3 Tips Penanganan Saraf Kejepit dari Dokter RSUI

Kristina - detikEdu
Kamis, 08 Jul 2021 08:30 WIB
Herniated Nucleus Pulposus
Foto: ilustrasi/thinkstock
Jakarta -

Salah satu penyakit umum yang dialami beberapa orang adalah saraf kejepit. Agar tidak memperburuk keadaan, maka perlu penanganan yang tepat ketika sudah mengenali tanda-tandanya.

Dokter Rumah Sakit Universitas Indonesia (RSUI), dr. Andra Hendriarto mengedukasi masyarakat tentang penyebab hingga penanganan saraf kejepit. Saraf kejepit merupakan penyakit yang bisa terjadi pada beberapa bagian tubuh seperti tulang belakang, leher, siku, bahu, pergelangan tangan, punggung, dan semacamnya.

Dilansir dari laman UI, penyebab saraf kejepit dapat disebabkan oleh berbagai hal. Pada bagian pergelangan tangan, saraf kejepit bisa terjadi ketika sedang mengerjakan sesuatu secara berulang seperti menulis atau mengetik.

Sementara itu, pada tulang belakang, saraf kejepit dapat terjadi akibat trauma dari benturan dan penuaan. Saat mengalami penuaan, tulang atau cincin pelindung sudah tidak sekuat masa muda ketika menahan benturan. Akibatnya, terjadi saraf kejepit.

Peluang seseorang terkena saraf kejepit mencapai 10-15%. Namun, angka ini dapat meningkat pada ibu hamil yang sering mengalami nyeri pinggang.

Secara umum, penyakit ini memerlukan penanganan tepat. Berikut tips penanganan saraf kejepit dari dokter RSUI dr. Andra Hendriarto:

1. Kenali Tanda dan Gejalanya

Sebelum melakukan penanganan lebih lanjut, hal yang pertama dilakukan adalah mengenali tanda dan gejalanya. Tanda-tanda umum yang seringkali terjadi seperti nyeri pinggang, nyeri yang menjalar disertai baal atau mati rasa, kesemutan, hingga otot lemas.

2. Lakukan Penanganan Konservatif

Setelah mengenali tanda dan gejalanya, maka lakukan penanganan konservatif. Yaitu penanganan yang tetap mempertahankan keadaan tanpa melakukan operasi dan menggunakan obat-obatan tertentu atau fisioterapis.

Penanganan konservatif dapat dilakukan dengan memperhatikan posisi ergonomis saat duduk. Namun, penanganan jenis ini hanya dapat menyembuhkan untuk sementara waktu. Artinya, saraf kejepit bisa muncul kembali sewaktu-waktu.

3. Turunkan Berat Badan

Selama penanganan konservatif, alangkah baiknya untuk menurunkan berat badan. Hal ini jauh lebih baik daripada saat berat badan berlebih.

4. Lakukan Operasi

Apabila penanganan konservatif tidak membuahkan hasil atau justru keadaan semakin memburuk, maka perlu melakukan tindakan operasi. Dr Andra mengatakan, tindakan operasi saat ini menggunakan teknologi yang jauh lebih modern. Sehingga akan lebih mengoptimalkan waktu dan pasien dapat segera pulih seperti semula.

Untuk menghindari serangan saraf kejepit, detikers bisa menjaga kesehatan tubuh seperti olahraga teratur, tidak merokok, dan memperhatikan posisi duduk.



Simak Video "Hujan Kritikan Rangkap Jabatan Rektor UI"
[Gambas:Video 20detik]
(nwy/nwy)

Ranking PTN

Berikut daftar 5 Perguruan Tinggi terbaik Indonesia