Badai Matahari dan Kiamat Internet, Hoax atau Fakta?

Rosmha Widiyani - detikEdu
Minggu, 19 Sep 2021 16:00 WIB
Observatorium Dinamika Matahari NASA merekam badai matahari pada 12 Januari 2015
Foto: NASA/Badai Matahari dan Kiamat Internet, Hoax atau Fakta?
Jakarta - Badai matahari mungkin bukan peristiwa yang sama sekali asing bagi masyarakat dunia. Namun seiring ketergantungan warga global pada internet, kekhawatiran pada badai matahari makin besar.

"Kejadian badai matahari yang sangat parah bisa membuat dunia mengalami kelumpuhan atau kiamat internet. Akibatnya sebagian besar penduduk dan wilayah dunia offline selama beberapa minggu atau bulan dalam satu waktu," tulis Sangeetha Abdu Jyothi seorang asisten profesor di University of California.

Dikutip dari Live Science, matahari sebetulnya selalu menghujani bumi dengan partikel magnetik. Peritiwa ini disebut angin matahari atau solar wind. Bumi melindungi diri dari fenomena ini dengan pelindung magnetik.

Pelindung inilah yang mencegah terjadinya kerusakan di bumi dan penghuninya. Namun kekuatan angin ini bisa meningkat hingga terjadi badai matahari ekstrim. Badai ini merusak kehidupan modern saat ini, sesuai laporan dalam konferensi data komunikasi SIGCOMM 2021.

Dengan penjelasan ini, badai matahari dan kiamat internet bukan hoax. Sejarah mencatat badai matahari yang sempat terjadi di dunia beberapa kali,

Deretan kejadian badai matahari

1. Badai matahari 1528

Catatan peristiwa ini ditulis Pero Ruiz Soares pada adab ke-16 dari Portugis. Dalam peristiwa ini langit digambarkan seperti terbakar, namun menarik perhatian banyak orang untuk menyaksikannya.

2. Badai matahari 1859

Kejadian di tahun tersebut dikenal dengan nama peristiwa Carrington. Saking kuatnya kekuatan badai matahari saat itu, hingga melumpuhkan jaringan telegraf di berbagai belahan dunia.

3. Badai matahari 1989

Dikutip dari Science Alert, badai matahari saat itu diperkirakan berkecepatan satu juta mil per jam. Badai ini menyebabkan gangguan sinyal radio dari Eropa ke Rusia. Dampak lainnya adalah gangguan sistem distribusi listrik di Quebec, Kanada.

4. Badai matahari 2012

Matahari kembali melepaskan energi tinggi pada 2021. Namun bumi saat itu sedang tidak berada di lintasan yang dilewati matahari, sehingga dampaknya tidak dirasakan manusia.

Meski badai matahari dan kiamat internet bukan hoax, namun manusia belum bisa mengantisipasinya. Menurut Jyothi hingga saat ini belum ada protokol yang cukup efektif mengantisipasi dampak keduanya.

Kendati begitu, masyarakat tidak perlu khawatir. Jyothi mengatakan, kemungkinan terjadinya badai matahari ekstrim yang langsung berdampak pada bumi diperkirakan hanya 1,6-12 persen.

Selain itu, Indonesia saat ini sudah bisa memperkirakan terjadinya badai matahari. Perkiraan dibuat menggunakan teknologi Space Weather Information and Forecast Services (SWIFtS) yang dimiliki LAPAN.

SWIFTS mampu melihat kondisi tenaga surya, geomagnet, dan ionosphere sekarang serta dan perkiraan esok hari. Artinya, tanda-tanda badai matahari dapat dideteksi sejak dini. SWIFTs sudah tergabung dalam dalam jejaring internasional pengamatan cuaca antariksa, sehingga akurasi data makin akurat.

Simak Video "NASA Tegaskan Informasi Matahari Terbit dari Barat Adalah Hoaks"
[Gambas:Video 20detik]
(row/lus)

Ranking PTN

Berikut daftar 5 Perguruan Tinggi terbaik Indonesia