Mengenal Keunikan 4 Jenis Rumah Adat Betawi

Faqihah M Itsnaini - detikEdu
Minggu, 21 Mar 2021 09:00 WIB
Sejumlah persiapan tengah dilakukan jelang pelaksanaan Lebaran Betawi 2019. Acara yang berlangsung selama tiga hari ini akan digelar di Lapangan Silang Monas.
Rumah adat Betawi tak hanya berbentuk rumah panggung. Berikut penjelasannya (Foto: Pradita Utama)
Jakarta - Salah satu warisan kebudayaan kota Jakarta adalah rumah adat Betawi. Apakah detikers tahu, ada berapa macam rumah adat Betawi dan keunikannya ?

Dalam hal budaya, masyarakat Betawi sangat terbuka terhadap berbagai pengaruh luar. Maka, sebagian besar budaya khas Betawi tercipta melalui proses akulturasi. Hal ini juga dapat dilihat pada rumah tradisional Betawi.

Rumah adat Betawi banyak dipengaruhi budaya lokal seperti Jawa dan Sunda, maupun budaya asing seperti Cina, Arab, Eropa.

Saat ini, banyak orang memilih untuk memasukkan unsur modern di tempat tinggal, namun ada beberapa rumah yang masih mempertahankan keasliannya, termasuk masyarakat Betawi.

Dilansir dari laman Kemendikbud, berikut beberapa jenis rumah adat Betawi yang perlu detikers ketahui:

1. Rumah Gudang

Rumah adat Betawi jenis ini memiliki bentuk segi empat memanjang dari depan ke belakang. Atap rumahnya biasa berbentuk pelana, namun ada juga yang bentuk perisai. Kedua jenis atap itu sama-sama terdiri dari rangka kuda-kuda dengan penambahan satu elemen atap yang disebut Jure atau Jurai.

Struktur kuda-kuda di rumah Gudang bersistem cukup kompleks. Alasannya, karena terdapat 2 buah batang tekan miring yang saling bertemu pada sebuah batang tarik tegak yang disebut Ander. Sistem seperti ini tidak ada pada rumah-rumah tradisional lainnya di Indonesia.

Maka, dapat dipastikan bahwa bangunan-bangunan yang dahulu dibangun di Jakarta telah mengetahui sistem ini dari Belanda. Lalu pada bagian depan rumah Gudang, ada sepenggal atap miring yang disebut juga Topi, Dak, atau Markis. Fungsinya adalah menahan cahaya matahari atau tempias hujan pada ruang hujan yang selalu terbuka.

Tata letak rumah ini terdiri dari ruang depan (serambi depan), ruang tengah (ruang dalam), dan ruang belakang. Dulu, ruang depan berisi balai-balai, namun sekarang umumnya berisi kursi dan meja tamu.

Ruang tengah berisi kamar tidur, kamar makan, dan pendaringan untuk menyimpan barang seperti benih padi dan beras. Kamar tidur ada yang tertutup, ada juga yang terbuka atau tanpa dinding pembatas.

Kamar depan biasanya untuk anak perempuan pemilik rumah, sementara anak laki-laki umumnya di balai-balai serambi depan. Lalu, ruang belakang digunakan untuk memasak dan menyimpan alat pertanian seperti kayu bakar.

Zaman dahulu, rumah Gudang adalah salah satu jenis rumah adat Betawi yang banyak terdapat di pedalaman. Rumah ini tampak asli dan belum mendapat pengaruh budaya luar karena lokasinya yang terpencil.

2. Rumah Joglo

Dari namanya, rumah adat Betawi ini mendapat pengaruh kuat dari arsitektur bangunan kebudayaan Jawa. Meski begitu, tetap ada perbedaan. Rumah Joglo di Jawa memiliki sistem struktur temu gelang atau payung, sementara rumah Joglo Betawi menggunakan kuda-kuda.

Uniknya, sistem kuda-kuda di rumah Joglo khas Betawi jenisnya adalah kuda-kuda timur. Ciri khas kuda-kuda ini tidak seperti batang diagonal yang dikenalkan Belanda. Hal ini jugalah yang membedakan rumah Joglo dengan rumah Gudang.

Rumah Joglo tidak memiliki pintu belakang dan kamar-kamar. Setiap bagian rumah Joglo memiliki fungsi tersendiri. Serambi belakang untuk menerima tamu perempuan, sementara serambi depan untuk menerima tamu laki-laki.

Pada rumah Joglo, pintu masuk ada di samping rumah. Kemudian, ruang depan dan ruang utama beratapkan Joglo yang secara keseluruhan berbentuk bujur sangkar.

3. Rumah Bapang atau Kebaya

Rumah Bapang atau Kebaya adalah rumah adat Betawi selanjutnya. Rumah ini memiliki ciri khas utama yaitu bentuk atap menyerupai pelana dilipat, tetapi tidak penuh seperti potongan rumah Gudang.

Kedua sisi luar rumah potongan Bapang dibentuk oleh terusan (Sorondoy) dari atap pelana yang terletak di bagian tengah. Maka, yang berstruktur kuda-kuda adalah bagian atap pelana yang ada di tengah ini.

Selain itu, bentuk atapnya jika diperhatikan dari samping terlihat seperti lipatan kebaya, maka dikenal sebagai rumah Kebaya.

Bentuk dari rumah Bapang atau Kebaya ini simpel dan sederhana, yaitu berbentuk dasar kotak. Isinya juga sama seperti rumah biasa, ada ruang tamu, keluarga, ruang tidur, kamar mandi, dapur, dan teras.

Ciri khas rumah Kebaya adalah terasnya yang luas untuk menjamu tamu dan tempat bersantai keluarga. Dinding rumah terbuat dari panel-panel yang dapat dibuka atau digeser, sehingga rumah terasa lebih luas.

Teras ini bersifat semi terbuka, dan hanya dibatasi pagar setinggi 80 cm. Biasanya memiliki lantai lebih tinggi dari permukaan tanah, dan ada 3 anak tangga dari batu bata disemen.

4. Rumah Panggung

Rumah Panggung adalah rumah tradisional Jakarta yang berkolong tinggi. Rumah ini dikenal dengan nama rumah Panggung Betawi, salah satu contohnya adalah rumah Si Pitung yang ada di Marunda. Atap rumah ini bisa berbentuk Bapang, Joglo, dan lainnya.

Rumah Panggung di daerah pesisir banyak yang berkolong tinggi dengan tujuan menyiasati potensi banjir. Salah satu ciri khas rumah Panggung Betawi adalah Balaksuji, yaitu tangga di depan rumah yang diyakini dapat menolak bala. Selain itu, Balaksuji merupakan media untuk penyucian diri sebelum masuk ke dalam rumah.

Secara garis besar, struktur dan bentuk rumah adat Betawi dapat dibagi menjadi empat jenis di atas. Biasanya rumah Betawi berstruktur rangka kayu, walaupun di beberapa tempat bambu juga digunakan untuk bahan struktur bangunan rumah tinggal.

Umumnya, rumah adat Betawi beralaskan tanah yang diberi lantai tegel atau semen. Lalu pada struktur atap, unsurnya yang bervariasi disebabkan dari pengaruh arsitektur luar yang bermacam-macam.

Menarik ya? Bagi detikers yang bermukim di Jakarta, apakah pernah menemukan rumah adat Betawi di lingkungan sekitar tempat tinggalmu? (pal/pal)

Ranking PTN

Berikut daftar 5 Perguruan Tinggi terbaik Indonesia