Mbah Rono: Indonesia Perlu Sekolah Gunung Api buat Mitigasi Bencana

Trisna Wulandari - detikEdu
Senin, 06 Des 2021 20:00 WIB
Surono alias Mbah Rono
Suruno alias mbah Rono, mantan Kepala Pusat Vulkanologi Dan Mitigasi Bencana Geologi Kementerian ESDM (Foto: Usman Hadi/detikcom)
Jakarta - Gunung Semeru berstatus Waspada atau level II pada periode pukul 06.00-12.00 WIB, Senin (6/12/2021). Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) mencatat, setidaknya hingga siang hari, terjadi 8 kali gempa erupsi, 2 kali gempa awan panas guguran, 11 kali gempa guguran, 5 kali gempa hembusan, 1 kali gempa tektonik jauh, dan 1 kali getaran banjir.

Dengan kondisi Semeru tersebut, masyarakat, pengunjung, dan wisatawan dihimbau tidak beraktivitas dalam radius 1 km dari kawah atau puncak Semeru dan 5 km dari arah bukaan kawah di sektor tenggara - selatan. Masyarakat juga dihimbau mewaspadai awan panas guguran, guguran lava, dan lahar di sepanjang aliran sungai dan lembah yang berhulu di puncak Gunung Semeru.

Catatan PVMBG juga mendapati sejumlah gunung di Indonesia tengah berstatus waspada. Di antaranya yaitu Gunung Ile Werung/Hobal dan Gunung Sirung di Nusa Tenggara Timur (NTT), Gunung Karangetang dan Soputan di Sulawesi Utara, Anak Krakatau di Lampung, Gunung Dukono, Gamalama, dan Ibu di Maluku Utara, Gunung Kerinci di Jambi, dan Bromo di Jawa Timur.

Ahli gunung api Surono mengatakan, dengan sekitar 127 gunung api aktif hingga saat ini, masih tidak ada sekolah gunung api di Indonesia yang mempelajari vulkanologi secara menyeluruh. Padahal, menurutnya, Indonesia dapat menjadi center of excellence atau pusat studi kegunungapian.

Ia mencontohkan, di Indonesia ada wadah studi untuk mengukur kembang-kempis gunung lewat satelit. Ada pula wadah studi kegempaan terkait gunung api. Namun ia menegaskan, hal-hal tersebut hanya sebagian kecil dari ilmu tentang gunung api.

"Ada sekolah yang mempelajari gunung api, tapi secara parsial. Misalnya, hanya mantau saja, seperti pemantauan lewat satelit, banyak itu. Tidak ada sekolah yang mempelajari tentang gunung api itu sendiri, padahal Indonesia salah satu yang memiliki gunung api terbanyak di dunia," tutur pria yang biasa disapa Mbah Rono ini pada detikEdu, ditulis Senin (6/12/2021).

Mantan Kepala PVMBG Kementerian ESDM ini menuturkan, belajar dan riset tentang gunung api di Indonesia penting agar kelak dapat difokuskan untuk mitigasi bencana terkait gunung api. Sebab, banyaknya gunung api aktif di Indonesia berpotensi pada berulangnya bencana yang sama dengan yang terjadi tahun ini di masa mendatang.

Harapannya, kata Mbah Rono, makin banyak riset mitigasi memungkinkan lebih banyak manusia yang terselamatkan ketika peristiwa gunung meletus terjadi.

Belajar Gunung Api untuk Mitigasi

Belajar Gunung Api dan Budaya Masyarakatnya

Mbah Rono menuturkan, ilmu gunung api di Indonesia punya kekhasan diakui di mancanegara. Ia mencontohkan,sinematograf dan penulis Volcano, Maurice Kraft yang kerap mendokumentasikan gunung meletus di dunia juga menganggap seseorang belum bisa dikatakan ahli gunung api kalau belum ke gunung api di Indonesia. Sebab, menurutnya, ilmu gunung api di Indonesia merupakan ilmu yang holistik.

Ia menjelaskan, masyarakat di sekitar gunung api di Indonesia terikat secara adat dan budaya dengan gunungnya. Karena itu, warga di masing-masing gunung api punya tradisi dan budaya tersendiri. Positifnya, kata Mbah Rono, warga dapat memanfaatkan alam Indonesia yang unik dan subur di sekitar gunung api. Negatifnya, ketika gunung api meletus, warga harus mengungsi, dan berisiko jatuh korban jiwa.

Keterikatan ini, kata Mbah Rono, membuat calon mahasiswa dan peneliti gunung api di Indonesia dapat belajar sains vulkanologi lengkap dengan kearifan lokal setempat. Dengan demikian, lebih banyak warga yang dapati terselamatkan saat gunung api erupsi.

Potensi Pendidikan Gunung Api di Pendidikan Tinggi

Bagi Mba Rono, ilmu gunung api atau vulkanologi tidak kalah potensial dengan jurusan dan sekolah-sekolah perminyakan yang populer di Indonesia. Sebab menurutnya, bicara vulkanologi tidak hanya mengurus masalah gunung api, tetapi juga potensi kesuburan, keindahan, dan wisata giri atau pegunungan.

"Kan ada wisata bahari, tapi orang malu-malu mengatakan wisata giri. Ke puncak kan wisata giri. Kalau enggak ada Gunung Gede dan Gunung Salak, enggak ada wisata giri. Kaliurang juga wisata giri. Padahal wisata di darat itu kalau enggak di lembah, ya di pegunungan," kata Mbah Rono.

Ia menambahkan, mempelajari gunung api juga mencakup hal-hal yang terkait, termasuk gas bumi, mineral logam dan non logam, hingga batu bara. "Panas bumi Indonesiabanyakan aslinya kan dari gunung api, di mana 40% sumber daya panas bumi dunia itu ada di Indonesia, berkat gunung api Indonesia yang sampai 127 (gunung). Ini tidak ada (sekolahnya),"imbuhnya.

Alumnus S1 Fisika Institut Teknologi Bandung ini menuturkan, untuk lanjut studi tentang gunung api, ia dahulu menempuh pendidikan geofisika di S2 dan S3 Geofisika Universite Joseph Furier,Grenoble, Prancis dengan beasiswa pemerintah Prancis. Baginya, kuliah di Eropa menjadi wadah mencari dasar ilmu, membentuk pola pikir, dan metoda. Praktiknya, sambung Mbah Rono, lalu diterapkan di gunung-gunung api di Indonesia.

Penelitian untuk Gunung Api

Mbah Rono menuturkan, aktivitas gunung api di Indonesia yang dinamis juga memicu peneliti asal mancanegara untuk meneliti di Indonesia. Ia mencontohkan, saat bertugas di PVMBG, ia mendapati peneliti gunung api asal Jepang menggunakan aktivitas vulkanik di Indonesia untuk lebih cepat mengoreksi kesalahan atau kekurangan pada inovasi teknologi terkait gunung api.

Praktik ini, kata Mbah Rono, juga dapat diterapkan di Indonesia tanpa harus membeli teknologi dari luar negeri. Didukung pihak swasta dan pemerintah, menurutnya, peneliti jadi dapat menciptakan teknologi dan alat yang membantu lebih banyak warga terselamatkan saat gunung meletus.

"Setelah itu dijual ke mana? Disumbang ke negara-negara yang membutuhkan. Tapi lewat PBB. Jadi gandengan, swasta, pemerintah, dan periset. Mudah-mudahan ada jalannya, dengan munculnya BRIN (Badan Riset dan Inovasi Nasional). Risetnya tidak usah muluk-muluk, yang penting nyata dan bisa dipakai untuk perlindungan dan kesejahteraan masyarakat Indonesia. Kan ujung-ujungnya, subjeknya masyarakat,"ucapnya.

Mbah Rono berharap, adanya pusat studi gunung api juga membantu perlindungan masyarakat yang lebih nyata dari riset para ilmuwan lintas disiplin saat ini. Ia menekankan, mengingat berulangnya bencana terkait gunung api, riset gabungan lintas disiplin memungkinkan masyarakat pada 5-25 tahun ke depan bisa merasakan manfaat mitigasi yang lebih baik.

Simak Video "Kondisi Terkini Tonga Usai Letusan Dahsyat Gunung Api - Tsunami"
[Gambas:Video 20detik]
(twu/pal)

Ranking PTN

Berikut daftar 5 Perguruan Tinggi terbaik Indonesia