Jumlah Konsumsi Vitamin D Per Hari dari Pakar Farmasi Amerika

Kristina - detikEdu
Rabu, 21 Jul 2021 10:27 WIB
Healthy foods containing vitamin D. Top view
Foto: Getty Images/iStockphoto/yulka3ice/Dosis Konsumsi Vitamin D Per Hari dari Pakar Farmasi Amerika
Jakarta - Dalam beberapa penelitian terakhir, vitamin D diyakini dapat membantu mencegah atau memperbaiki infeksi COVID-19. Lantas, bagaimana dengan dosisnya?

Vitamin D memiliki banyak manfaat terapeutik mulai dari menjaga metabolisme dan kekuatan tulang hingga mengurangi prevalensi kanker usus besar. Dalam kasus COVID-19, vitamin D turut berperan dalam penanganan infeksi virus, khususnya untuk lansia.

Pakar Farmasi Amerika, William Simonson membagikan jumlah dosis dalam mengkonsumsi vitamin D. Simonson menyelesaikan pendidikan S1 di University of Rhode Island dan gelar S3 dari University of Michigan.

"Vitamin D3 dianggap banyak orang lebih efektif dalam meningkatkan kadar vitamin D. Ini tersedia secara luas sebagai suplemen over-the-counter yang murah dalam berbagai bentuk sediaan dan dosis," ungkap William dalam jurnal Elsevier Public Health Emergency Collection dikutip, Rabu (21/7/2021).

Berapa dosis yang direkomendasikan untuk konsumsi vitamin D harian?

Asupan harian yang direkomendasikan (RDA) adalah jumlah yang akan memenuhi kebutuhan nutrisi 97-98 persen individu sehat. Untuk vitamin D pada orang usia 70 tahun ke atas adalah 800 Unit Internasional (IU).

RDA ini dihitung dengan asumsi vitamin D diperoleh melalui diet dan suplemen. Bukan dari paparan sinar matahari. RDA ini konsisten dengan konsentrasi 25(OH)D serum sekitar 20 ng/mL. Kadar tersebut berada di ujung bawah kisaran konsentrasi yang umumnya dianggap cukup untuk kesehatan tulang dan kesehatan secara keseluruhan pada orang dewasa yang sehat.

Survei Pemeriksaan Kesehatan dan Gizi Nasional (NHANES) memperkirakan, wanita di Amerika yang berusia lebih dari 70 tahun memiliki rata-rata total asupan vitamin D dari makanan hanya 156 IU per hari. Data ini menunjukkan bahwa asupan vitamin D yang tidak mencukupi mungkin umum terjadi.

Simonson melanjutkan, asupan harian maksimum yang tidak merugikan kesehatan adalah 4.000 IU per hari. Beberapa kelompok kesehatan merekomendasikan untuk mengonsumsi 800 hingga 2.000 IU per hari. Tetapi, beberapa dokter merekomendasikan dosis yang lebih tinggi seperti kapsul OTC 5.000 IU atau bahkan 10.000 IU per hari tanpa gejala toksisitas.

US Institute of Medicine sendiri saat ini merekomendasikan konsentrasi 25(OH)D 20 ng/mL atau lebih tinggi. Kadar tersebut secara umum dianggap cukup untuk kesehatan tulang dan kesehatan secara keseluruhan pada individu yang sehat.

Mereka lebih lanjut menyatakan, kadar melebihi 50 ng/mL dan khususnya lebih besar dari 60 ng/mL memiliki potensi efek samping. Rekomendasi ini dibuat jauh sebelum munculnya COVID-19. Namun, menurut Simonson, tidak ada konsensus tentang konsentrasi vitamin D yang harus dipertahankan saat digunakan pada COVID-19.

Simonson menegaskan, tidak diketahui apakah konsentrasi 25(OH)D optimal untuk memerangi COVID-19. Namun, sejauh ini pihaknya baru mulai menghargai peran vitamin D dalam membantu mencegah dan memperbaiki infeksi COVID-19.

"Seperti yang saya sebutkan di kolom saya sebelumnya, sejauh pengetahuan saya, konsentrasi 25(OH)D optimal untuk memerangi COVID-19 tidak diketahui," tandasnya.

Perlu diketahui, ada dua bentuk vitamin D. Yaitu vitamin D2 atau ergocalciferol dan vitamin D3 atau cholecalciferol. Ada sejumlah makanan yang merupakan sumber senyawa ini. Vitamin D2 banyak ditemukan pada jamur dan makanan yang diperkaya seperti sereal. Sementara itu, vitamin D3 ditemukan terutama dalam makanan hewani seperti ikan, hati, telur, dan minyak ikan.

Simak Video "Simak! Petunjuk Konsumsi Suplemen Vitamin D untuk Pasien COVID-19"
[Gambas:Video 20detik]
(row/row)

Ranking PTN

Berikut daftar 5 Perguruan Tinggi terbaik Indonesia