Keraton Yogyakarta dan Upacaranya yang Kental Budaya Jawa

Anastasia Anjani - detikEdu
Sabtu, 20 Mar 2021 21:33 WIB
Raja Willem Alexander bersama Ratu Maxima dari Belanda mengunjungi Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat, Rabu (11/3/2020). Setibanya di Keraton Yogya, Raja dan Ratu Belanda disambut Raja Ngayogyakarta Hadiningrat, Sri Sultan Hamengku Buwono (HB) X beserta keluarga.
Foto: Pradito Rida Pertana/detikcom/Keraton Yogyakarta dan Upacaranya yang Kental Budaya Jawa
Jakarta -

Keraton Yogyakarta adalah salah satu pusat kebudayaan terkenal yang ada di Indonesia. Bangunan ini didirikan pada masa pemerintahan Sultan Hamengku Buwono I.

Keraton Yogyakarta terletak di Jl. Rotowijayan 1, Desa Kadipaten, Kecamatan Keraton, Yogyakarta. Denah keraton yakni sisi utara Jl. Ibu Ruswo, Jl. Pekapalan, Kp. Kauman, dan Jl. Agus Salim.

Sisi barat Jl. Wachid Hasyim, sisi selatan Jl. Mayjend Sutoyo dan Jl. Letjen Haryono, dan sisi timur Jl Brigjen Katamso.

Keraton berfungsi sebagai tempat tinggal raja dan kerabatnya. Namun kini fungsi Keraton beralih menjadi tempat wisata, museum pusat kebudayaan Jawa, dan tempat tinggal Sultan.

Keraton Yogyakarta memiliki banyak warisan, salah satunya yaitu upacara adat. Apa saja upacara-upacara tersebut? Berikut penjelasan upacara adat Keraton Yogyakarta dikutip dari Rumah Belajar Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan:

1. Upacara Sekaten

Sekaten adalah upacara Keraton Yogyakarta yang dilaksanakan selama 7 hari. Upacara ini sudah ada sejak zaman Kerajaan Demak. Tujuan upacara ini untuk memperingati hari kelahiran Nabi Muhammad SAW.

Sekaten berasal dari istilah credo yang dalam agama Islam berarti Syahadatain. Upacara Sekaten biasanya ditandai dengan perangkat Gamelan Sekati, KK Guntur Madu dan KK Nagawilaga dari keraton untuk ditempatkan di Pagongan Selatan dan Utara di depan Masjid Gedhe (Masjid di dalam komplek Keraton).

2. Upacara Siraman Pusaka dan Labuhan

Bulan pertama dalam kalender Jawa disebut bulan Suro. Untuk merayakan bulan tersebut keraton Yogyakarta memiliki tradisi khas yaitu upacara siraman pusaka dan labuhan.

Upacara ini bertujuan untuk membersihkan dan merawat pusaka kerajaan yang dimiliki. Upacara dilaksanakan di empat tempat dan lokasinya tertutup, hanya diikuti oleh keluarga kerajaan.

Labuhan adalah upacara sedekah yang dilakukan di dua tempat yaitu Pantai Parang Kusumo dan Lereng Gunung Merapi. Di kedua tempat tersebut benda-benda milik Sultan seperti nyamping (kain batik) dan rasukan (pakaian) dihanyutkan. Kedua benda tersebut kemudian diperebutkan oleh masyarakat.

3. Upacara Garebeg

Upacara Garebeg diadakan setiap tiga kali dalam satu tahun kalender Jawa. Tepatnya tanggal 12 bulan Mulud (bulan ke tiga), tanggal satu bulan Sawal (bulan ke 10), dan tanggal sepuluh bulan besar (bulan ke 12).

Pada hari-hari tersebut sultan berbagi sedekahnya kepada rakyat. Hal ini dilakukan sebagai wujud rasa syukur kepada Tuhan atas kemakmuran kerajaan.

4. Upacara Tumplak Wajik

Upacara Tumplak Wajik adalah acara pembuatan wajik. Wajik adalah makanan khas yang terbuat dari beras ketan dengan gula kelapa.

Upacara ini untuk mengawali pembuatan pareden dalam upacara Garebeg, dua hari sebelum upacara Garebeg. Upacara ini dihadiri oleh pembesar Keraton. Musik-musik khas budaya Jogja biasa digunakan dalam upacara ini.

Musik-musik tersebut seperti musik ansambel lesung-alu (alat penumbuk padi), kentongan, dan alat musik kayu lainnya. Setelah upacara selesai dilanjutkan dengan pembuatan pareden.

Demikianlah upacara adat khas Keraton Yogyakarta. Detikers pernah mengikuti upacara-upacara tersebut?



Simak Video "Mantul! 500 Abdi Dalem Keraton Yogyakarta Divaksin Covid-19"
[Gambas:Video 20detik]
(nwy/nwy)

Ranking PTN

Berikut daftar 5 Perguruan Tinggi terbaik Indonesia