Susu dan Vitamin C Tambahan Sembuhkan COVID-19? Ini Kata Ahli Gizi Unair

Trisna Wulandari - detikEdu
Kamis, 08 Jul 2021 18:31 WIB
Susu Beruang Bear Brand Diborong, Kandungan Nutrisinya Sama dengan Susu Lain
Bagaimana manfaat susu dan vitamin C bagi penderita COVID-19? Foto: Getty Images/iStockphoto/Bet_Noire
Jakarta - Peningkatan jumlah kasus infeksi COVID-19 di sisi lain menambah penyebaran informasi mengenai klaim cara sembuh dari penyakit tersebut. Beberapa waktu lalu, beredar video masyarakat menyerbu pusat perbelanjaan untuk membeli salah satu brand susu yang disebut dapat menyembuhkan COVID-19 dan membantu pasien dalam masa pemulihan setelah dinyatakan negatif.

Di samping itu, pesan terusan di WhatsApp juga menginformasikan manfaat vitamin C tambahan untuk menyembuhkan pasien COVID-19. Vitamin C dan susu disebut dapat meningkatkan imun tubuh dan mencegah infeksi virus sehingga kita bisa terhindar dari wabah COVID-19. Lantas, apakah betul susu dan vitamin C tambahan bisa menyembuhkan dan memulihkan pasien COVID-19?

Ahli gizi dari Universitas Airlangga (Unair) Stefania Widya Setyaningtyas, S.Gz, MPH mengatakan, susu tidak dapat meningkatkan imun tubuh.

"Sistem imun tubuh kita sudah punya template kerja, yang bisa dilakukan adalah mengoptimalkan sistem imun tetapi tidak bisa ditingkatkan," jelas Stefania, seperti dikutip dari laman Unair, Kamis (8/7/2021).

Ia menambahkan, sementara itu vitamin C memang terbukti dapat mengurangi gejala penyakit influenza. "Vitamin C punya kapasitas sebagai antioksidan yang dapat membantu meringankan peradangan dengan membuang sisa-sisa perlawanan sel imun tubuh," ujar Stefania.

Dosen Departemen Gizi Fakultas Kesehatan Masyarakat Unair ini mengatakan, orang Indonesia membutuhkan vitamin C sekitar 75 mg pada perempuan dewasa dan 90 mg pada laki-laki dewasa. Kelebihan vitamin C akan dieliminasi oleh tubuh.

"Konsumsi vitamin C dosis tinggi ketika menderita infeksi dapat menguntungkan. Tapi jika tidak dalam kondisi infeksi, sebenarnya sebanyak apapun vitamin C yang dikonsumsi, tidak akan berdampak apa-apa. Sebenarnya tubuh sudah punya mekanisme regulasi untuk menjaga kadar vitamin C dalam darah," katanya.

Ia menjelaskan, vitamin C bisa didapatkan dengan mudah dari bahan-bahan yang tersedia di alam, seperti buah-buahan. Selain itu, sayuran juga memiliki kandungan vitamin C bagi tubuh. Ia mengingatkan, proses pemanasan yang dilakukan dapat menurunkan jumlah vitamin C secara signifikan.

"Vitamin C dapat kita dapatkan dengan konsumsi 1 buah sedang jambu biji atau jambu monyet, 1 buah sedang pisang, setengah iris buah pepaya, dan 1 buah sedang manga," ujarnya.

Sementara susu merupakan salah satu bahan makanan sumber protein, kalsium, dan vitamin D. Ia menggarisbawahi, susu bukanlah satu-satunya sumber yang dapat memenuhi zat gizi tersebut.

"Ketika Anda tidak bisa minum susu atau tidak tersedia susu untuk memenuhi zat gizi, dapat diganti dengan sumber lain. Misal, tahu, tempe, daging, kacang-kacangan," ujarnya.

Stefania menambahkan, susu memiliki berbagai jenis seperti UHT, pasteurisasi, dan steril. Ketiganya memiliki perbedaan pada proses pemanasan yang dilakukan dan masa simpannya.

"Susu UHT dipanaskan dengan suhu sangat tinggi dan waktu yang cepat. Susu pasteurisasi dipanaskan dengan suhu kurang lebih 70 derajat celcius, dan susu steril dipanaskan dengan suhu kurang lebih 100 derajat celcius. Biasanya masa penyimpanan susu steril lebih lama dibanding lainnya," jelasnya.

Gimana detikers, sudah jelas ya bagaimana manfaat sebenarnya konsumsi susu dan vitamin C saat pandemi COVID-19?



Simak Video "Ahli Gizi: Susu Bear Brand Sama Seperti Susu UHT Biasa"
[Gambas:Video 20detik]
(pal/pal)

Ranking PTN

Berikut daftar 5 Perguruan Tinggi terbaik Indonesia