Gejala COVID-19 Varian Delta Menurut Rektor IPB yang Berhasil Sembuh

Novia Aisyah - detikEdu
Kamis, 15 Jul 2021 10:04 WIB
Rektor IPB University Arif Satria
Foto: Istimewa/Gejala COVID-19 Varian Delta Menurut Rektor IPB yang Berhasil Sembuh
Jakarta - Rektor IPB Arif Satria merasakan gejala COVID-19 varian Delta lebih berat dari COVID-19 yang ia alami sebelumnya. Arif telah dua kali menjadi pasien COVID-19 dan kini dirinya telah sembuh.

Arif mengamini COVID-19 bukanlah sebuah mitos. "Saya merasakan terkena COVID-19 dua kali, meski sudah vaksin dua kali juga. Hasil genome sequencing virus saya kali ini tergolong varian delta," ujarnya.

Dalam testimoni yang diterima detikEdu, Arif bercerita telah melakukan swab antigen dan PCR dalam waktu bersamaan. Hasil swab antigen yang dilakukannya menunjukkan hasil negatif, akan tetapi hasil PCR menunjukkan positif.

Menurut Arif, swab antigen dengan hasil negatif bukan berarti bebas COVID-19. Tes ini mungkin tidak mampu mendeteksi adanya virus varian Delta karena jumlahnya belum terlalu banyak dalam tubuh. Lebih dari itu, ada ahli yang mengatakan bahwa varian ini kadang tidak terdeteksi tes PCR.

Berdasarkan pengalamannya, Arif menjelaskan bahwa dirinya merasakan gejala yang lebih berat kali ini. Contohnya adalah hilangnya penciuman, sakit tenggorokan, batuk, dan sakit kepala, hingga demam.

"Saya merasakan paparan varian delta ini lebih berat daripada paparan COVID-19 tahun lalu. Namun semangat dari para dokter, keluarga dan sahabat membuat saya lebih semangat untuk sembuh. Semangat adalah kuncinya," tambahnya.

Perbedaan gejala COVID-19 varian Delta dari varian-varian sebelumnya juga ditegaskan oleh Dokter Spesialis Penyakit Dalam, Andi Khomeini.

"Varian Delta memunculkan gejala-gejala yang sedikit berbeda. Benar, di tahun lalu sampai awal tahun ini lebih identik dengan demam. Tapi sekarang ini lebih identik dengan sakit tenggorokan di awal (infeksi), kemudian hilang penciuman (atau) pembau. Kemampuan itu beberapa hari akan terganggu," terang dr Andi dalam konferensi pers virtual yang digelar Selasa (29/6/2021).

Menurutnya, gejala yang patut diwaspadai pada varian ini adalah napas yang menjadi berat. Saking beratnya, Andi menerangkan pasien corona membutuhkan tenaga lebih untuk menarik napas.

Andi memaparkan, "Napas itu menjadi berat, maka itu salah satu parameter yang paling sederhana yang kita bisa (simpulkan) oh ini kayaknya perlu di-rontgen. Tapi terutama, perlu pertolongan dari tenaga kesehatan. Sebisa mungkin teman-teman yang isolasi mandiri jangan isolasi tanpa pengawasan."

Menurut Andi, gejala COVID-19 varian Delta yang berbeda dari awal-awal pandemi ini dapat dicegah dengan cara efektif yakni dengan menggunakan masker.

"Varian apa pun yang kemudian nanti dirilis, kuncinya sebenarnya sederhana, masker. PR-nya kita sudah tahu, itu masker 2 lapis punya proteksi 90 persen lebih bagus dan lebih tinggi daripada hanya 1 (lapis masker)," tegas Andi.

Simak Video "Pakar: Usia Produktif Paling Banyak Terinfeksi Varian Delta"
[Gambas:Video 20detik]
(row/row)

Ranking PTN

Berikut daftar 5 Perguruan Tinggi terbaik Indonesia