Sejarah Bandara Halim yang akan Ditutup, Berdiri Sejak Kolonial Belanda

Rahma Indina Harbani - detikEdu
Senin, 08 Nov 2021 08:00 WIB
Ilustrasi Bandara Halim Perdanakusuma/Istimewa
Foto: Bandara Halim Perdanakusuma/Istimewa/Sejarah Bandara Halim yang akan Ditutup, Berdiri Sejak Kolonial Belanda
Jakarta - Bandar udara atau bandara Halim Perdanakusuma dikabarkan akan ditutup dalam waktu dekat. Hal ini berimbas pada penutupan penerbangan maskapai nasional untuk sementara waktu.

Penutupan adalah dampak revitalisasi dan persiapan KTT G20 tahun 2022. Kabar ini dijelaskan Direktur PT Indojet Sarana Aviasi Stefanus Gandi. Kabar tersebut sudah beredar di lingkungan bandara.

"Dari info yang kami dapat dan terima ya terkait persiapan dari G20. Revitalisasi iya, tapi terkait G20. Info yang kami terima seperti itu," kata Stefanus saat dihubungi detikcom.

Terlepas dari jadi tidaknya penutupan, bandara Halim Perdanakusuma adalah salah satu yang terbesar di Jakarta. Bandara yang berlokasi di Jakarta Timur ini sebelumnya dikenal sebagai Lapangan Terbang Cililitan.

Seperti apa sejarah bandara Halim Perdanakusuma?

Mengutip situs Angkasa Pura 2, mulanya daerah Cililitan merupakan sebuah tanah partikelir yang dimiliki oleh Pieter van der Velde pada abad ke-17. Tanah tersebut diberi nama Tandjeong Ost.

Pada tahun 1924, sebagian tanah tersebut kemudian disulap menjadi sebuah lapangan terbang pertama di kota Batavia. Lapangan terbang inilah yang dinamakan Vliegveld Tjililitan (Lapangan Terbang Tjililitan).

Selain itu, bandara tersebut mulai beroperasi saat menerima pesawat dari Amsterdam. Hingga menjadi penerbangan internasional pertama di Hindia Belanda. Pesawat tersebut dinamakan dengan pesawat Fokker.

"Sebelum mendarat di Cililitan, pesawat Fokker ini memerlukan waktu cukup lama di perjalanan. Karena pernah jatuh dan mengalami kerusakan di Serbia hingga harus didatangkan suku cadang dari pabriknya di Amsterdam," tulis Angkasa Pura 2 dalam situsnya.

Empat tahun setelahnya, bandara Halim Perdanakusuma mulai beroperasi untuk penerbangan lokal pertama kali pada 1 November 1928. Saat itu, penerbangan yang masih menggunakan maskapai milik kolonial Belanda melakukan rute ke Batavia-Bandung dan Batavia-Semarang.

Beberapa tahun kemudian, tepatnya 20 Juni 1950, akhirnya Belanda menyerahkan sepenuhnya bandara tersebut kepada pemerintah Indonesia. Pihak Angkatan Udara RI segera mengambil alih dan menjadikannya pangkalan Komando Operasi Angkatan Udara I (Koops AU I) TNI-AU.

Setelah dipegang secara utuh oleh Indonesia, bandara tersebut berganti nama menjadi Halim Perdanakusuma pada 17 Agustus 1952. Pergantian nama ditujukan untuk menghormati pahlawan angkatan udara Abdul Halim Perdanakusuma yang gugur dalam menjalankan tugasnya.

Sejak berdiri, bandara Halim Perdanakusuma memegang peranan penting. Bandara ini membantu peresmian bandara Internasional Kemayoran dengan menerbangkan pesawat berjenis Douglas DC-3 menuju Kemayoran.

Kemudian pada tahun 1974, bandara Halim sempat ditunjuk untuk membantu penerbangan internasional bandara Kemayoran tersebut. Diketahui adanya kepadatan rute penerbangan di sana.

Namun, pemerintah menginisiasinya dengan membangun sebuah bandar udara baru di daerah Cengkareng. Bandara inilah yang saat ini dikenal dengan Bandara Internasional Soekarno-Hatta.

Setelah bandara Kemayoran ditutup, bandara Halim kembali berfokus untuk kepentingan militer. Kemudian pihaknya mulai mengurangi jadwal penerbangan sipil.

Bandara Halim juga pernah difungsikan sebagai penerbangan komersil. Saat itu, pihaknya membantu bandara Soekarno-Hatta untuk mengurangi jadwal penerbangan di sana pada tahun 2013-2014.

Mereka memberikan 60 slot per jam untuk penerbangan berjadwal domestik maupun internasional. Keberadaan bandara Halim Perdanakusuma berandil besar untuk kepentingan pribadi dan komersil.

Simak Video "Awal Tahun, Bandara Soetta Ramai Penumpang Perjalanan Domestik"
[Gambas:Video 20detik]
(rah/row)

Ranking PTN

Berikut daftar 5 Perguruan Tinggi terbaik Indonesia