Kurang Imajinasi Ternyata Bisa Merusak Otak, Kok Bisa?

Kristina - detikEdu
Sabtu, 27 Nov 2021 14:55 WIB
neurons
Foto: ilustrasi saraf otak
Jakarta - Otak merupakan organ vital pusat kecerdasan manusia yang terdiri dari milyaran saraf. Tanpa disadari, kurang imajinasi ternyata dapat merusak sistem kerja otak.

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), imajinasi adalah daya pikir untuk membayangkan (dalam angan-angan) atau menciptakan gambar (lukisan, karangan, dan sebagainya) kejadian berdasarkan kenyataan atau pengalaman seseorang.

Berimajinasi dapat merangsang otak untuk berpikir lebih tajam dan aktif. Imajinasi dapat dilatih dengan beragam aktivitas seperti membaca, menonton film, menggambar, dan kegiatan yang dapat meningkatkan daya imajinasi lainnya.

Imajinasi diketahui berpotensi untuk memperdalam pemahaman dengan melipatgandakan atau memperluas perspektif dari suatu kejadian yang dialami oleh seseorang. Orang yang aktif menggunakan daya imajinasinya merupakan orang yang berpikir visioner dan kreatif, dilansir dari National Center of Biotechnology Information (NCBI).

Kemampuan imajinasi dapat mempercepat pembelajaran dan meningkatkan kinerja semua jenis keterampilan. Bahkan, Albert Einstein yang terkenal dengan kecerdasannya, mengatakan bahwa imajinasi lebih penting daripada pengetahuan, karena ia tidak terbatas.

Secara tidak langsung, kurang berimajinasi membuat sistem kerja otak berjalan tidak maksimal. Berbagai penelitian telah mengkonfirmasi bahwa imajinasi dapat merangsang kemampuan otak untuk berpikir lebih tajam. Proses ini dapat dilatih sejak masih anak-anak.

Selain dapat meningkatkan daya kerja otak, baik yang berkaitan dengan kreativitas maupun jenis keterampilan lainnya, imajinasi juga diketahui dapat membantu mengatasi gangguan mental seseorang.

Dalam sebuah studi yang dilakukan oleh para peneliti University of Colorado Boulder dan Icahn School of Medicine, menunjukkan bahwa imajinasi dapat menjadi alat yang ampuh untuk mengatasi gangguan ketakutan dan kecemasan yang dialami oleh seseorang.

Penelitian yang diterbitkan dalam jurnal Neuron ini menegaskan bahwa imajinasi adalah realitas neurologis yang dapat mempengaruhi otak dan tubuh. Para peneliti mengukur aktivitas otak menggunakan pencitraan resonansi magnetik fungsional (fMRI). Sensor yang terletak pada kulit akan mengukur bagaimana respons tubuh.

Penelitian sebelumnya telah menunjukkan bahwa membayangkan suatu tindakan dapat mengaktifkan dan memperkuat daerah otak yang terlibat dalam meningkatkan kinerja. Misalnya, membayangkan bermain piano dapat meningkatkan koneksi saraf di daerah yang berhubungan dengan jari. Penelitian juga menunjukkan kemungkinan untuk memperbarui ingatan kita, memasukkan detail baru.

Selain itu, imajinasi juga menjadi alat yang umum di kalangan dokter. Imajinasi dapat digunakan secara konstruktif untuk membentuk apa yang dipelajari oleh otak berdasarkan pengalaman.

Simak Video "Studi Plasma Konvalesen: Bisa Jadi Alternatif Namun Efektifitasnya Rendah"
[Gambas:Video 20detik]
(kri/pal)

Ranking PTN

Berikut daftar 5 Perguruan Tinggi terbaik Indonesia