Kapan Badai Matahari Terjadi? Ini Kata Pakar Universitas California

Fahri Zulfikar - detikEdu
Minggu, 12 Sep 2021 10:30 WIB
Sun storm, ilustrasi badai matahari
Perkiraan terjadinya badai matahari dari ilmuwan Amerika Serikat (Foto: NASA)
Jakarta - Baru-baru ini, ilmuwan asal Amerika Serikat mengungkapkan adanya temuan badai matahari yang bisa mengakibatkan 'kiamat internet' di Bumi. Temuan tersebut disampaikan pada konferensi SIGCOMM 2021 secara virtual 23-27 Agustus lalu.

Menurut penelitian yang dipaparkan Asisten Profesor di University of California, Sangeetha Abdu Jyothi, ada kemungkinan badai matahari terjadi dan bisa mengganggu koneksi internet di Bumi.

Dalam makalah penelitiannya, Abdu Jyothi mengatakan badai matahari yang ekstrem bisa mengakibatkan 'kiamat internet' yang membuat sebagian besar populasi sulit terhubung ke internet selama berminggu-minggu bahkan berbulan-bulan.

"Apa yang benar-benar membuat saya berpikir tentang ini adalah saat pandemi kita melihat bagaimana dunia tidak siap menghadapinya. Tidak ada panduan buat menghadapi hal itu dengan efektif dan hal itu juga bakal terjadi kepada gangguan internet," kata Abdu Jyothi kepada Wired, seperti dikutip dari LiveScience, Rabu (8/9/2021).

Menurutnya, tidak ada protokol untuk menanganinya secara efektif, termasuk dengan ketahanan internet. Infrastruktur yang ada tidak siap untuk fenomena badai matahari berskala besar.

Persiapan ini masih minim karena fenomena badai matahari super sangat jarang terjadi. Ilmuwan juga memperkirakan kemungkinan terjadinya fenomena cuaca luar angkasa yang berdampak langsung ke Bumi antara 1,6% hingga 12% per dekade.

"Jika badai Matahari Super terjadi, maka bisa bisa menimbulkan badai geomagnetik di atmosfer Bumi. Hal itu dikarenakan partikel magnetik yang masuk ke Bumi dengan kecepatan jutaan kilometer per jam," ungkapnya.


Kapan badai matahari terjadi?

Dalam seabad terakhir, hanya ada dua badai matahari ekstrem yang pernah tercatat yaitu pada tahun 1859 dan 1921.

Badai matahari yang terjadi tahun 1859 juga disebut sebagai 'Carrington Event' yang menyebabkan kabel telegram terbakar, hingga aurora yang biasanya hanya ada di kutub terlihat di Kolombia.

Bahkan badai matahari yang terbilang kecil juga memiliki dampak yang cukup signifikan. Seperti badai matahari pada Maret 1989 yang membuat Provinsi Quebec di Kanada kehilangan tenaga listrik selama sembilan jam.


Dampak badai matahari

Karena saat ini populasi dunia sangat bergantung pada internet, Abdu Jyothi juga menjelaskan dampak dari badai geomagnetik raksasa terhadap infrastruktur internet di Bumi.

"Koneksi internet lokal dan regional kemungkinan tidak akan terdampak karena kabel fiber optik tidak akan terpengaruh oleh gelombang geomagnetik," terangnya.

Lain halnya dengan kabel internet bawah laut yang menghubungkan negara bahkan benua. Kabel-kabel ini dilengkapi dengan repeater untuk mendorong sinyal optik yang ditempatkan tiap 50-150 km.

Kawasan yang paling terdampak adalah Bumi belahan utara, termasuk Amerika Serikat dan Inggris. Wilayah ini paling rentang terhadap badai matahari ekstrem dan jika terjadi maka negara-negara itu yang akan kehilangan koneksi internet terlebih dulu.

"Dampak ekonomi dari gangguan internet dalam satu hari di AS diperkirakan sekitar USD 7 miliar. Bagaimana jika jaringan tetap tidak berfungsi selama berhari-hari atau bahkan berbulan-bulan?" jelasnya.

Untuk mengantisipasi kemungkinan badai matahari ekstrem yang terjadi, Abdu Jyothi menyarankan beberapa hal yang bisa dilakukan. Misalnya dengan menempatkan kabel bawah laut di garis lintang yang lebih rendah, dan mengembangkan tes ketahanan yang fokus pada efek kegagalan jaringan skala besar.



Simak Video "Penampakan Gerhana Matahari Cincin di Berbagai Negara"
[Gambas:Video 20detik]
(faz/pal)

Ranking PTN

Berikut daftar 5 Perguruan Tinggi terbaik Indonesia