Pakar Hukum Nuklir Unair: Limbah Nuklir Jepang Tak Boleh Dibuang ke Laut

Rahma Harbani - detikEdu
Selasa, 04 Mei 2021 11:30 WIB
koesrianti dosen unair
Foto: Dok. Unair/Pakar Unair: Info Limbah Nuklir Jepang Masih Rancu
Jakarta - Dalam dua tahun mendatang, Jepang berencana membuang limbah nuklir sebesar 1,25 juta ton ke laut Cina Selatan. Pakar Hukum Nuklir Universitas Airlangga (Unair) Koesrianti menjelaskan alasan mengapa rencana Jepang tersebut menuai pertentangan dari banyak pihak.

Menurut Koesrianti limbah nuklir yang masih terkontaminasi tidak boleh dibuang ke laut. Sebab air limbah nuklir mengandung racun aktif yang berbahaya.

"Penempatannya (limbah nuklir) tidak bisa sembarangan apalagi mau dibuang ke laut itu tidak boleh," kata Koesrianti dalam keterangan tertulis yang diterima detikEdu, Senin (3/5/2021).

Apabila dibuang sembarangan, lanjut Koesrianti, air limbah nuklir yang masih mengandung radioaktif berbahaya bagi lingkungan dan manusia. Jika memang mau dibuang ke laut, air limbah nuklir itu harus diolah terlebih dahulu dan dipastikan aman. Caranya bisa melalui beberapa proses yakni bisa berupa evaporasi, destilasi, dan penyaringan.

"Dengan kata lain limbah tersebut didaur ulang, dipisahkan antara partikel yang mengandung radioaktif dan yang tidak," kata dia.

Hingga saat ini informasi yang dipublikasikan Jepang terkait kandungan limbah radioaktif masih rancu. Ada yang menyatakan bahwa hanya sekadar limbah yang sudah diangkat zat radioaktifnya.

"Kita juga bingung penyebutannya, limbah dari limbah atau bagaimana, karena limbah itu (air yang dibuang) sudah diangkat zat radioaktifnya," tutur Koesrianti.

Koesrianti pun menyebut Jepang belum memberikan informasi yang sesuai proporsi. Hal ini disebabkan Jepang sendiri belum mempublikasikan kandungan rinci dari limbah yang akan dibuang tersebut.

"Komunikasinya tidak sampai. Jepang belum menjelaskan limbah itu masih mengandung zat radioaktif atau tidak," imbuh dosen Fakultas Hukum Unair tersebut.

Sebab Koesrianti mengatakan bahwa air limbah nuklir mengandung racun aktif yang berbahaya bagi lingkungan dan manusia. Sebelum dibuang, limbah yang masih mengandung racun aktif harus melalui beberapa proses, seperti evaporasi, destilasi, dan penyaringan.

Jika limbah sudah didaur ulang dan dipisahkan dari zat radioaktifnya, saat itu limbah sudah diizinkan untuk dibuang ke laut. Namun, dengan catatan harus dalam pengawasan badan pengawas tenaga nuklir di Jepang dan internasional.

"Tapi harus dalam pengawasan badan pengawas tenaga nuklir di Jepang dan internasional atau IAEA (Badan Tenaga Atom Internasional)," ujar Koesrianti.

Diketahui, limbah nuklir yang hendak dibuang oleh Jepang berasal dari pembangkit nuklir Fukushima yang bocor akibat gempa dan tsunami yang terjadi pada 2011 silam. Oleh karena itu, masih banyak pihak yang menentang rencana Jepang tersebut seperti, Cina dan Korea Utara.

Simak Video "Jepang Bakal Buang Olahan Limbah Radioaktif Fukushima ke Laut"
[Gambas:Video 20detik]
(pay/pay)

Ranking PTN

Berikut daftar 5 Perguruan Tinggi terbaik Indonesia