Bahaya Abu Vulkanik Gunung Semeru Pasca Erupsi, Ini Penjelasan Pakar ITB

Novia Aisyah - detikEdu
Selasa, 07 Des 2021 11:00 WIB
Gunung Semeru mengalami erupsi Sabtu (4/12/2021) sekitar pukul 15.00 WIB. Arupsi itu mengakibatkan rumah-rumah warga terendam abu vulkanik Gunung Semeru.
Foto: AFP/ADEK BERRY
Jakarta - Abu vulkanik yang keluar dari Gunung Semeru patut diwaspadai. Sebab, material itu dapat berbahaya bagi pernapasan manusia.

"Abu vulkanik yang kaya akan semen akan mudah menempel pada media yang basah. Jika abu vulkanik terhirup langsung, ia akan menempel dan tercetak di paru-paru kita yang basah dan kandungan oksigennya melimpah. Hal ini dapat menyebabkan permasalahan pernapasan akut," jelas ahli Vulkanologi Institut teknologi Bandung (ITB) Mirzam Abdurrachman dikutip dari laman resmi ITB pada Selasa (07/12/2021).

Lantas, bagaimana cara pencegahannya yang tepat?

Cara Hindari Risiko Abu Vulkanik

Mirzam mengimbau agar masyarakat yang terdampak material Gunung Semeru, untuk mengenakan masker atau kain yang sudah dibasahi. Keduanya berfungsi menutupi hidung dan mencegah imbas abu vulkanik.

Di samping itu, dia memberi pesan khusus agar masyarakat terus diedukasi. Pasalnya, masyarakat adalah pihak yang harus menerima informasi.

Mirzam mengatakan, setidaknya masyarakat harus bisa melakukan mitigasi diri dan paham gejala-gejala gunung api yang akan meletus. Dia menyampaikan, hal ini berkaca dari kejadian erupsi gunung api di Indonesia sebelumnya di mana masyarakat lebih mempercayai juru kunci setempat.

Ahli Vulkanologi ITB ini mengingatkan, tidak semua orang yang tinggal di lereng gunung api dapat mengakses internet dan menerjemahkan hasil pantauan aktivitas gunung api dari para ahli. Dirinya menilai, jika masyarakat tidak terus diedukasi maka kesalahan di masa lalu dan kerugian besar akan tetap terulang.

Material yang Dikeluarkan Gunung Semeru

Sebelumnya, Kasi Kedaruratan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jawa Timur, Satriyo Nurseno meluruskan apa yang terjadi pada Gunung Semeru pada Sabtu (04/12/2021). Dirinya meyakinkan, yang terjadi pada Gunung Semeru pada Sabtu lalu adalah aktivitas awan panas guguran (APG).

Dia menjelaskan, awan panas guguran adalah kejadian ketika suspensi material gunung yang berupa kerikil, batu, abu, dan pasir dalam suatu massa gas vulkanik panas keluar dari gunung api.

Berdasarkan situs Badan Geologi Kementerian ESDM, APG terjadi karena runtuhnya kubah lava yang suhunya sekitar 500-600°C akibat tekanan magma dan pengaruh gravitasi. Peristiwa APG juga menimbulkan dua lapisan endapan, yakni endapan bagian bawah yang ketebalannya beberapa meter atau puluh meter dan endapan bagian atas yang terdiri dari material abu.

Dikutip dari situs yang sama, Fisher & Schmincke (1984) mengatakan, endapan awan panas ini juga punya variasi yang mencerminkan tipe letusan serta pengendapan.

Sementara, yang dimaksud dengan erupsi menurutnya adalah peristiwa saat magma keluar dari permukaan bumi. Bentuknya juga bisa berbeda-beda untuk setiap gunung api.

"Erupsi bisa efusif, yaitu lava keluar secara perlahan dan mengalir tanpa diikuti dengan suatu ledakan atau eksplosif, yaitu magma keluar dari gunung api dalam bentuk ledakan. Dalam erupsi yang eksplosif, terbentuk endapan piroklastik, sedang dalam erupsi efusif terbentuk aliran lava. Secara garis besar ada tiga tipe erupsi, yaitu hawaiian, strombolian, dan vulkanian," terang Satriyo.

Itulah bahayanya abu vulkanik Gunung Semeru bagi paru-paru kita dan cara mencegah risikonya dengan tepat. Semoga informasinya membantu, detikers!

Simak Video 'Curah Hujan Tinggi Dapat Picu Banjir Lahar Dingin Pascaerupsi Gunung Semeru':

[Gambas:Video 20detik]



(nah/lus)

Ranking PTN

Berikut daftar 5 Perguruan Tinggi terbaik Indonesia