dilansir dari The Guardian, vaksinasi ini juga didorong adanya kasus beberapa spesies hewan yang kena COVID-19 hingga akhir tahun. Vaksinasi ini juga mengantisipasi risiko COVID-19 pada hewan dan manusia, baik pemilik maupun yang berinteraksi dengan hewan.

"Apa yang benar-benar kami khawatirkan adalah perpindahan bolak-balik antara manusia dan hewan, dan ke hewan lain, yang berisiko membuat populasi manusia pada akhirnya dapat terpengaruh," kata Rebecca Fisher, asisten profesor epidemiologi di Texas A&M University, dikutip Minggu (12/12/2021).

Sebelumnya, Departemen Pertanian AS telah mengizinkan vaksin yang dikembangkan oleh perusahaan kesehatan hewan Amerika Zoetis untuk penggunaan eksperimental berdasarkan kasus per kasus. Awal tahun ini, Zoetis setuju untuk memasok kebun binatang San Diego dengan dosis yang cukup untuk menginokulasi gorila setelah pasukan gorila di kebun binatang tersebut terjangkit COVID-19.

Pada bulan Maret, layanan dokter hewan negara bagian Rusia mengumumkan bahwa mereka telah menyetujui vaksin COVID-19 Karnivak-Kov untuk digunakan di peternakan dan peliharaan anjing dan kucing setelah uji klinis pada rubah kutub, kucing, anjing, dan cerpelai.

Rebecca menuturkan, pada dasarnya, hewan ternak yang terinfeksi dapat dikarantina atau dimusnahkan, seperti jutaan cerpelai yang terjangkit COVID-19. Pengawasan pertanian juga dapat ditingkatkan, sambil memastikan pekerja pertanian dilengkapi dengan peralatan pelindung. Namun, vaksinasi COVID-19 pada hewan liar akan lebih sulit ketimbang hewan di peternakan.

Hewan yang Kena COVID-19

Anjing

Laporan pertama infeksi hewan terjadi pada Februari 2020, ketika seekor anjing di Hong Kong dinyatakan positif. Anjing ini diduga tertular dari pemiliknya yang terinfeksi. Sejak itu, muncul banyak laporan tentang anjing dan kucing yang terkena COVID-19.

Kucing

Margaret Hosie, profesor virologi komparatif di Pusat Penelitian Virus Universitas Glasgow menuturkan, infeksi Sars-CoV-2 pada kucing dan anjing relatif umum terjadi.

Beberapa hewan yang terinfeksi mengalami gejala umum pilek, batuk, bersin atau konjungtivitis dan sebagian besar sembuh dengan lancar. Namun, beberapa kucing dan anjing bisa mengalami penyakit yang lebih parah.

"Kucing pertama yang kami identifikasi terinfeksi dari pemiliknya adalah anak kucing yang mati karena pneumonia. Kami tidak menguji mendalam untuk patogen potensial lainnya, jadi kami tidak bisa memastikan. Tetapi, patologinya sangat mirip dengan pneumonia virus yang terlihat pada pasien Covid-19," kata Hosie.

Hosie mengatakan, risiko penularan dari kucing dan anjing ke manusia rendah karena sulit untuk mengisolasi virus yang bereplikasi dari hewan tersebut. Sementara itu, studi eksperimental menunjukkan bahwa kucing dapat menginfeksi kucing lain. Karena kesehariannya di rumah, kucing bisa saja tertular pemiliknya, tetapi risiko penularan dari kucing tidak tinggi.

Kuda Nil

Dua kuda nil di kebun binatang Antwerpen, Belgia contohnya, tertular COVID-19 dari manusia. Kuda nil bernama Imani dan Hermien itu mengalami gejala pilek, lebih beruntung dari beberapa hewan lain yang mati karena wabah ini.

Macan

Tiga macan tutul salju mati di kebun binatang anak-anak di Nebraska pada November 2021 karena komplikasi terkait COVID. Sejumlah kebun binatang lain melaporkan, infeksi virus Sars-CoV-2 ini juga menjangkiti gorila, singa, harimau, dan puma.

Mink (Cerpelai)

Beda dengan mink (cerpelai) liar, mink yang diternakkan harus hidup berdekatan satu sama lain. Kondisi ini membuat mink sangat rentan terhadap infeksi Sars-CoV-2, terkena pneumonia, dan mati.

Kasus penularan COVID-19 dari manusia ke cerpelai, bermutasi, dan dapat berpindah ke makhluk hidup lain pada November 2020, menurut Hosie, adalah peringatan nyata untuk mempelajari lebih jauh tentang COVID-19 pada interaksi hewan dengan manusia.

Untungnya, hingga saat ini, laporan oleh European Food Safety Otoritas dan Pusat Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Eropa menyatakan, virus varian dari cerpelai belum terbukti lebih menular atau menyebabkan dampak yang lebih parah dibandingkan dengan Sars-CoV-2 yang beredar lainnya.

Hamster

Penelitian mendapati musang dan hamster emas dapat tertular COVID-19. Pada hamster Roborovski kerdil, wabah ini dapat menyebabkan kematian.

Rusa

Journal of Virology pada Mei 2021 melaporkan, rusa berekor putih, yang berasal dari Amerika Utara, Tengah, dan Selatan, mampu menularkan virus satu sama lain.

Pada Agustus 2021, para peneliti di Pusat Margasatwa Nasional AS di Fort Collins melaporkan, sepertiga rusa berekor putih di timur laut AS memiliki antibodi terhadap Sars-CoV-2. Namun, masi belum jelas bagaimana mereka terinfeksi.

Fisher menuturkan, peneliti mengantisipasi kemungkinan virus beradaptasi dengan hewan liar yang hidup dekat dengan manusia. Contohnya yakni hewan pengerat seperti tikus. Untungnya, tikus saat ini belum rentan terinfeksi Sars-CoV-2.

Ia menyimpulkan, ketika positif COVID-19, sedapatnya seseorang juga mengisolasi diri dari hewan peliharaan.

"Meskipun sulit, jika kita sakit, kita harus berusaha untuk tidak berinteraksi dengan mereka, dan tidak menularkan apa pun kepada mereka. Kita perlu berusaha sekuat tenaga untuk melindungi mereka, sama seperti kita terhadap anak-anak manusia kita," kata Fisher.



Simak Video "Studi AS: Virus Covid-19 Mampu Menyerang Pusat Kognitif Otak"
[Gambas:Video 20detik]
(twu/lus)

Ranking PTN

Berikut daftar 5 Perguruan Tinggi terbaik Indonesia